Chapter 2

1.1K 84 10
                                        

"Kau belum tidur" .
"Yahh..kau mengagetkan ku Perth", desis Plan .
"ini bahkan sudah jam 02.15 am kenapa kau belum tidur Plan"
"apa terjadi sesuatu", lanjut Perth .
"aku hanya haus", Dan Plan menggoyangkan botol mineral nya kearah Perth . Perth hanya menanggapi nya dengan anggukan .
Dan ikut bergabung duduk disamping Plan . Tapi Plan lagi-lagi menghela nafas nya . Hingga Perth menengok kearah samping dimana Plan tengah terduduk dengan air botol mineral yang hampir kandas .
"aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja", ucap Perth begitu saja . Dan Plan hanya menghela nafas nya lagi tanpa menjawab ucapan Perth .
"Plan", panggil Perth kembali karena merasa di acuhkan .
"kau tak ingin bercerita pada ku , aku ini sahabat mu bukan", lanjut Perth .
"Kau sudah pulang di jam segini", alih-alih menjawab Plan malah melontarkan pertanyaan . Perth hanya memutar bolamata nya jengah .
"ya maka nya aku ada di sini sekarang", sahut Perth .
"jawab pertanyaan ku", lanjut Perth kembali .
"tak bisakah aku merasa tenang saat aku tak bisa tidur , aku hanya meminum kopi tadi malam dan sekarang aku tidak bisa tidur gara-gara kafein itu", bohong Plan .
"jadi hanya gara-gara kopi", dan dengan bodohnya Perth percaya begitu saja . Plan hanya mengangguk mengiyakan .
'Kau memang pembohong yang handal' batin Perth .
Plan dan Perth kini tengah menghabiskan waktu pagi nya dengan mengobrol berdua . Membicarakan ini dan itu hingga tak terasa Cahaya matahari mulai muncul menyinari kota Bangkok . Plan dan Perth beranjak dari tempat nyaman nya dan kembali ke kamar nya masing-masing .
.
.
Hari ini hari minggu hari santai nya untuk Mean . tapi tidak untuk Plan si pemilik R’Cafe ia harus tetap bekerja demi memantau jalan nya Cafe itu . Sedangkan Perth ia akan tidur dipagi hari dan bekerja di malam hari itu lah seorang Tanapon DJ.
jam sudah menunjukan pukul 10.00 am Plan tengah siap dengan pakaian rapi nya untuk pergi ke tempat ia bekerja . menuruni anak tangga dengan mata yang setengah mengantuk . Oh ayolah bagaimana Plan tidak mengantuk ia tertidur saat orang lain bangun dari tidur nya di pagi hari .
"Plan kau mau berangkat ke Cafe", tanya sipemilik suara lowbass itu .
"tentu .. aku harus memantau nya setiap hari", sahut Plan .
"Beristirahatlah dengan nyaman dihari libur mu sebentar lagi Perth akan bangun jadi kau tidak akan kesepian" .
"atau kau bisa menyuruh Neena untuk datang kemari", lanjut Plan .
"Bisakah aku ikut dengan mu", itu bukan untuk pertama kalinya jadi mau tidak mau Plan hanya mengiyakan menggeser sedikit perasaan yang mulai membuatnya tidak nyaman .
"aku tidak bisa menjawab tidak", Dan Mean mengikuti langkah Plan keluar dari rumah itu dengan senyuman lebar nya .
.
.
.
Mean dan Plan tengah diperjalanan menuju R’Cafe itu dengan Mean yang mengemudikan mobil nya . Mereka hanya sesekali bertanya dan berbicara . Plan lebih asik mendengarkan musik melalui earphone nya sedangkan Mean asik dengan nyanyian nya sendiri . Mereka layaknya orang asing yang terasa canggung dan Plan benci suasana seperti ini , ia merutuk perasaannya dan dirinya yang sekarang .
"Plan kenapa kau tak seperti biasa nya", tanya Mean tanpa mengalihkan retina nya dari jalanan di depannya . Plan tidak menjawab bahkan Plan tidak mendengarnya karena dua lubang telinga nya sudah tertutupi oleh earphone .
Saat tidak ada sahutan sama sekali dari Plan , Mean melirik ke arah Plan dan ia hanya menghela nafasnya kasar . Dan Mean menarik sebelah earphone dari telinga Plan .
"Mean", desis Plan karena merasa terganggu .
"aku bertanya pada mu Plan" .
"Ya apa", sahut Plan ogah-ogahan .
"kenapa kau tak seperti biasa nya", Dan Mean tengah memparkirkan mobilnya .
"aku" .
"ya kau" .
"sebaiknya kita masuk dulu , ok . Dan lanjutkan pembicaraan ini nanti", ucap Plan dan keluar dari mobil itu di ikuti oleh Mean .
Plan berjalan beriringan dengan Mean dan masuk ke Cafe itu dan disambut oleh salah satu karyawannya seperti biasa . maniknya tengah berkeliling kesetiap penjuru ruangan itu . Ini hari minggu dan Cafe nya tampak penuh oleh pengunjung . Plan menaikan sudut bibir nya merasa bahagia peninggalan orangtua nya yang mereka percayakan pada Plan berjalan dengan lancar . Mean yang sedari tadi berdiri disamping Plan juga ikut mengembangkan senyum nya . Mean pun ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya itu .
"Seperti nya aku tidak akan mendapatkan kursi kosong hari ini", bisik Mean ditelinga Plan . Plan mengangguk tampak menyetujui .
"kau bisa menunggu ku di ruangan ku dan aku akan menyusul mu keatas nanti", ucap Plan .
"ah baiklah tapi aku tidak suka berlama-lama sendirian", ucap Mean .
"kau bilang tidak suka berlama-lama sendirian .. bicaralah seperti itu pada dirimu yang belum pernah punya kekasih selama ini", cibir Plan .
"yahh...kau menyindir diri mu sendiri", Plan hanya terkekeh dengan lontaran Mean dan pergi meninggalkan silaki-laki tinggi itu .
Plan kembali memfokuskan dirinya ke pekerjaan nya sedangkan Mean kini tengah menunggu Plan di ruangan pribadi milik laki-laki manis itu . Mean tengah berkeliling kesetiap sudut ruangan itu hingga retina tajam nya melirik lemari kaca dengan minuman beralkohol yang berjajar dengan rapih .
"aku baru tahu kalau Plan mempunyai minuman seperti ini", gumam Mean yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri .
Hingga bosan melanda Mean dan ia mencoba kearah dapur dan melihat isi lemari es yang penuh dengan makanan instan dan minuman berkaleng .
"bahkan aku tidak bisa membuat sesuatu", desis Mean dan menghela nafasnya kasar . Mean tengah bosan dan sangat bosan saat ini . ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar Plan dan menjatuhkan tubuh nya begitu saja diatas ranjang yang tidak terlalu besar namun cukup untuk menampung dua orang .
Hingga tak sadar mata tajam itu perlahan mulai menutup dengan nyamannya . Hanya deru nafas teratur yang kini keluar dari hidung mancung Mean .
.
.
"aku akan menemui Mean diatas . kau bisa membawa kan ku banana dan strawberry cake lengkap dengan ice americano nya", pinta Plan dan diangguki oleh karyawan nya .
"ada teman mu", tanya seseorang .
"Hum , seperti biasa Blue", dan yang dipanggil Blue itu hanya mengangguk mengerti .
Plan melangkan kaki nya ke lantai atas dimana ruangan pribadi nya itu berada . Derap langkah nya begitu perlahan hingga tak menimbulkan suara sekecil apapun . Plan membuka knop pintu itu namun hanya kesunyian yang menyambutnya . Hingga langkah nya ia bawa kesatu ruangan kamarnya dan disana lah sosok laki-laki tampan itu tengah berbaring dengan nyaman dan lelap . Plan hanya menggelengkan kepala nya dan tersenyum , melihat bagaimana wajah tampan nya tampak damai saat tengah tertidur .
"kau bahkan masih tampan saat tengah tertidur", gumam Plan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri .
Tatapan nya sontak teralihkan saat seseorang mengetuk ruangan itu dari luar . Hanya butuh beberapa detik dan Plan membukanya , sosok Blue lah yang tengah Plan lihat dengan membawa nampan yang berisi pesanan Plan yang seharusnya bukan Blue yang membawa nya .
"kenapa kau yang membawa nya", tanya Plan .
"aku hanya sedang tidak ada pekerjaan", sahut Blue .
"ayo masuklah" .
"apa boleh", Blue tampak membola karena ini untuk pertama kalinya Blue menginjakan kaki nya diruangan pribadi Plan .
"tentu" .
"tapi teman mu", tanya Blue kembali .
"Mean sedang tidur", sahut Plan .
Dan tanpa banyak bicara lagi Blue melangkahkan kaki nya masuk keruangan pribadi milik Plan . Disini lah Plan dan Blue tengah terduduk di kursi mini bar dengan minuman kaleng yang berada digenggaman masing-masing .
Plan dan Blue hanya mengobrol santai sebagai teman bukan sebagai atasan dan bawahan . Karena Plan sendiri tidak terlalu suka dengan obrolan yang terlalu formal .
Hingga seseorang dari ruangan kamar miliknya memanggil namanya .
"Plan itu kau", dengan suara seraknya layaknya orang yang baru bangun dari tidurnya .
"seperti nya teman mu sudah terbangun aku akan kembali kebawah" . Plan hanya menganggukan kepalanya dan Blue melangkah pergi dari ruangan itu .
Mean keluar dari kamar Plan dengan menguap lebar . matanya masih setengah tertutup dengan langkah yang setengah terhuyung pula .
"Cuci muka mu Mean .. aishh , kau jorok", cibir Plan .
"aku tidak tahu kamar mandinya ada dimana", Plan hanya memutar bolamatanya .
"buka mata mu maka kau akan menemukannya" . Mean hanya terkekeh dan membuka matanya melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka nya . Setelah selesai Mean kembali ke tempat dimana Plan tengah duduk dengan cake strawberry yang sedang ia lahap secara pelan .
"mana punya ku", ucap Mean begitu saja .
"ada dilemari es", Dan Mean langsung melangkah ketempat yang Plan sebutkan . ia mengambil banana cake dan satu cup ice americano milik nya .
Mean dan Plan tengah menikmati cake nya masing-masing dengan keheningan hingga beberapa menit suara hening itu terpecahkan oleh suara lowbass milik Mean .
"Plan" .
"Hn" .
"apa kau mau membantu ku" .
"membantu", Plan hanya menaikan sebelah alisnya tanda ia tidak mengerti .
"Bantu aku mempersiapkan semuanya" .
"apa yang coba kau bicarakan aku tidak mengerti dengan ucapan mu", sahut Plan .
"Bantu aku buat makan malam dengan suasana romantis . aku ingin menyatakan perasaan ku pada Neena di depan sahabat ku .. kau dan Perth", Plan sontak menghentikan tangan nya dari acara mari memotong cake nya dan mata nya melirik kearah Mean yang tengah menatapnya dengan raut wajah terkejut sekaligus kecewa . Mean melihatnya bagaimana raut wajah Plan itu . namun seperkian detik Plan merubah raut wajah nya dengan pekikan heboh .
"Wah .. ternyata kau benar-benar akan menyatakan perasaan mu . kau melangkah cepat Mean", pekik Plan .
"aku bahagia untuk mu", Plan tengah merengkuh bahu Mean dengan senyuman lebarnya .
"kau bahagia", tanya Mean setengah ragu .
'tidak tapi harus' batin Plan .
"tentu aku bahagia untuk mu Mean . jadi dua diantara empat ada yang tidak single lagi , nanti aku dan Perth akan menyusul mu", ucap Plan dengan tawa paksa nya .
"kau memang yang terbaik Plan", ucap Mean dan mengusak rambut Plan .
'jangan memperlakukan ku seperti ini lagi Mean karena semuanya terasa berbeda sekarang' batin Plan .
.
.
.
.
.
Satu minggu berlalu
...
sejak obrolan Plan dengan Mean mengenai makan malam romantis itu . Siang ini tiga orang laki-laki itu tengah mengobrol dan berdiskusi bagaimana agar semua nya berjalan dengan lancar .
Semua nya saling memberi pendapat , saling berkomentar , saling mengkritik dan sesekali beradu mulut . Oh ayolah Plan sendiri merasa jengah . Tidak ada yang tahu dengan nasib perasaannya . Bagaimana kecewa nya Plan , bagaimana terluka nya hati Plan dan bagaimana marah nya Plan pada dirinya sendiri yang selalu menyalahkan perasaannya .
Saat semua nya sudah selesai dan sepakat Plan pergi dari tempat itu dengan mengendarai mobilnya .
Disini lah sekarang Plan berada diruangan pribadi miliknya tempat ia untuk menenangkan suasana hati dan pikirannya disaat kacau tengah melanda nya .
"Besok", gumam Plan dengan tawa mirisnya .
Pikirannya kembali kemasa tiga tahun lalu ..
Flashback...
"Mae , Pho" , seorang laki-laki manis tengah menangis pilu di hadapan pusara orangtua nya .
"Plan kau masih mempunyai aku", seorang laki-laki tinggi itu memeluk sosok yang tengah menangis dengan sangat erat .
"mereka meninggalkan ku Mean", Plan masih menangis .
"masih ada aku Mean Phiravich yang tidak meninggalkan mu dan tidak akan meninggalkanmu", ucap Mean masih dengan memeluknya erat dan bahkan semakin erat . Sedangkan sosok yang dipeluk itu semakin menangis dalam pelukan hangat dan nyaman milik Mean .
Flashback end ...
"semua sikap mu yang membuatku menumbuhkan perasaan ini Mean", gumam Plan kembali yang tengah menatap kosong langit-langit ruangan itu .
.
.
.
Esok harinya ...
Mean , Perth dan Plan kini mereka bertiga tengah mempersiapkan acara untuk malam nanti .
Kini ketiga laki-laki itu tengah sibuk dihalaman belakang dengan mempersiapkan pernak-pernik , bunga mawar merah , lilin , meja makan yang di hias cantik hingga stage kecil lengkap dengan piano nya .
"kau sudah membeli cincin nya", tanya Plan dengan denyutan nyeri didada nya .
"tentu aku tidak akan melupakan benda penting itu", sahut Mean dengan senyuman lebarnya . Plan hanya mengangguk dan kembali ke pekerjaaannya . ia hanya mencoba menyibukan dirinya agar perasaannya bisa sedikit terlupakan namun nyatanya itu sama sekali tidak bekerja .
Mean kini tengah sibuk memasak untuk hidangan makan malamnya . sedangkan Perth dan Plan tengah sibuk dihalaman belakang .
.
.
.
.
.
Malam sudah tiba ...
Mean , Perth dan Plan sudah berpakaian rapih dengan tuxedo Mean bewarna putih sedangkan Plan dengan kemeja hitamnya dan Perth dengan kemeja biru tua nya .
mereka kini hanya tinggal menunggu kedatangan gadis itu -Neena- .
.
.
kini Neena sudah tiba dihalaman rumah tiga laki-laki yang ia klaim sebagai sahabatnya itu . Saat kaki dengan sepasang higheels merahnya itu melangkah masuk matanya langsung membola dan terkejut .
"A..apa ini" .



TBC...

PLEASE DON'T! (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang