Randi menatap bos nya yang sedang membaca majalah di ujung meja.
Bulan ini Randi sudah mendapat gaji yang hanya tersisa untuk keperluan makan mereka sehari-hari. Bagaimana bisa dia meminjam lagi untuk kesekian kali kepada bos tempatnya bekerja.
Tapi tak ada cara lain, Devan adiknya benar-benar membutuhkan buku tersebut. Randi akan melakukan apapun untuk mewujudkannya.
Dengan ragu, Randi berjalan ke arah bos tempatnya bekerja. Lelaki paruh baya yang tubuhnya sangat makmur.
Bos nya hanya memiliki satu anak perempuan remaja yang sering berkunjung ke tempatnya bekerja. Randi sering melihat perempuan itumencuri pandang padanya. Namun selalu Randi hiraukan.
"Permisi bos" Ucap Randi pelan.
Bos nya menatap Randi mengintimidasi. Dia bukan orang yang terlalu bermurah hati dengan mudah. Juga bukan orang yang terlalu jahat kepada orang lain.
Dengan mengusap kumisnya yang tebal, orang itu bertanya kepada Randi.
"Ya ada apa lagi kau kesini? Tugasmu sudah selesai?"
"Sudah bos. Maaf, jika aku tidak tau diri. Aku tau bulan ini kau sudah memberi gaji ku, tapi jika aku bisa meminta bantuan kepadamu lagi. Bolehkah aku meminjam beberapa uang bos?"
Pria itu terkekeh pelan. Randi sudah tidak asing untuk meminjam kepada nya. Sering sekali. Namun karena Randi yang terlihat jujur, dia selalu memberi pinjaman.
"Sekarang untuk apalagi ha?"
"Aku sedang sangat membutuhkannya bos. Aku mohon, bantulah lagi aku"
Randi menatap bos tempatnya bekerja dengan memohon. Jika dia tidak mendapat pinjaman untuk kali ini, maka dia harus meminjam kepada pemilik tempat bekerjanya yang lain.
"Aku terkadang heran padamu. Dengan gampangnya kau meminjam uang padaku, tetapi sekalipun kau tak pernah mau memberi tau alasannya. Kau ini terlalu memiliki gengsi yang tinggi ya?"
Randi menggigit bibir bawahnya pelan.
Memang benar. Randi tak pernah sekalipun memberi alasan dibalik dirinya yang meminjam uang. Randi tidak akan memberitau bahwa itu untuk adik-adiknya.
Randi bisa merendahkan dirinya kepada orang lain, tapi tidak dengan kedua adiknya.
Mereka memang susah, tapi harga diri kedua adiknya akan selalu Randi jaga sampai mati.
"Yayaya baiklah. Aku menunggumu sampai malam juga kau tak kan menjawab. Tapi kau tau kan, tempat kita ini akhir-akhir ini mulai sepi pengunjung. Kau kira aku ini sangat kaya raya? Jangan terus merampokku seperti ini anak muda"
"Maaf..."
"Berapa yang kau butuhkan?"
"Dua ratus lima puluh ribu bos, ka...kau.. bisa memotong langsung saja dari gajiku bulan depan"
Pria itu tampak menimbang-nimbang perkataan Randi dan jumlah uang yang dibutuhkannya. Baiklah, baginya dua ratus lima puluh bukan hal yang sulit.
Ketika pria itu menganggukkan kepalanya, Randi tersenyum samar.
"Yaiyalah, kau kira aku memberikan pinjaman secara cuma-cuma"
Randi tau orang dihadapannya ini orang baik. Yah, walaupun selalu berkata pedas.
"Ini, ambillah. Kulebihkan lima puluh ribu untukmu. Aku sedang bahagia. Kau tau putriku? Dia mendapat juara di kelasnya. Wah aku sangat bangga sekali"
Randi tersenyum perih.
Randi melihat gurat bangga itu secara langsung. Gurat bahagia seorang ayah yang sedang berbangga diri melihat keberhasilan seorang anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Us [TAMAT]
Cerita PendekRandi memandangi adik-adiknya malas. Seorang berada di atas kasur memegang konsol game. Seorang lagi berada di atas adiknya yang sedang bermain itu. Randi tau Devan sengaja. adiknya yang lahir 5 menit setelah dirinya itu tidak akan hidup jika tidak...
![Random Us [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/226168884-64-k386312.jpg)