4. Malam Yang Indah

1.4K 161 0
                                        

"Mau pergi ke suatu tempat?"

Aku melihat Vano yang sedang duduk disamping sisiku. Setelah ketakutannya, Vano memilih untuk menghabiskan waktu bersamaku di atas rooftop.

"Kemana?"

Vano meletakkan jari di dagunya. Berpikir kemana tempat yang akan mereka tuju nanti. "Mungkin ke sebuah tempat yang menenangkan?"

Sepertinya pergi ke suatu tempat bukan hal yang salah. Aku juga membutuhkannya untuk sejenak melupakan semuanya. "Tapi-bukankah setelah ini masih ada kuliah dari Ms. Ema?"

"Tidak masalah bukan jika kita absen sekali"

Aku tidak pernah membolos selama masa kuliah. Jadi ketika mendengar Vano mengusulkan untuk tidak mengikuti kelas Ms. Ema, itu sedikit membuatku merasa aneh.

"Apakah tidak akan membuat masalah Van?" Tanyaku. Karena jujur aku takut jika nantinya membuat orangtua ku dipanggil dan membuatku dalam masalah.

"Tentu saja tidak Jane. Menurut peraturan yang ada kita memiliki beberapa kali kesempatan untuk tidak mengikuti kelas. Jadi jika kita absen hari ini tentu bukan suatu masalah"

Aku membelakkan mataku. Bagaimana bisa aku baru mengetahui ada peraturan seperti itu.

"Tunggu sebentar..." Vano berucap yang membuat perhatianku kembali fokus padanya. "Jangan bilang kau baru tau tentang itu" Vano terlihat tidak percaya dengan kebenaran yang dia dapat.

Aku mengangguk tanpa ragu karena memang itulah yang sebenarnya. "Aku baru mengetahui ketika kau mengatakannya barusan"

"Wahh.. Kau memang tidak dapat dipercaya Jane. Benar-benar seorang mahasiswi teladan" Vano merasa takjub dengan perempuan yang ada didepannya itu. "Jadi-apa keputusanmu Jane?"

Setelah beberapa kali menimbang, akhirnya aku bisa membuat keputusan. "Sepertinya tidak mengikuti kuliah Ms. Ema sekali tidak apa" Akhirnya aku memutuskan untuk sedikit melanggar aturan. Dan sepertinya akan menyenangkan.

"Kalau begitu tunggu apalagi. Ayo Jane...!!" Vano berucap riang lalu menarik tanganku. Sepertinya dia sudah tidak sabar.
***
Aku sedang berada dibelakang Vano, lelaki yang sedang sibuk memperhatikan jalan. Dia berkendara dengan hati-hati walaupun tidak juga dikatakan pelan. Kedua tanganku berpegangan erat pada pinggang Vano. Hanya berpegangan disamping, tidak melingkar.

Mataku memindai pemandangan hijau yang menyertai perjalanan kami. Entahlah kemana Vano akan mengajakku tapi melihat jalan yang tidak terlalu lebar dan samping kanan dan kiri yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau membuatku berasumsi bahwa Vano akan membawa kami ketempat yang asri.

Jalanan terus menanjak dan sesekali meningkung. Apakah kita akan ke suatu tempat yang tinggi? Sepertinya iya. Untuk sekarang aku tidak ingin bertanya, aku takut mengganggu konsentrasi berkendara Vano.

Tak terasa setelah hampir 4 jam kami telah sampai ditempat tujuan. Aku mengikuti gerakan Vano yang turun dari motornya tak lupa ku lepaskan helm yang ada dikepalaku.

"Kau mengajakku melakukan perjalanan sangat jauh hanya untuk-melihat bukit?" tanya ku tidak percaya. Bagaimana mungkin kami menghabiskan waktu hampir 4 jam hanya untuk berada di sebuah bukit seperti ini. Bahkan tak ada alat penerang selain cahaya bulan dan lampu motor Vano.

"Tenang Jane, ini masih belum selesai. Kita perlu berjalan sedikit lagi untuk melihat keindahan kota"

Mataku menyipit. Bagaimana bisa melihat keindahan kota sedangkan kami berada di atas bukit seperti ini?

"Ayo.." Ajak Vano sembari menggandeng lembut tanganku. Mau tidak mau aku mengikuti langkahnya.

Setelah beberapa langkah Vano menghentikan langkahnya membuatku melakukan hal yang sama. Namun satu hal yang mencuri perhatianku adalah pemandangan yang ada di depan mataku.

1. LOVELY (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang