Chapter 25

1.9K 88 26
                                        

Mean membawa langkahnya menaiki anak tangga dengan Tee yang berada didalam gendongannya yang kini tertidur dengan lelap, sedangkan Plan ia berjalan dengan mengekori Mean. Saat laki-laki  itu berdiri tepat didepan pintu kamar, Plan membantu Mean membuka pintu itu. Keduanya masuk dan Mean menidurkan Tee diatas ranjang dengan sangat pelan agar tidak mengganggu tidur anaknya. Plan langsung menyelimuti Tee agar malaikat kecilnya merasa nyaman dan hangat. Tak lupa, Plan mengecup pucuk kepala anaknya dengan sayang dan Mean pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Plan.

"Aku harus pulang sekarang, tapi aku ingin memelukmu dulu sebentar."

Kini kedua tangan Mean melingkar dipinggang Plan, sedangkan kedua tangan Plan melingkar dileher Mean. Keduanya saling menempelkan kening dengan deru nafas hangat keduanya yang menerpa wajah masing-masing.

"Plan, aku menginginkan hari itu cepat terjadi. Dimana hanya ada diriku, dirimu dan Tee dirumah kita."

"Akupun Mean, aku menantikan hari itu."

"Aku sangat menantikan dimana setiap pagi ku, saat aku terbangun ada dirimu disampingku dengan keadaan telanjang." ucap Mean dengan kekehannya. Plan sontak langsung mencubit perut sempurna Mean, namun sosok tinggi itu bukannya merintih kesakitan melainkan terkekeh tanpa merasa berdosa.

"Baiklah, aku akan pulang. Tidurlah yang nyenyak."

Cuppp

Mean mengecup kening Plan dengan sangat lembut, membuat sosok Plan memejamkan matanya oleh kecupan lembut itu. Plan mengantar kepulangan Mean hingga kedepan pintu utama, hingga sosok tampan itu meninggalkan halaman rumahnya.

.

.

.

Siang ini Plan hendak pergi ke R'Cafe bersama Tee. Namun saat Plan hendak masuk kedalam mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil hitam terparkir tepat disamping mobil miliknya. Plan jelas bisa mengenali siapa pemilik mobil hitam itu, dan benar saja itu calon mertuanya turun dari mobilnya dengan senyuman hangat milik mereka.

"Mae, Pho."

"Glandma, glandfa." teriak Tee dengan lucu, bahkan bibirnya pun tampak tersenyum dengan lebar.

"Astaga, kami sangat merindukan cucu tampan kami." ucap nyonya Phiravich dan langsung menggendong Tee begitu saja.

"Apa kau mau pergi, Plan?" itu tuan Phiravich yang bertanya.

"Aku bisa pergi nanti, Pho."

"Lihat, grandma membawa sesuatu untuk Tee." nyonya Phiravich memberikan paper bag yang ia bawa pada Tee. Anak kecil itu turun dari gendongan nyonya Phiravich dan membuka isi paper bag itu dengan tidak sabaran. Matanya langsung berbinar saat melihat robot mainan yang cukup besar itu.

"Mommy, lihat Tee punya mainan balu." pekik Tee dengan melompat-lompat kegirangan, membuat orang-orang disekelilingnya merasa gemas.

"Ayo ucapkan terimakasih pada grandma." Tee mengangguk dengan semangat.

"telimakacih glandma, Tee cuka." anak itu berucap dengan senyuman lebarnya, bahkan mainannya sampai ia peluk dengan erat.

Ketiganya melangkah masuk dan duduk disofa ruang tamu dengan kopi dan kue yang terhidang diatas meja sejak beberapa menit yang lalu. Sedangkan Tee, anak kecil itu diasuh oleh seorang maid yang kini tengah memainkan mainan robot barunya dengan girang.

"Mae dan Pho datang menemui mu bukan hanya karena merindukan Tee, tapi kami juga ingin membicarakan tentang pernikahanmu bersama Mean. Mae tahu kau dan Mean sudah melakukannya kemarin. Mae melihat sesuatu dileher Mean." Plan hanya diam, ia bahkan tidak bisa menyahut ucapan nyonya Phiravich. Tangan Plan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia lupa jika dirinya meninggalkan bekas dileher Mean.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 30, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PLEASE DON'T! (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang