22. Berusaha Mengeraskan Hati

974 112 14
                                        

Seorang lelaki tengah berjalan teramat pelan menghampiri ranjang dengan seorang wanita yang tertidur diatasnya. Ia takut akan menganggu tidur lelap sang kekasih. Ia takut jika melihatnya sang kekasih akan menatapnya dengan penuh benci. Karena ia tau bahwa Jane membencinya.

Vano duduk disamping sisi Jane yang sedang terlelap. Ia memposisikan dirinya dengan sangat hati-hati demi meminimalisir guncangan yang akan terjadi.

Matanya memandang wajah Jane yang tengah terlelap dengan damai. Perlahan tangannya terulur untuk mengelus pipi kiri Jane yang menjadi korban kebodohannya beberapa hari lalu.

"Kau pasti kesakitan kan sayang..." Ucapnya lembut nan sendu. "Maaf....Aku menyakitimu lagi..." Tangannya masih membelai lembut pipi sang kekasih.

"Maaf selalu menjadi sumber rasa sakitmu..."

Bodoh... Bodohnya ia melakukan kesalahan lagi disaat Jane telah memberikan kesempatan atas kebodohan sebelumnya.

Ingin rasanya Vano membalas apa yang telah ia lakukan ke Jane pada dirinya sendiri. Tapi sayangnya hal itu percuma karena tidak akan merubah kebencian Jane padanya. Sekarang alasan apa lagi yang akan diberikannya agar Jane dapat memaafkannya? Tidak ada. Jane sudah bosan dengan perilakunya yang tak terkontrol.

"Haruskah aku melepasmu sayang...? Tapi sungguh aku tak bisa, maafkan aku... Aku tidak bisa melakukannya... Ku mohon bertahanlah disisiku... Jangan meninggalkanku karena aku tak tau bagaimana caraku hidup jika kau tak ada sayang..."

Vano mengecup pelan puncak kepala Jane sebelum keluar meninggalkan ruangan itu. Ia tidak bisa terlalu lama didalam sana karena bisa saja sewaktu-watu Jane terbangun. Ia belum siap untuk meliat mata kekasihnya. Mata yang berubah dengan tatapan penuh kebencian yang tak pernah diberikan Jane sebelumnya.

***

Ku kira aku telah mengambil keputusan yang tepat dengan keluar dari rumahku. Ku kira Vano akan menjadi tempatku merasakan bahagia. Sayangnya tidak, aku seolah terperangkap di belenggu yang sama. Rasa sakitku tidak pernah hilang, hanya pemicunya yang berbeda. Apakah rasa sakit ini akan selalu menemani hidupku?

Aku berjalan gontai keluar dari kamar mandi. Hari masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas. Tapi mualnya perutku membuatku terpaksa membuka mata dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut yang kosong.

"Sepertinya besok aku perlu membeli obat untuk lambungku yang membuatku seperti ini setiap pagi"

Entahlah akhir-akhir aku sering mengalaminya. Mungkin karena stress dan terlalu banyak pikiran hingga mempengaruhi kesehatanku.

Biasanya aku akan meminum segelas air yang sebelumnya sudah kusediakan diatas nakas untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di mulutku. Tapi sepertinya hari ini aku lupa menyiapkannya. Jadi mau tidak mau aku harus mengambilnya kedapur.

"Sial.. Bagaimana aku bisa lupa.... "

Namun saat melewati ruang TV aku melihat seseorang yang sedang tidur disofa. Ahh.... Jadi selama beberapa hari ini Vano tidur di sofa karena setiap aku terbangun dipagi hari ranjang sebelahku selalu rapi tak tersentuh.

"Jane... Jangan pergi... Jangan meninggalkanku... Kumohon...."

Aku mendengar lelaki itu menyebut namaku dalam mimpinya. Aku berjalan mendekat ke arah sofa lalu mencium bau alkohol yang menyeruak menembus indra penciumanku. Apakah dia mabuk? Apakah selama beberapa hari ini Vano selalu pulang dalam keadaan seperti ini?

"Jane... Maaf.... Jangan membenciku... Aku...hanya ingin kau cintai Jane.... " Vano meracau dalam tidurnya. Aku melihat air matanya turun disaat kedua netranya masih tertutup. Tanganku terayun hendak menghapus lelehan air mata Vano, namun setelahnya tanganku tertahan diudara karena kesadaranku telah kembali.

Tidak... Aku tidak boleh melunak hanya karena melihatnya menangis. Bukankah beberapa hari ini aku telah mengeraskan hati, jadi aku tidak boleh terpengaruh oleh air mata Vano.

Setelahnya aku meninggalkan tempat itu menuju kamar. Aku sudah tidak butuh air lagi. Aku hanya harus segera pergi dari sini sebelum membuatku merubah rencanaku yang sudah ku rancang beberapa hari ini.

Sesampainya dikamar aku meluruhkan tubuhku tepat setelah menutup pintu. Aku menangis lagi. Ku pukul dadaku untuk menghilangakn rasa sesak yang menyerang.

"Kenapa... kenapa menjadi serumit ini... Kenapa?" Gumamku dengan masih memukul dadaku.

Padahal aku berencana meninggalkan rumah ini. Tapi setelah mendengar racauan Vano tadi membuatku menjadi bimbang. Bagaimana aku bisa meninggalkannya disaat dia begitu putus asa dan hancur? Tapi apabila aku tetap tinggal aku juga akan tetap merasakan kesakitan itu.

"Apa yang harus kulakukan...? Apa yang harus kulakukan dengan semua ini...?" Kataku tergugu.

1. LOVELY (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang