Banyak pesan masuk kedalam ponsel milik Jaemin. Karena kesal Jaemin berakhir mematikan ponselnya.
Berapa hari berlalu sejak kejadian Jisung menciumnya paksa, Jaemin merasa hidupnya jadi nggak tenang. Ketakutannya untuk menjalin hubungan dengan seseorang seperti bertambah kadarnya.
Bagaimana bisa mencintai namun memaksa?
Bagaimana bisa mencintai namun menyakiti?
Ada banyak bentuk cara penyampaian cinta di dunia, tapi untuk seseorang yang tak pernah mendapat cinta dari Ayahnya sejak kecil Jaemin hanya ingin mendapat cinta yang baik. Cinta yang tidak akan menyakitinya.
Jaemin berharap cintanya nanti bisa menjadi seorang teman baginya, seorang kakak, seorang adik, seorang ayah dan memang seseorang yang akan menjaganya dengan baik. Jaemin tidak pernah jatuh cinta walaupun banyak yang mendekat untuk memberinya cinta. Tapi apa yang bisa diharapkan dari dirinya ini?
Jaemin hanya takut jika pasangannya tidak bisa menerima cinta dengan baik karena Jaemin sendiri masih cacat dalam hal cinta.
Air mata Jaemin menetes tanpa sadar. Dia meraih jaket milik Dokter Jeno yang memang masih ada padanya. Jaket yang belum sempat ia kembalikan sampai sekarang. Dipeluknya jaket Jeno dengan erat.
"Maaf dok, saya nggak bisa jaga diri saya sendiri."
Hal yang selalu Jaemin sesali. Dia merasa nggak pantas buat Jeno. Dan dia semakin merasa nggak pantas saat hari itu adik Jeno melecehkannya. Apalagi melihat wajah Jeno juga membuatnya mengingat wajah adiknya.
Jaemin dilema.
...
Genap sepuluh hari sejak Jeno memukul Jisung, keadaan rumah Lee nampak selalu hening. Biasanya banyak pertikaian antara si sulung, tengah dan bungsu. Namun pemandangan itu tak pernah didapati Tiffany lagi.
Mereka memang masih makan bersama. Menyesuaikan jadwal Jeno dan Mark saat sedang tak jaga di rumah sakit. Tapi rasanya begitu canggung. Tak ada canda tawa. Hanya ada suara Tiffany, Donghae dan Mark yang mendominasi.
Malam itu Tiffany dikagetkan dengan kepulangan ketiga anaknya. Apalagi dalam kondisi Jisung yang babak belur. Dan hari itu baru pertama kali Tiffany melihat Jeno membanting pintu kamarnya sendiri dengan keras.
Saat Mark menceritakan kejadiannya, Tiffany bahkan tak kuasa menahan tangisnya. Bagaimana Jisung bisa bertindak sejauh itu?
Rasanya Tiffany begitu malu. Keesokan harinya ia langsung mendatangi kediaman Jaemin. Meminta maaf untuk perlakuan Jisung yang begitu buruk. Tiffany kira, Jisung bersaing secara sehat. Nyatanya patah hati bisa membuat anak bungsunya berbuat nekat.
Jaemin tidak marah. Tapi ia butuh waktu. Tiffany kira sikap Jaemin akan tetap sama pada Jeno, karena bagaimanapun Jeno tidaklah bersalah. Namun ia salah. Jeno selalu saja berkeluh kesah bahwa Jaemin menghindarinya. Pesan tidak dibalas, ditemui dibrumah dan rumah sakit tidak bisa. Sedikitnya Tiffany paham jika Jeno begitu frustasi.
Tiffany hanya berharap jika Jisung bisa belajar melihat perbuatannya berakibat buruk bagi semua orang.
...
Yang bisa Jeno lakukan hanya menunggu. Menunggu Jaemin membalas pesannya, mengangkat panggilannya, dan mau menemuinya.
Jeno selalu terbayang wajah Jaemin saat menangis dan ketakutan. Rasanya hari itu seperti mimpi buruk untuknya. Adik kandungnya sendiri menyakiti cintanya. Kalau ditanya apakah Jeno merasa menyesal telah memukul Jisung, jawabannya adalah iya. Bagaimana bisa Jeno tega memukul adik kecilnya. Adik kecil yang berbagi rahim dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terpesona | Nomin
Romance[ SELESAI ] Pesona Jaemin menguar di hari pertamanya paraktik di ruang bersalin bikin Jeno si koas tampan itu tak bisa alihkan pandangannya. Jeno jatuh cinta, nyatanya Jaemin sukar di dekati. Lantas Jeno harus bagaimana untuk taklukan hati si pujaa...
