"Jane...."
Aku mengalihkan perhatianku pada sumber suara yang berasal dari samping kananku. Aku melihat David yang sedang menyelipkan kedua tangannya pada saku celana miliiknya.
Kaki ku berpindah dua langkah untuk memberi jarak diantara kami.
Ya, akhir-akhir ini aku memang membatasi diri untuk berinteraksi dengan David. Aku takut jika Vano akan kembali marah apabila aku terlalu dekat dengan dengan bosku.
David melihat langkah Jane yang terlihat menjauh menjaga batasan diantara keduanya. Seakan Jane tidak ingin terlalu dekat dengannya. Entahlah ia tidak tau mengapa Jane menjadi seperti ini.
"Iya Dav? Kau membutuhkan sesuatu dariku?" Jawabku dengan tanda tanya.
Hatimu... Ingin rasanya David mengatakan itu. Namun ia tidak bisa.
David menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang membuatnya menghampiri salah satu karyawan cafenya ini. "Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu Jane..."
"Katakan saja Dav, kenapa kau harus bertanya seperti itu terlebih dulu"
"Baiklah Jane... Aku tak tau entah ini hanya firasatku saja atau bukan, karena aku merasa kau seperti menjaga jarak denganku..." Jelas David.
Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya. Padahal beberapa hari ini aku sudah membuat perilaku ku agar tidak begitu ketara tapi bagaimana David masih bisa mengetahuinya.
Ku pertahankan raut wajahku agar tidak membuat David curiga. "Tidak Dav, mungkin itu hanya perasaanmu saja" Jawabku singkat.
David menghempuskan napas pelan. "Ya, mungkin ini hanya firasatku saja. Tapi kau tau Jane, biasanga firasatku tidak pernah salah"
Kulepaskan kekehan kecilku namun canggung. "Dan kali ini firasatmu itu sedang tidak bekerja Dav..."
"Hmmmm... Sepertinya..." Jawab David walaupun seakan masih ada yang mengganjal disana.
"Ingin pulang bersama?" Tawarnya mengubah pembicaraan. "Kebetulan setelah ini aku juga akan pulang, aku tinggal mengunci cafe nya"
Aku menengok kekanan dan ke kiri kearah jalan raya yang ada didepanku. "Tidak Dav, terimakasih... Vano akan menjemputku setelah ini..."
"Tapi yang kulihat kau sudah menunggunya disini terlalu lama Jane. Apa kau yakin dia tidak lupa?"
Aku menimbang sedikit ragu. Aku percaya Vano tidak akan lupa, tapi jika ia memiliki urusan mendadak dan tidak sempat menghubungiku itu beda perkara. Karena aku sudah menunggunya hampir 30 menit didepan cafe.
Mungkin pulang bersama David tidak apa, tapi bagaimana dengan Vano nanti? Entahlah sepertinya aku perlu memikirkan alasan yang tepat agar tidak memicu emosi Vano kembali.
Aku memutar kepalaku untuk menatap David lalu menggerakkannya keatas dan kebawah. "Sepertinya memang Vano ada urusan..."
"Aku bisa mengantarmu dengan mobilku Jane... Ayo..." Ajaknya.
Sudah ku putuskan untuk pulang bersama David. Namun setelah beberapa langkah mengikuti lelaki itu aku mendengar suara motor dengan seseorang yang memanggilku.
"Jane...!!" Panggil suara seseorang yang kukenal dengan sedikit berteriak.
Aku menghentikan langkahku lalu melihat Vano yang sudah berada di samping jalan dengan motor yang masih menyala.
"Maaf Dav, sepertinya tidak jadi. Vano sudah menjemputku..."
"Iya Jane, tidak apa..."Jawabnya tidak rela.
David pergi meninggalkan Jane setelah memberi senyuman tipis pada Vano. Ada rasa kecewa dihatinya. Susah sekali membuat Jane memandangnya, padahal ia tidak kekurangan satu hal pun.
Tapi bukankah cinta tidak membutuhkan alasan? Tidak peduli dengan kesempurnaan yang kau miliki, tapi ketika hati tidak berlabuh maka semua itu akan percuma.
Aku berjalan mendekat ke arah Vano berada. Ku berikan senyuman terbaikku padanya.
"Dia mengganggumu?" Tanyanya.
"Tidak, dia hanya menawarkan tumpangan Van..."
"Aku tidak suka melihatmu berdekatan dengannya. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?" Ucapnya tak suka.
"Iya Van, maafkan aku..." Balasku pasrah. Aku tidak ingin beradu argumen dengan Vano dan membuat kami bertengkar.
"Bisakah kau sedikit saja-"
Belum sempat Vano menyelesaikan ucapannya, aku mengeluarkan suaraku untuk menyelanya. "Tidak bisakah kita lanjutkan dirumah saja Van, aku benar-benar sangat lelah sekarang"
Vano menghembuskan napas keras lalu mempersilahkanku untuk naik keatas motornya. "Naiklah..."
***
Aku melihat sekeliling pemandangan jalan, satu hal yang membuat alisku berkerut. Ini bukan jalanan yang biasa kami lewati untuk pulang.
Ingin ku bertanya pada Vano, namun ia sedang fokus mengendarai motor jadi aku tidak ingin menganggu konsentrasinya. Mungkin saat berhenti nanti akan kutanyakan.
Setelah beberapa lama Vano memarkirkan motornya didepan sebuah salon tato. Dahiku mengernyit, apa yang sedang dilakukannya disalon tato? Dan mengapa salon tato itu masih buka di jam yang sudah sagat malam bagi sebuah toko untuk buka?
"Ayo Jane..."
Vano mengajakku turun dan mengikutinya.
"Hai Van... Kau sudah membuatku menunggumu sangat lama" Sambut seorang lelaki dengan umur yang terlihat hampir sama dengan kami. "Ohh, siapa wanita dibelakangmu itu?"
"Dia Jane kekasihku, dan Jane dia Gavin temanku" Jawab Vano sekaligus mengenalkan kami berdua.
"Dia terlihat sangat cantik Van" Puji Gavid.
"Hati-hati dengan pandanganmu, sebelum aku membuatmu buta dengan jariku" Balas Vano dingin.
"Woww... Chill dude... Lagian aku bukan tipe yang mengambil milik orang lain, kecuali jika ia mau" Balasnya menggoda Vano.
"Kau sudah menyiapkannya Gav?" Ucap Vano membicarakan hal yang lainnya.
Ngomong-ngomong lelaki itu adalah Gavin, teman Vano yang baru pertama kali ku ketahui. Sepertinya aku memang masih mengetahui beberapa hal saja mengenainya. Bahkan temannya saja aku tidak begitu tau.
"Tentu, kau ingin melakukannya sekarang?"
Vano mengangguk, namun sebelum mengikuti Gavin yang sudah masuk ke sebuah ruangan aku mencekal tangannya dan membuat Vano berbalik menatapku.
"Kau mau apa Van? Apa yang akan kalian lakukan?" Tanyaku penasaran sekaligus khawatir jika mereka berdua akan melakukan hal yang buruk.
"Tenanglah Jane, aku tidak akan melakukan hal seperti yang kau takutkan. Aku hanya akan membuat sebuah tato" Jawabnya membuatku tenang. Namun satu hal terlintas dipikiranku. Sepertinya aku ingin membuat tato juga.
"Bagaimana jika kita membuat tato kembar Van? Semacam- tattoo couple?" Tawarku membuat Vano tidak percaya.
"Kau benar mau? Tidak masalah jika jarumnya membuat kulitmu sakit?" Tanya Vano memastikan.
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak masalah Van, bukankah untuk mendapatkan sebuah keindahan kita harus melalui proses yang menyakitkan terlebih dulu"
"Baiklah... Kita buat tattoo couple..."
KAMU SEDANG MEMBACA
1. LOVELY (COMPLETED)
ChickLitDua manusia yang mencoba untuk saling menyembuhkan satu sama lain Start : 20 Oktober 2020 End : 21 November 2020 Hope you can enjoy this story 🍒 Photo source from google
