"Mae", teriak laki-laki manis yang tengah berlari menuruni setiap anak tangga dengan senyuman nya yang tampak lebar .
"Plan .. anak Mae yang manis", pekik wanita itu dengan merentangkan kedua tangan nya dan Plan menghambur begitu saja ke pelukan yang ia panggil sebagai Mae nya itu .
"Mae sudah lama tidak pulang ke Thailand" .
"ah .. kau tahu Mae sangat sibuk disana", Plan mengangguk mengerti .
"apa Mae membawa strawberry dari sana" .
"untuk apa Mae membawa strawberry jauh-jauh dari london kalau di Thailand saja banyak , kau ini", ucap nya dan mencubit gemas pipi Plan . sedangkan Plan hanya terkekeh mendengar nya .
"ah .. Perth , anak Mae yang keren . kemari lah peluk Mae mu", ucapnya lagi dan Perth memeluk wanita itu tanpa sungkan .
"Mae pulang", ucap Perth .
"Hum .. seperti nya kalian tumbuh dengan sehat dan kalian tampak baik-baik saja", ucap wanita itu kembali .
"Dimana Mean?" .
"aku disini Mae", sahut Mean dari lantai atas dan kini menuruni anak tangga menuju kearah nyonya Phiravich .
"anak Mae yang tampan , peluk Mae", nyonya Phiravich itu tengah merentangkan tangan nya kembali menunggu Mean untuk memeluk nya . Dan Mean memeluk Mae nya .
"berhentilah bersikap so manis seperti remaja Mae", cibir Mean sedangkan nyonya Phiravich yang mendengarnya hanya terkekeh sendiri .
"apa Neena tidak ada disini", tanya nyonya Phiravich dengan manik yang tengah menelusuri setiap sudut rumah itu .
"Mae mau tahu .. Neena sekarang sudah menjadi kekasih dari seorang Mean Phiravich", itu Perth dan Mean melemparnya dengan bantal sofa yang tak berdosa .
"Be...benarkah", mata nyonya Phiravich tampak membola , ia terkejut .
"kalau begitu besok malam Mae dan Pho harus menemui orangtua Neena dan membicarakan soal pertunangan kalian", Mean tengah terkejut dengan ucapan nyonya Phiravich dan Plan hanya diam membeku mendengar nya .
"Mae apa yang Mae bicarakan . aku bahkan baru beberapa bulan menjadi kekasihnya", ucap Mean .
"Mean .. Mae hanya sebentar di Thailand dan Mae ingin kalian bertunangan secepat mungkin , sebelum Mae dan Pho kembali ke london", jelas nya dan Mean hanya menghela nafas nya .
.
.
.
.
.
Mean tengah berbaring diatas ranjang nya dengan tatapan lurus kearah langit-langit kamar miliknya .
ia berkali-kali menghela nafas nya dengan gusar . Mean tengah kalut dengan keputusan Mae nya hari ini .
Mean merasa berat dengan keputusan itu namun ia juga tidak bisa menolak nya .
Hingga lamunan nya terpecah begitu saja saat seseorang menyapa nya dari luar kamar nya .
"Mean .. kau belum tidur" .
"Hum" .
"Boleh aku masuk" .
"kenapa kau berbicara seperti itu Plan , masuklah", sahut Mean .
"kenapa kau membiarkan pintu kamar mu terbuka seperti itu", cibir Plan .
"ada apa dengan mu", lanjutnya .
"aku tengah memikirkan keputusan Mae, Plan", ucap Mean yang kini memandang wajah Plan . Plan hanya mengangguk mendengar nya .
"itu keputusan yang benar . kau anak tunggal Mean , Mae dan Pho mengharapkan yang terbaik dari mu , kau selalu menjadi anak kebanggaan keluarga Phiravich selama ini", Plan menepuk-nepuk bahu Mean untuk memberi nya semangat .
Sedangkan hatinya tentu bertolak belakang dengan ucapan nya . tapi mau bagaimana lagi ini demi kebaikan Mean , pikir Plan .
Mean bangkit dari berbaring nya dan berhambur memeluk Plan , membuat Plan diam mematung . ia merasakan pelukan yang sama seperti tiga tahun lalu , pelukan yang nyaman dan hangat . tangan mungil itu mengelus pundak Mean pelan dengan bibir cherry nya yang terangkat .
"terimakasih Plan sudah menjadi sahabat terbaik ku", Mean mengeratkan pelukan nya dan Plan mengangguk dari balik punggung Mean .
"aku akan bertunangan dengan Neena", sontak membuat elusan dari tangan mungil itu berhenti dan senyuman itu memudar begitu saja . Plan hanya mengangguk kan kepala nya kembali .
ketika pelukan itu terlepas Plan tersenyum dengan lebar dan merengkuh bahu Mean dengan menatap manik itu .
"aku selalu mendukung mu Mean", ucap Plan . Dan Plan melangkah keluar dari kamar itu .
Mean hanya menatap kepergian Plan .
'ini berat Plan' batin Mean .
.
.
.
Plan kini tengah berdiri di dekat jendela kamarnya dengan tatapan yang ia bawa kelangit malam yang gelap , hanya ada bulan disana yang sebagian nya tertutupi oleh awan .
Hanya tatapan kosong dan pikiran yang tampak penuh oleh seseorang .
"Mean", gumam Plan pada diri nya sendiri .
Tanpa sadar airmata nya menetes kembali melewati wajah cantik nya .
Plan hanya tersenyum miris , menertawakan diri nya sendiri yang tampak seperti orang bodoh , pikirnya .
"aku bahkan menangis seperti orang bodoh Mean", gumamnya kembali dan menghapus airmata itu .
.
.
.
Hari sudah berganti ...
Mean tengah berada di Phiravich inc . dengan berkas-berkas yang berada diatas meja nya . ia hanya menatapnya tanpa berniat menyentuhnya .
pikiran Mean tampak gusar saat ini oleh alasan yang sama dan orang yang sama . ia menyandarkan kepala nya di bahu kursi nya dengan helaan nafas yang bahkan tak terhitung .
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE DON'T! (Completed)
Fanfictionremake kali ini dari fanfiction lagi dengan nama akun @.Defirelight 🙏
