Chapter 21

926 73 10
                                        

Langit masih gelap bahkan jam di dinding baru menunjukan pukul 04.20 pagi, namun laki-laki itu sudah membuka matanya lebih tepatnya Perth tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun. Semalaman Perth hanya menghabiskan waktunya dengan menatap langit-langit kamar Plan dengan tatapan kosongnya. Sejak kedua telinganya mendengar dengan jelas obrolan singkat Plan dan laki-laki lain yang ia panggil Mean membuat hati Perth tak karuan. Dengan perlahan Perth bangkit dari atas ranjang, namun sebelum melangkah pergi laki-laki itu menyelimuti terlebih dahulu dua orang yang ia sayangi agar merasa hangat dan nyaman. Perth mengecup pucuk kepala Tee dengan sayang tanpa membangunkan anak itu dan tangannya tak lupa mengelus pipi Plan yang masih tidur terlelap dengan sangat lembut, ia pandangi wajah cantik itu.

"Jika itu yang kau inginkan, aku akan menyerah." hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Perth dan kemudian ia melangkah pergi dari kamar Plan.

.

.

Suara cicitan burung terdengar dipagi hari seperti biasanya. Dengan perlahan Plan membuka matanya, namun seseorang yang berada disamping anaknya sudah hilang entah kemana. Kaki nya beranjak dari atas tempat tidur dan melangkah pergi kearah kamar mandi. Hanya butuh beberapa menit untuk Plan membersihkan diri, setelah semuanya selesai ia melangkah keluar dari kamarnya.

Saat kakinya hendak masuk kearea dapur, matanya melihat laki-laki itu tengah menikmati secangkir kopi. Plan melanjutkan langkahnya menghampiri Perth dan menyapanya seperti biasa dan disahut oleh Perth dengan senyumannya. Plan tidak curiga sama sekali dengan Perth, sedangkan laki-laki itu hanya menatap punggung Plan yang tengah membelakanginya.

Beberapa menit berlalu dan akhirnya Plan dan Perth sarapan bersama seperti biasanya.

.

.

Hari semakin siang laki-laki mungil itu tengah sibuk mengurusi Tee yang baru saja selesai dari acara mandinya. Saat tangannya tengah sibuk memakaikan baju pada Tee, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering diatas meja nakas.

Drrtt...Drrtt...

Dengan cepat Plan langsung melihat ponsel miliknya, saat satu nama terpampang dilayar ponsel itu bibir cherry miliknya langsung tersenyum.

"Hallo."

-:-:-:-

Setelah selesai mengurusi Tee, Plan melangkah kearea dapur kembali. Sedangkan Tee tengah bermain dengan mainannya seorang diri. Laki-laki mungil itu tengah sibuk dengan bahan makanan yang akan dimasaknya bersama seorang maid yang membantunya.

"Apa akan ada seseorang?" tanya maid itu.

"Hum, dan aku harus menyambutnya dengan sangat baik" sahut Plan dengan senyumannya.

Plan kini tengah sibuk memotong beberapa sayuran dan maid yang membantunya sibuk memotong bahan yang lainnya. Keduanya tengah disibukan dengan bahan makanan, sedangkan Tee masih betah duduk manis didepan televisi dengan acara kesukaannya pororo.

Beberapa jam berlalu akhirnya semua masakannya selesai dan sudah tersaji dimeja makan. Senyuman lebar Plan tampak tersungging dengan bangga saat ia memandangi beberapa hasil masakannya.

.

.

Tingtong..Tingtong..

Bel berbunyi dengan nyaring menandakan ada seseorang diluar rumah. Plan langsung melangkahkan kakinya kearah pintu utama dan saat ia membuka pintu itu nampaklah seseorang berdiri dengan senyuman manisnya. Orang itu langsung memeluk Plan dan tentu laki-laki mungil yang berada dipelukannya membalas pelukan itu. Setelah acara melepas rindunya usai, keduanya melangkah masuk kedalam rumah.

PLEASE DON'T! (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang