13. Dua Orang Yang Hancur

961 128 11
                                        

Sudah hampir 15 menit Vano berdiri didepan pintu kamarnya. Setiap hendak membuka kenop pintu ia selalu mengurungkannya. Ia takut keberadaannya nanti akan membuat Jane semakin murka.

Tapi lebih dari itu, ia lebih takut apabila Jane akan meninggalkannya. Dan hal itu pula yang membuat Vano akhirnya memberanikan diri untuk memutar kenop pintu.

Seperti dugaannya Jane masih terjaga. Perempuan itu tengah duduk memandang kearah luar jendela yang terbuka.

Jane sempat sekilas membalikkan kepalanya untuk menatap kearah pintu namun dengan cepat mengalihkan perhatiannya menuju arah jendela kembali.

Disaat itu Vano dapat berasumsi bahwa Jane baru saja selesai menangis, terbukti dengan mukanya yang sembab dan matanya yang bengkak.

Perlahan Vano berjalan mendekati arah ranjang. Ia sedikit ragu sesaat sebelum mendudukkan tubuhnya disamping Jane. Lelaki itu sedikit memberikan jarak diantara keduanya. Vano tidak ingin membuat Jane tidak nyaman dengan keberadaannya.

Vano memejamkan matanya sebentar sebelum membukanya perlahan. Ia berniat untuk mengungkapkan suatu hal yang sudah disimpannya sejak lama. Sesuatu yang tidak pernah ia ungkapkan pada teman-temannya selama ini. Suatu hal yang ia harap tidak terjadi pada dirinya namun rencana Tuhan berkata lain.

"Jane...." Panggilnya pelan.

Vano melihat reaksi wanita itu yang sayangnya Jane tidak menunjukkan apapun. Hatinya sedikit sakit tapi tak apa, semua ini salahnya dan ia pantas untuk diperlakukan seperti itu.

Lelaki itu tersenyum getir. Namun ia harus tetap melanjutkan niatnya.

"Kau tau, dulu terdapat pasangan suami istri yang saling mengasihi satu sama lain dan kebahagiaan mereka bertambah dengan kehadiran sosok putra ditengah-tengah keduanya"

Vano menjeda sebentar untuk menghirup napas dan menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh.

"Setelah beberapa tahun berlalu, lelaki kecil itu sudah beranjak remaja dan semuanya berubah. Tidak ada kasih sayang yang selama ini lelaki kecil itu dapatkan. Dia hanya melihat pertengkaran orangtuanya setiap hari. Dia begitu ketakutan hingga setiap orangtuanya bertengkar lelaki kecil itu selalu bersembunyi didalam lemari dan menangis tanpa suara"

Vano kembali berhenti untuk mengingat masa-masa yang ingin ia lupakan namun nahasnya malah membekas sangat jelas dibenaknya.

"Tidak berhenti sampai disitu Jane, semuanya semakin parah ketika sang ayah membawa perempuan lain ke rumah dan menendang lelaki kecil itu keluar bersama sang ibu. Mereka berdua berusaha untuk kuat menghadapi kenyataan yang ada. Sang ibu mulai mencoba mencari pekerjaan hingga bisa membeli sebuah rumah sederhana untuk keduanya"

Aku mulai tertarik mendengar apa yang diceritakan Vano. Entah mengapa hatiku juga merasa perih dengan apa yang dialami oleh lelaki kecil itu dengan ibunya. Ayah mereka benar-benar brengsek yang dengan teganya mengusir dua orang yang selama beberapa tahun terakhir menemani hidupnya hanya karena seorang wanita baru.

"Sayangnya.... Ibu.... Ibu tidak sekuat itu Jane...."

Vano mulai menintihkan air matanya. Ingatan-ingatan itu masih memberikan efek sedemikian luar biasa pada hatinya.

Aku memutar kepalaku untuk melihat Vano yang sedang menangis sembari tersenyum pedih.

"Ibu... Dia sudah tidak kuat untuk memendamnya sendiri. Hingga suatu waktu ia.... ia memilih meninggalkanku dengan menggantung dirinya sendiri Jane... Aku....aku melihatnya Jane...."

Vano menangis, ia tidak peduli jika Jane akan menganggapnya lemah ataupun cengeng. Karena hatinya begitu sakit jika mengingat waktu yang begitu berat untuk dihadapinya.

Dan sejujurnya pun Vano tidak tau apa yang membuatnya kuat hingga sekarang karena semua yang terjadi begitu menyakitkan.

Seketika kesadaranku seakan dihantam oleh benda yang amat berat. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak mengira jika lelaki kecil yang diceritakan Vano adalah dirinya sendiri.

Aku tidak menyangka bahwa masa lalu lelaki itu sangatlah kelam bahkan melebihi ku. Entahlah jika menjadi Vano aku pasti tidak akan bertahan sampai sekarang.

"Aku melihatnya Jane... Saat pulang sekolah aku melihat ibu tergantung dalam tali yang terlilit dilehernya... Aku melihatnya Jane.... Aku melihatnya...." Tangisan Vano terdengar semakin pilu di telingaku.

Akupun membeku mendengarnya. Aku bahkan terlalu kaget untuk mengeluarkan kata agar bisa menenangkan Vano.

"Sayangnya semua itu belum selesai Jane.... Beberapa hari setelah sepeninggalnya ibu, beberapa orang deptcollector mendatangiku dan mengancam untuk menyita rumah. Hal itu karena ayah... Ayah melarikan diri dan meninggalkan hutang-hutangnya pada ibu karena saat itu mereka belum bercerai. Dan- karena itulah aku menjadi kurir narkoba Jane... Aku melakukannya untuk mencicil hutang ayah yang tidak sedikit itu Jane... Demi mempertahankan rumah ini... Rumah yang penuh kenangan dengan ibu.... Peninggalan ibu satu-satunya Jane..."

Aku masih terdiam ditempatku. Namun air mataku mulai menetes tanpa kuduga. Sekarang tidak ada lagi rasa marah dalam diriku. Semua itu melebur karena cerita pilu yang diungkapkan oleh Vano.

"Kenapa Tuhan sangat kejam padaku Jane... Tuhan mengambil semua kebahagianku.... Kenapa Jane...."

Tanpa berpikir panjang aku membuang kemarahanku pada Vano dan memeluknya erat. Vano masih menangis dan membalas pelukanku dengan menyandarkan kepalanya di pundakku yang tidak begitu lebar.

"Maafkan aku Jane... Aku sudah membuatmu terluka.... Emosiku memang tidak stabil Jane...."

Vano memelukku semakin erat.

"Shh... Sudah Van... Aku juga minta maaf karena tidak berguna untukmu...." Ucapku untuk membuatnya berhenti menangis tapi aku malah ikut menangis bersamanya.

"Aku takut kau meninggalkan ku dan memilih bersama David yang sejatinya lebih sempurna daripada seorang lelaki dengan masa lalu yang rusak seperti ku Jane.... Ku mohon jangan tinggalkan aku Jane.... Aku takut..."

Vano menguraikan pelukan kami lalu tanpa kuduga berlutut menggunakan kedua kakinya sebagai tumpuhan. Sedangkan tangannya berada dipahaku dan menenggelamkan wajahnya disana.

"Maafkan aku Jane... Jangan tinggalkan aku.... Kumohon...." Vano benar-benar merasa bersalah pada Jane. Tapi ia dengan tidak tau dirinya meminta wanita itu untuk tetap berada disisinya.

Aku pun membawa tubuhku menuruni ranjang dan terduduk dilantai bersama dengan Vano yang masih menangis sesenggukan.

Tanganku membelai lembut belakang kepala Vano. Air mataku turun semakin deras mendengar lelaki yang kucintai ternyata sedemikian hancur.

"Tidak Van... Aku tidak akan meninggalkanmu.... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu... Aku berjanji...."

Seakan tidak mendengarkan atas jawabanku Vano tetap menggumamkan permintaan maafnya yang seperti sebuah pisau belati teramat tajam yang menyayat hatiku.

"Maafkan aku Jane.... Aku mohon ampun.... Ampuni aku Jane...."

Aku sudah tidak sanggup berucap apapun lagi, sehingga yang ku lakukan hanya memeluknya erat dan membiarkan Vano terus mencurahkan perasaannya 

Hari ini aku tau bahwa kami berdua hanyalah dua orang yang mencoba untuk menyembuhkan luka satu sama lain. Luka masa lalu yang disebabkan oleh kedua orang tua kami.

Dan mulai detik ini aku akan belajar untuk lebih memahami perasaan Vano dan menjaga hubungan kami. Karena hanya dialah tempatku pulang. Vano adalah rumahku.

*How? Do you feel the emotion? Because i was crying when wrote this chapter

1. LOVELY (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang