11. I'm Okey But Not Okey

1K 131 2
                                        

Vano menarik tubuhku sangat kasar, aku pun tidak tau mengapa Vano berubah semenakutkan ini. Matanya yang mengkilap tajam dan rahangnya yang terlihat mengeras menahan emosi. Apakah memang ini sisi lain dari lelaki itu yang tak ku ketahui?

Apa salahku? Apa salahku hingga Vano berperilaku seperti itu padaku. Aku tidak merasakan melakukan kesalahan selain pulang terlambat. Tapi bukankah aku juga memiliki alasan untuk itu.

Pemikiranku meluruh bersamaan dengan air pancuran yang mengguyur tubuhku dengan masih terbungkus lengkap oleh pakaian yang kukenakan.

Seketika tubuhku merasa kedinginan karena suhu air di malam hari yang turun. Aku tidak sempat untuk memprotes ketika dengan kasarnya Vano merobek kemejaku dengan tangannya yang kekar. Lelaki itu melakukannya tanpa kesulitan sedikitpun seakan pakaianku hanyalah selembar kertas tipis yang mudah disobek.

Tak berhenti disitu, Vano mendorongku hingga punggungku menabrak dinding kamar mandi yang keras. Hal itu membuat bibirku sedikit terbuka dan melenguh kesaikitan.

Setelahnya aku merasakan sakit dirahangku karena cengkraman Vano yang begitu kuat seakan ingin meremukkan wajahku. Bola mataku melebar ketika sebuah bibir menciumku sangat kasar.

Tangannya yang lain bergerak menyusuri tubuhku untuk melepaskan pakaian yang masih tersisa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tangannya yang lain bergerak menyusuri tubuhku untuk melepaskan pakaian yang masih tersisa. Hingga tubuhku benar-benar polos tanpa tertutup sehelai benang pun.

Aku tidak suka. Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Aku bukan wanita murahan hingga pantas mendapatkan perlakuan hina yang dilakukan Vano.

Air mataku turun perlahan bercampur dengan guyuran air yang masih membasahi tubuh kami berdua.

Bibirku masih terkunci dengan teramat rapat seolah tidak menerima cumbuhan yang Vano berikan dan hal itu membuat Vano semakin kesal terlihat dari geraman lelaki itu.

Sayangnya Vano memiliki berbagai cara untuk melancarkan aksinya. Ia menggigit kuat bibir bawahku hingga membuatku mendesis kesakitan. Aku merasakan sesuatu yang anyir berada didalam mulutku. Sesuatu yang dapat kupastikan adalah darah yang bersumber dari bibirku sendiri. Dan itu diakibatkan oleh Vano.

"Van don't do this....." Pintaku padanya memohon. Aku memberikan sinyal padanya untuk berhenti dengan aksinya. Namun sayangnya sinyal itu tidak ditanggapi oleh Vano.

"Aku tidak akan berhenti, ini adalah hukumanmu Jane..." Balasnya dingin.

Setelahnya Vano membalikkan tubuhku hingga berhadapan dengan dinding keramik kamar mandi. Tanganku berada dibelakang tubuh dengan cengkraman kuat dari Vano.

Aku tidak bisa melakukan apapun selain menangis. Memberontakpun semuanya percuma. Vano akan semakin marah dan perilakunya akan lebih tidak terkendali nanti.

"Van please... I'm sorry...." Pintaku terisak dengan suara memohon. Berharap Vano akan berubah pikiran.

"Just shut up and enjoy your punishment Jane"

1. LOVELY (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang