Sepuluh

2.1K 255 20
                                        

Danu memandangi langit-langit atap rumah mereka. Siang ini entah mengapa Danu merasa sangat-sangat sendirian. Padahal biasanya Danu juga selalu ditinggal seperti ini.

Lagi-lagi entah untuk keberapa kalinya, Danu menghembuskan nafasnya resah. Sesuatu di dalam hatinya memberontak seperti ingin dilepaskan.

Selama ini, Danu selalu bersikap sebagai anak yang baik dan adik yang baik. Danu berusaha untuk tidak mengeluh agar kedua kakaknya tidak merasa kerepotan. Danu berusaha mengurus dirinya sendiri. Tidak pernah meminta hal macam-macam.

Tapi Danu lelah. Danu lelah bersikap baik-baik saja. Bersikap seolah hatinya baik-baik saja. Selama hidupnya, Danu tidak pernah merasakan berada di dalam keluarga yang benar-benar lengkap.

Dulu saat ibunya masih ada, waktunya lebih sering dihabiskan untuk bekerja di sebuah perusahaan. Ayah, dari dulu Danu tidak pernah merasakannya. Mungkin tidak ingat.

Tapi Danu tau, dia pasti memiliki seorang ayah. Ayahnya pasti berada di luar sana. Dan Danu percaya suatu saat ayahnya akan datang menjemput mereka.

Merasa bahwa dia terlalu keras untuk mengarungi dunia khayal, Danu bangkit dari tidur ayamnya. Danu mengambil handuk. Rasa gerah di siang hari seperti ini sangat mengganggu. Kipas angin mati, maka Danu hanya bisa mandi untuk mendinginkan pikiran.

Saat Danu akan keluar dari kamar mandi, pintu rumah diketuk cepat. Memang tadi Danu mengunci pintu dari dalam. Untung saja Danu sudah membawa pakaian ganti ke kamar mandi dan sekarang dia sudah berpakaian.

Danu membuka pintu tanpa melihat siapa gerangan yang datang, dan terkejut saat sebuah tubuh yang tersender lemah tiba-tiba menubruk tubuhnya.

"Devan? Kak dev?... bangun. Berat kak"

Saat Danu mengangkat wajah kakaknya itu, Danu terperangah saat melihat wajah Devan yang penuh dengan luka lebam.

"Kak Dev apa-apaan sih mukak lo!?!?!"

"Arghh sakit banget dan". Devan mengeluarkan ringisannya. Rasa-rasanya tadi tulang hidungnya patah akibat bogeman mentah orang kurang kerjaan di kampusnya.

Danu memapah Devan setelah menampar pelan wajah Devan kesal. Kakaknya itu, benar-benar. Arghh

Danu membaringkan tubuh jangkung itu di kursi. Mengambil kompres di dapur dan sebuah baskom berisi air.

Saat akan menempelkan handuk kecil itu, Devan menatap Danu lemas.

"Kasih air minum dulu kek dek. Haus nih"

"Bangke." Namun Danu tetap mengambil air dari dapur. Memberikannya kepada Devan yang diteguk langsung hingga habis oleh si tersangka.

Danu melanjutkan kegiatannya.

"Aw aw aw pelan-pelan dong Danur. Perih banget bego"

Danu tidak memperdulikan ringisan kakaknya itu. Malah, Danu semakin menempel keras handuk basah itu sambil membersihkan noda-noda dari wajah kakaknya.

"Kak sekarang apalagi sih ini? Kenapa setiap hari gak pernah tentram banget sih ini rumah"

"Iya iya maaf. Tadi ada yang gangguin gue di kampus". Ucap Danu sambil menerawang langit-langit rumahnya sambil sebelah tangannya mengusap sebagian wajahnya.

"Kalau kak Randi tau lo babak belur gini gimana kak? dia pasti sedih banget"

Devan hanya terdiam memikirkan itu. Iya juga,  Devan juga tadi ragu pulang ke rumah dengan keadaan seperti ini. Bukannya gimana, tapi kakaknya yang paling perhatian itu pasti kecewa lihat perangai Devan.

"Apa, gue kabur aja hari ini ya dan. Bilang aja gue nginep di rumah temen"

"Bangs*t". Devan menyumpah saat Danu menekan dalam wajahnya dibagian yang tergores. Benar-benar sakit.

"Makan tuh  sakit. Kabur kabir segala lo. Laki dong! Berani berbuat berani tanggung jawab!"

"Sakit banget bego"

"Bodo"

Devan menghembuskan nafasnya.

"Ah udahla Dan gue pusing. Capek banget. Gue mau tidur bentaran. Bangunin gue sebelum kakak pulang ya"

Danu hanya mengiyakan dengan anggukan walaupun Devan sudah menutupkan matanya.

Danu memandang wajah kembarannya itu. Jika dilihat-lihat, wajah Devan lebih banyak miripnya dengan Randi dibanding dirinya sendiri.

"Wajah bokap kita mirip siapa ya kira-kira Dev?"

Devan yang tadi akan berjalan-jalan di dunia mimpi langsung membuka matanya. Lah, tumben-tumbenan banget Danu bahas begituan.

"Lah ngapa lo dek? Kangen?"

"Gimana mau kangen. Ketemu aja kita gk pernah"

"Lah terus?"

"Yah gue bingung aja Dev. Kita bahkan gak tau wajah bokap. Kita gak tau apa-apa deh pokoknya. Gak tau juga doi masih ada atau udah di alam baka. Yah gue kan jadi bingung"

"Iya, kenapa sekarang lo nanyain gituan?"

"Ah tauk ah lo mah kalo diajak ngomong  jadi gak jelas". Danu berlalu pergi ke dapur. Mengisi kembali gelas yang tadi dipakai oleh Devan.

"Dih, dianya yang gajelas malah nyalahin gue"

Danu meneguk perlahan air minum dari gelasnya. Sementara Devan ikut-ikutan menatap adiknya itu tidak jadi tidur.

"Kalau menurut elo dek, bokap lebih mirip ke siapa diantara kita betiga?"

"Gatau juga deh kak. Tapi gue berharapnya sih doi lebih mirip ke kak Randi deh. Soalnya gini. Diantara kita bertiga kan yang paling oke visualnya cuma kak Randi. Coba aja kalau doi mirip ke elu, aduh ampun deh jeleknya. Ga habis pikir gue"

"Sialan. Ngajak ribut lo!?!?"

"Itu fakta kakakku sayang"

"Najis"

Mereka kembali terdiam bersama-sama. Setelah dua puluh tahun hidup tanpa sosok seorang ayah mengapa baru sekarang mereka mempermasalahkannya?

Devan membuka suaranya, masih penasaran dengan topik yang tadi dibawa-bawa oleh Danu. Tanggung juga jika berhenti di tengah jalan.

Jarang sekali mereka membicarakan seperti ini.

"Kalau misalnya nih ya dan, doi datang ke kita. Lo terima?" Tanyanya dengan ragu.

Danu tampak berpikir panjang. Benar, jika ayahnya memang benar-benar datang suatu saat apakah dirinya akan bisa menerima begitu saja?

"Gue sebenarnya pengen banget Dev ketemu sama papa kita. Gue pengen tau rasanya punya papa. Dari kecil, temen-temen gue selalu aja diantar bokapnya kemana-mana. Kalau sakit, pasti bokap nya jemput dari sekolah. Lah gue, hampir mati aja cuma ada elu sama kak Randi"

Devan tidak menyanggah. Berniat mendengar seluruh penjelasan yang keluar dari mulut sang adik.

"Tapi gue juga gak mau egois buat diri gue sendiri. Selama ini cuma kak Randi yang ada buat kita. Kalau semisal bokap balik terus gue terima begitu aja kasian pengorbanan Kak Randi selama ini yang udah rela banting tulang. Kesannya jadi kayak, habis manis sepah dibuang"

Merasa Danu sudah selesai mengeluarkan unek-uneknya, Devan menimpali.

"Tapi Dan ada sisi baiknya juga kalau doi beneran balik. Lo mikir gak sih, kalau misalnya kita punya bokap disamping kita, kak Randi gak harus lagi banting tulang sekeras itu. Dia bisa istirahat. Nikmatin hidupnya sendiri yang selama ini terbuang gitu aja. Belum lagi elu, apalagi kalau doi ternyata banyak duitnye. Lo pasti bisa berobat ke rumah sakit besar Dan"

Danu menggeleng menyadari sesuatu di pikirannya. Menatap Devan dalam seakan menyalurkan resah dalam pikirannya.

"Enggak dev, sekalipun papa datang, gue ga bakal mau morotin dia cuma buat biaya rumah sakit gue. Gue gak mau berhutang budi sama orang asing"

Devan mengerutkan keningnya.

"Tapi kan dia bokap kita"

"Bokap mana yang datang nyamperin waktu kita udah gede gini. Dia gk pernah jadi saksi hidup kita kan? Gak pernah ada di samping kita waktu kita lagi terpuruk."

Devan terdiam. Benar. Ayah mana yang seperti itu?

Random Us [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang