TAC 6.

209 40 7
                                    

- Sebenarnya siapa yang egois di sini? Setiap orang berhak menentukan-

Seoul, Samsung-Dong, Gangnam

06.00 AM

Terlihat seorang pemuda berjalan ke ranjang yang bernuansa abu-abu kehitaman. Pemuda itu meletakkan nampan yang berisi segelas susu dan sepotong sandwich ke atas meja di samping ranjang. Pemuda itu memperhatikan sesosok laki-laki yang masih terlihat nyaman bergelung di dalam selimutnya kemudian dia segera mengambil alat kompres yang tertempel di dahi laki-laki itu. Tampaknya pergerakannya membuat laki-laki yang tertidur itu merasa terganggu

"Tenanglah Seokjin hyung, ini aku Jungkook tidak ada yang ingin berbuat hal jahat padamu," ucap Jungkook sembari memberikan usapan lembut kepada kepala hyungnya itu.

Jungkook merasa lega melihat hyungnya kembali tenang dan melanjutkan tidurnya kembali.

" Sudah lewat sepuluh tahun . Apa kau tidak pernah bisa menghapus kenangan itu hyung?" desah Jungkook frustasi. Dia kemudian melihat jam dan menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, masih ada waktu sekitar empat puluh lima menit untuk membangunkan hyungnya. Biasanya hyungnya jam enam kurang sudah bangun, tapi sampai sekarang dia masih terlelap mungkin ini efek dari obat yang diberikan Taehyung semalam.

"Kook~a kau di mana? Pulanglah!!" ucap Taehyung panik

" Tidak..sampai Seokjin hyung merubah pikirannya," ucapnya singkat

Tidak ada sahutan dari seberang telepon sana dan malah terdengar suara barang-barang pecah.

PRANGGG

"Yak!! Hyung tenangkan dirimu!!" teriak Taehyung di seberang sana

" Hyung ada apa?! Jangan bilang hyungku itu mulai memecahkan barang-barang di sana?" tanya Jungkook

" Pulanglah, aku mohon hanya kau yang bisa menenangkannya." pinta Taehyung memelas.

" Di laci meja nomor dua, di kamar hyung. Ambil saja obatnya di sana." jawab Jungkook seadanya.

"Jungkook, aku mohon." pinta Taehyung sekali lagi sebelum panggilan telepon itu ditutup sepihak oleh Jungkook.

Jungkook tetap diam di tepi sungai han, tidak ada keinginan untuk segera pulang seperti yang di minta Taehyung. Suasana hatinya belum membaik jika dia memaksakan pulang maka yang ada dia akan ikut emosi melihat kelakuan hyungnya. Dia tidak habis pikir dengan hyungnya. Kim Seokjin, dia bertemu dengan Seokjin saat malam natal di usianya akan beranjak delapan tahun. Saat membuka pintu rumah dia menemukan bocah dekil yang sangat terlihat mengerikan, badan kurus kering, dan tanpa ada keceriaan di wajahnya.

" Ini rumah Jeon Jaehyuk kan? Bisa aku bertemu dengannya?"

Jungkook mengingat kembali pertemuan awalnya dengan Seokjin. Dia berpikir bahwa Seokjin yang saat ini terlihat sangat berbeda dengan dulu, sekarang dia tumbuh menjadi pria yang tampan dan berwibawa dia pasti sudah digilai banyak wanita, sayangnya ekspresi dan sorot mata hyungnya menyebabkan semua orang mundur perlahan. Kim Seokjin yang saat itu masih berusia belasan tahun mampu memberikan ide-idenya untuk mengembangkan perusahaan appanya. Dia mampu membuat perusahaan ayahnya yang di ambang kebangkrutan perlahan mulai muncul kembali, bahkan merambah ke bidang yang lainnya. Hyungnya berjuang selama hampir sepuluh tahun bahkan lebih dan dengan entengnya akan memberikan seluruh hasil kerja kerasnya kepada dirinya.

" Jungkook, aku berjanji pada ayahmu bahwa aku akan memberikan perusahaan ini, kepada pemilik aslinya saat kau berusia dua puluh lima tahun," ujar Seokjin serius

Truth and Choice (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang