Devan dan Randi sama-sama hanya bisa menatap lantai rumah sakit itu pasrah.
Di dalam sana, Danu mendapatkan pertolongan medis dari beberapa perawat dan juga seorang dokter.
Devan dipenuhi pikiran dengan keadaan Danu dan juga, biaya rumah sakit mereka.
Ditatapnya Kakaknya Randi sedih. Pasti, Randi juga sangat-sangat khawatir saat ini.
"Kak, gimana kita bayar rumah sakit?"
Randi tertegun. Ditatapnya Devan dalam dan berharap semua keresahan di kepalanya bisa keluar barang sejenak. Dari awal, Randi memikirkan itu. Juga memikirkan kondisi Danu.
Randi punya tabungan. Ditambah lagi dengan uang yang diberikan Danu sebagai hadiah miliknya.
Tapi uang itu, Randi tau tidak akan cukup. Sekalipun mereka puasa tidak makan untuk sebulan. Randi tau jumlah itu tidak bisa menutupi biaya rumah sakit sebesar ini.
Apalagi, penyakit Danu bukannya penyakit asal-asalan. Orang-orang seperti Danu harus mendapatkan penanganan terbaik dan alat-alat terbaik pula.
Artinya, penanganan terbaik juga berarti harga yang setimbang.
"Kakak gak tau Dev. Uang kita mungkin gak cukup kalau ditotalin semuanya."
Randi tidak bisa menutupi kegusarannya. Kali ini, Randi juga benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Randi tersesat.
Keadaan mereka saat ini bukan hanya harus memikirkan keadaan orang yang sakit. Tapi juga biaya.
Hingga beberapa saat yang sangat memuakkan, pintu unit gawat darurat itu terbuka. Seorang lelaki berjas dokter keluar dengan bulir keringat yang bercucuran.
"Keluarga pasien?"
Randi dengan sigap mendekat. Begitu juga Devan.
"Bagaimana dok keadaan adik saya? Dia baik-baik saja kan?"
Dokter itu tampak menghembuskan nafasnya.
"Saya butuh orang tua sebagai wali untuk menjelaskan keadaan yang lebih rinci terhadap adik kamu. Bisa?"
"Tidak dok. Saya walinya. Kami tidak punya orang tua"
Dokter itu tampak iba untuk sesaat. Ditatapnya Randi dan Devan yang terlihat sangat sederhana hanya dengan kaus dan celana yang hampir pudar warnanya.
Devan yang ditatap seperti itu menundukkan kepala.
Devan sadar, penampilannya saat ini sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang berobat ke rumah sakit ini.
Tapi mau bagaimana lagi, ini rumah sakit di kota yang terdekat dari rumah mereka.
"Baiklah, salah satu bisa ikut ke ruangan saya dan yang lain menunggu pasien disini"
Randi menganggukkan kepalanya. Mengisyaratkan agar Devan saja yang menunggu disana.
Hingga mereka duduk berhadapan. Sang dokter memberikan sebuah kertas kepada Randi.
"Adik kamu mengalami katub jantung bocor. Mungkin karena penanganan yang lama, bocornya semakin lebar. Pasien pasti sudah sering mengalami sakit seperti tadi. Namun saya turut prihatin karena harus mengatakan bahwa adik kamu harus mendapatkan penanganan yang lebih serius."
Randi terdiam di tempatnya. Seharusnya, seharusnya Randi sudah bisa mengira hal ini akan terjadi. Suatu saat, Danu pasti akan mengalaminya. Tapi kenapa hatinya tetap tidak siap. Kenapa hatinya sakit luar biasa?
"Maksud dokter operasi?"
"Iya. Harus segera dilakukan jika tidak ingin mengambil resiko yang lebih berbahaya. Terlambat sedikit saja, mungkin pasien tidak bisa diselamatkan"
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Us [TAMAT]
Short StoryRandi memandangi adik-adiknya malas. Seorang berada di atas kasur memegang konsol game. Seorang lagi berada di atas adiknya yang sedang bermain itu. Randi tau Devan sengaja. adiknya yang lahir 5 menit setelah dirinya itu tidak akan hidup jika tidak...
![Random Us [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/226168884-64-k386312.jpg)