Tujuh Belas

2.5K 251 41
                                        

Suasana di dalam ruangan itu seketika hening. Detak jantung mereka masing-masing tidak ada yang normal. Beradu cepat seperti di dalam arena lintasan balapan.

Danu menarik tangan Randi yang tidak jauh darinya. Menyadarkan kakaknya itu bahwa seorang Mario Andares tengah menatap ke arah mereka.

Randi tersentak pelan, kepalanya menunduk sebentar. Randi berusaha mencari kalimat sesuai yang bisa dikeluarkan dari mulutnya yang terasa membeku.

"Danu, dia bos nya kakak. Dia yang kasih kita pinjaman buat bayar rumah sakit kamu. Kasih salam Dan"

Seketika Mario yang tadinya membuncah-buncah karena bahagia tersadar akan kalimat yabg di dengarnya barusan. Ah kenapa itu terdengar sangat memuakkan.

Terdengar sangat aneh ketika Mario tau yabg mengucapkan itu adalah darah dagingnya sendiri.

Danu mengukirkan senyumnya. Wahh wah ternyata benar ya, Mario Andares itu orang paling sempurna. Tampan iya, kaya iya, berpendidikan iya, baik hati juga iya. Danu berpikir, pantas saja seorang Randi mengidolakan Mario Andares.

"Pagi err pak, nama saya Danu"

Aduduh, kenapa suasana canggung seperti ini yang tercipta. Mario tadi sudah membayangkan adegan peluk-pelukan dan menangis bersama. Kalau begini, Mario juga jadi gugup. Kenapa tadi dia tidak mendengarkan saran dari si Delon saja ya.

"Eh iya, pagi Danu." Mario menarik nafasnya. Menguatkan hatinya agar bisa menghancurkan suasana menyebalkan ini. "Kamu udah siap buat operasinya Danu?"

"Eh udah pak Mario"

"Jangan panggil saya pak ya kalau boleh. Hmm panggil aja...." panggil aja papa sayang. Sayakan papa kamu. Lanjutnya dalam hati. Dasar pengecut.

Randi yang tau bahwa lelaki itu kebingungan segera mengambil kesempatan.

"Kamu panggil om aja ya dek. Biar kakak aja yang panggil Pak"

Danu mengangguk pelan. "Ok deh kak"

Mario memikirkan judul sinetron yang membuatnya cemberut. 'Oom ku adalah ayah kandungku'

Yasudahla tak apa, lagian tidak mungkin juga Mario tiba-tiba mengatakan bahwa mereka adalah ayah dan anak. Bisa-bisa Mario dikira tidak waras.

Kakinya mendekat. Merasa lebih canggung lagi ketika sudah berada di samping Randi. Kenapa anaknya yang satu ini bisa membuatnya tidak berkutik?

"Pagi Randi". Mario berusaha mengucapkan dengan sehangat mungkin. Sekalian menenangkan hatinya yang sedang berdisko ria. Randi ini seperti salah satu manusia yang bisa mempengaruhi aura sekitar hanya dengan berduri diam dan menyaksikan.

Dan benar saja, anaknya itu hanya mengangguk pelan sekali. Mario menaikkan alisnya. Dari awal memang Randi terlihat aneh jika melihat Mario. Seperti ingin menjauh dan tidak mau berbicara banyak. Apa jangan-jangan....

Jangan-jangan Randi tau siapa dirinya sebenarnya?

Suasana semakin canggung lagi ketika pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Devan yang sudah berpakaian lengkap dan rambutnya yabg basah.

Devan jadi salah tingkah sendiri ketika semua orang di dalam ruangan itu menatapnya intens.

Devan menggaruk kepalanya lalu menyernyitkan dahi. Tunggu dulu, kenapa personil mereka jadi bertambah satu? Sudah tua pula.

"Ekhmm. Kenapa ya?"

Semuanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kecuali Danu, dia masih saja melihat Devan sambil menunjukkan tanda bahwa dia juga tidak tau.

Random Us [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang