Untuk beberapa saat, tatapannya masih memaku pada sosok cantik di depannya. Sesekali memaksa perhatian pada bakso yang tengah ia makan, menyamarkan senyumnya. Kesenangan itu masih saja memenuhi hatinya. Suatu keajaiban bisa makan siang berduaan dengan bidadari kampus ini.
“Gre, maaf telat. Tadi dipaksa dosen diskusi sama anak BEM.”
Kesenangan Hamids harus terganggu saat Gito datang dengan napas tersengal, mengambil tempat di sebelah Gracia.
Gracia agak kaget dengan kedatangan tiba-tiba Gito, tapi tenang kembali melihat raut bersalah pemuda itu. Menghentikan sejenak kegiatan makannya, fokus gadis itu terarah pada Gito.
“Gak papa kok. Gito lari-lari ke sini?” Gracia mencomot satu tisu, mengulurkan tangannya mengusap buliran keringat di wajah Gito.
Jarak Gedung dosen ke kantin cukup jauh juga, sih. Musti lewatin lapangan sama parkiran.
Gito mengangkat sebelah tangannya, mengambil alih tisu dari tangan Gracia. “Iya. Ponselku mati, jadi gak bisa kasih kabar. Takutnya tadi kamu nunggu lama, jadinya lari ke sini.”
“Iyaa, gak papa kok, Git. Kebetulan ini tadi ada Hamids mau nemenin makan,” Gracia membagi perhatiannya pada cowok bertopi di depannya, tampak sudah selesai dengan makanannya.
Perhatian Gito ikut beralih pada Hamids. Raut bersalah dan lelahnya seketika lenyap, berganti raut datar. “Makasih udah nemenin Gracia.”
“Eh, uhm, gak masalah,” Hamids salah tingkah. Meski sudah beberapa kali bertemu dengan Gito, dia masih canggung dengan pembawaan datar dan dingin cowok ini. Untung saja makanannya sudah habis.
“Ge Ge Gurasyiaaaa uuu tayang-tayang!” sebuah suara bergema di kantin yang tak banyak di isi mahasiswa siang ini. Suara cempreng seorang gadis dengan semangatnya menghampiri meja Gracia, memeluk gemas gadis itu setelah ia sampai di dekatnya.
“Aya! Kebiasaan banget sih! Anaknya lagi makan itu, malah lo peluk-peluk,” tegur seorang gadis lain. Menepuk pelan pundak gadis yang dipanggil Aya.
Aya dengan wajah ditekuk melepas pelukannya, “Yaa namanya juga kangen, Cinhap. Dianya juga seneng-seneng aja kalo peluk-peluk huh! Bilang aja lo iri!”
“Baru ketemu kemaren juga lu, ah! Lagian ngapain juga iri sama lo. Gak ada mudaratnya,” sewot Cinhap, atau Cindy Hapsari namanya.
Tawa renyah membungkam Aya yang ingin membalas ucapan Cindy. Perhatian kedua gadis itu beralih pada objek percecokan mereka. Malah tertawa dengan gemasnya.
“Uwuwuuw tayang-tayang, gemas bangeett sih!” Aya cepat mengambil asal satu kursi, meletakkannya berdampingan dengan kursi Gracia dan kembali merangkulkan sebelah tangannya di pinggang gadis yang lebih muda darinya ini.
Gracia yang sudah reda dari tawanya, hanya menepuk-nepuk pelan puncak kepala Aya yang bersandar manja di pundaknya.
Cindy berbagi pandang dengan Gito, keduanya menghela napas lelah melihat kelakuan kekanakan gadis yang lebih tua dari mereka itu. Tapi setelahnya mengukir senyum geli. Sudah biasa.
Sementara Hamids yang sedari tadi hanya menjadi penonton, merasa sedikit asing. Ah, dia memang masih terbilang asing berada di sekitar Gracia dan teman-temannya ini. Tapi itu tak membuatnya gentar untuk terus berusaha bisa dekat dengan gadis impiannya itu.
Beruntung sekali Hamids bisa berbaur dengan teman-teman Gracia. Mereka semua baik, meski masih ada kecanggungan baginya, tapi berkat Gracia suasana aman terkendali. Kecuali jika ada Anin. Dibandingkan Gito, Anin seakan menjadi penjaga setia Gracia. Seolah ia memiliki sikap tersendiri untuk menjaga Gracia agar tidak terlalu baik pada orang baru.
