Devan tau ada yang salah dengan Randi saat melihat kakaknya itu pulang larut beberapa hari ini. Masalahnya Randi tidak mengabari mereka sama sekali.
Jadi saat pintu itu terbuka dan menampakkan wajah kembaran pertama nya itu datang dengan wajah lelah, Devan langsung mengambil air minum.
"Kak, gimana kalau Devan juga kerja sampingan?"
Randi menggelengkan kepalanya pasti. Sekalipun, tak akan dibiarkannya kedua kembarannya harus bekerja keras seperti dirinya.
Itu sama saja seperti semua perjuangan Randi selama ini, hingga dia bersedia untuk putus sekolah sia-sia bukan?
"Kak, tapi kita emang lagi butuh duit. Danu...Danu sekarang lebih sering ngeluh sama Devan kalau dadanya sakit". Lirihnya pelan.
Randi termangu.
Danu, dimana dia?
"Dimana Danu?"
"Tidur. Tadi Devan kasih teh anget sama obat nya yang kemarin. Tapi...sekarang obatnya juga udah tinggal beberapa butir lagi"
Randi memandang Devan lekat. Adiknya itu akan lulus sekitar 3 bulan lagi. Dan Randi berharap itu akan membawa perubaban untuk mereka.
"Janji sama kakak, kamu setelah lulus harus bisa jadi orag sukses. Harus bisa bawa Danu berobat ke rumah sakit besar"
Devan hanya melenggang pergi. Tanpa disuruh pun Devan tau itu memang harus dilakukan. Devan akan menjadi orang sukses. Devan akan membawa Danu berobat ke luar negri. Devan akan membuat waktu yang selama ini Randi sia-siakan menjadi sangat berarti.
Devan itu, yang paling susah untuk dewasa diantara mereka. Devan terlalu cepat mengambil keputusan dan selalu mengikuti keinginannya tanpa memikirkan akibat. Itu yang selalu Randi khawatirkan untuk Devan.
Sekalipun Danu sering bertingkah kekanak-kanakan, dia bahkan jauh lebih berpikiran dan bertindak dewasa dibanding Devan.
Randi tau Devan sedang kacau. Pikirannya sedang terbagi kemana-mana. Jangankan Devan, Randi bahkan lebih.
Memikirkan kebutuhan mereka bertiga, memikirkan bahan makanan, uang listrik, pengobatan Danu, dan sekolah Devan. Sama sekali dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.
Randi mengambil handuk. Randi akui, beberapa hari ini badannya terasa pegal pegal karena sering mandi di malam hari. Randi tidak terbiasa.
Devan menatap Danu yang tertidur pulas. Biasanya, jika sedang fit. Jam segini Danu pasti sedang menonton film di malam hari melalui tv kecil mereka.
Kuliah Devan baik-baik saja. Tiga bulan terhitung dari sekarang, Devan berjanji akan menjadi orang yang sukses. Mengangkat derajat mereka.
"Mama, bantu Danu. Adik aku kesakitan" Ucapnya lirih.
------------------------------
Randi baru saja akan menemui Devan sebelum gedoran pada pintu rumah mereka terdengar.
Siapa yang mau bertamu malam-malam seperti ini?
Randi melihat Devan yang keluar dari kamar. Segera dibukanya pintu itu tanpa melihat siapa yang berkunjung.
Dan
Satu pukulan,
Dua pukulan,
Dan beberapa pukulan berikutnya.
Ujung bibir Randi sobek. Darah mengalir deras dari sana.
Devan tak kalah terkejut. Mendekati lelaki paruh baya itu lalu membalas memberikan sebuah pukulan keras sebelum kakinya disandung oleh Randi yang menyebabkan dia terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Us [TAMAT]
ContoRandi memandangi adik-adiknya malas. Seorang berada di atas kasur memegang konsol game. Seorang lagi berada di atas adiknya yang sedang bermain itu. Randi tau Devan sengaja. adiknya yang lahir 5 menit setelah dirinya itu tidak akan hidup jika tidak...
![Random Us [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/226168884-64-k386312.jpg)