12. Jangan Berubah Jika Tetap Menyakiti Ku

942 133 0
                                        

Matahari terlihat sedikit turun dari tempatnya. Hari ini aku pulang dengan tepat waktu, sebegitu takutnya aku membuat Vano marah dan berakhir mengulang perbuatannya kemarin.

Setelah memasuki rumah keadaan ruangan membuatku berpikir bahwa Vano sudah pulang. Sejujurnya semenjak ia mengaku berhenti dari pekerjaannya sebagai kurir obat terlarang aku tidak tau apa yang dilakukan Vano. Dia tidak pernah bercerita dan aku tidak bertanya.

Suasana rumah terlihat sepi tanpa adanya aktivitas apapun dari sang pemilik, membuatku berpikir bahwa Vano pasti berada dikamar. Walaupun sudah berusaha namun ternyata aku masih belum siap untuk bertemu dengannya. Rasa ketakutan dan marah bercampur menjadi satu. Maka dari itu aku memutuskan untuk berjalan kearah dapur dan mendudukkan diriku dikursi.

Tidak ada yang kulakukan selain berdiam diri dan sibuk dengan pemikiran-pemikiran yang terus berputar dalam otakku.

Tak berselang lama, suara derap langkah kaki menghancurkan lamunanku. Tapi aku tidak mengalihkan pandanganku pada sumber suara itu. Aku tetap menatap lurus entah pada apa perhatianku kuberikan. Hatiku terlalu sakit mengingat dengan teganya Vano memaksaku untuk berhubungan badan. Apa dia kira aku seorang pelacur? Pelacur pribadinya yang menjadi pelampiasan akan emosi kemarahannya.

Sebelah sudur bibirku terangkat tipis, sungguh malang sekali nasibku jika Vano benar-benar berpikir demikian disaat perasaanku tidak memiliki kecacatan padanya.

"Jane, kau sudah pulang?" Tanya Vano saat mendekatku.

"Jangan berbicara padaku" Ucapku dalam hati.

Suara Vano terdengar lembut, suara yang biasa ia gunakan saat berbicara denganku kecuali kemarin malam. Dia berbicara seakan tidak terjadi apa-apa diantara kami. Dimana desisan tajamnya? Dimana bentakan yang dia gunakan kemarin saat emosi?

"Bagaimana dengan cafe hari ini? Apakah David menyuruhmu bekerja keras seperti biasanya?"

"Diamlah, aku tidak ingin mendengar suaramu"

Aku masih terpaku ditempatku dengan pandangan yang sama. Bibirku enggan membuka untuk membalas pertanyaan yang mungkin biasanya aku dengan suka hati menjawab.

"Aku akan mendatanginya karena berani-beraninya dia membuat kekasihku kelelahan. Dia kan punya karyawan lain selain mu"

Aku tau jika Vano hanya berbicara omong kosong. Dia hanya mencari-cari topik pembicaraan agar tetap berinteraksi denganku. Tapi aku tak peduli dengan apa yang dilakukannya sekarang.

Vano berjalan mendekat dan berhenti tepat disamping perempuan itu. Matanya memindai wajah sang kekasih yang terlihat datar. Dan hal itu menghantarkan kesakitan dalam hatinya. Sekarang bahkan untuk menatapnya pun Jane tidak sudi.

"Kau pulang jam berapa? Maaf aku tidak menjemputmu tadi karena ada sesuatu yang harus ku kerjakan"

"Aku tak peduli" Sinisku dalam hati.

Aku masih menampilkan wajah datarku dan berperilaku seolah presensi Vano tidak berada disekitarku.

Rahang Vano mengeras, ia merasa marah pada dirinya sendiri. Ia mengingat perlakuan bejatnya kemarin malam pada Jane.

Bagaimana dia bisa memaksa Jane untuk berhubungan badan. Vano memperkosanya. Ya, dia memperkosanya kamarin tanpa memperdulikan kesakitan wanita itu.

Inilah yang ia takutkan sejak dulu, emosinya akan tidak stabil jika menyangkut orang-orang terkasihnya. Dan bodohnya lagi ia membuat Jane menjadi korban dari perilakunya itu.

Padahal ia sudah mencegah untuk membuat perilaku tidak terkontrolnya itu tidak muncul. Tapi pengendaliannya belum begitu baik hingga pada akhirnya ia lepas kendali. Bodoh... Bodoh sekali kau Van....

1. LOVELY (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang