Boby mengetuk beberapa kali pintu kayu kamar sang adik. Biasanya Vino yang bertugas untuk membangunkan tuan putri, tapi sang kakak sibuk memasak sarapan karena tidak Yona yang sedang ada urusan di luar kota dan baru balik nanti sore. Setelah memastikan tak ada sahutan dari dalam, yang menandakan bahwa adik kecilnya itu belum bangun. Dengan pelan Boby membuka pintu dan berjalan masuk.
Langkah Boby berhenti di samping tempat tidur Gracia. Memperhatikannya yang tidur menyamping, membelakanginya. Boby mengulurkan satu tangannya, hendak menggoyang pelan pundak Gracia untuk membangunkannya, tapi terhenti di tengah jalan, saat gadis itu tiba-tiba meringkuk sedikit dan mengeluarkan tangannya dari balik selimut. Seperti hendak menggapai sesuatu.
"Baang, jangan pergiii.. huu, Abang jangan tinggalin Greee..."
Racuannya pelan dan serak tak jelas, tapi Boby masih bisa mendengarnya dalam kesunyian kamar. Seketika membuatnya mematung heran juga khawatir. Tak mau membiarkannya terus diganggu mimpi buruk, Boby duduk di samping Gracia dan segera membangunkannya.
"Gre, Graciaa bangun dek, ayo bangun. Graciaa," panggil Boby, hati-hati menggoyangkan tubuh adiknya. Lirihan Gracia yang memanggilnya semakin membuat Boby panik, entah apa yang diimpikannya.
"Gracia! Gre-ah!" Boby kemudian membalikkan tubuh Gracia terlentang dan saat itu juga kegelisahan gadis itu reda. Perlahan mata yang tertutup itu terbuka, dengan napas yang lelahnya.
"Gracia?" panggil Boby lembut.
Fokus Gracia ke langit-langit kamar, lalu menoleh pada suara yang memanggil. Memastikan siapa yang orang di sebelahnya, Gracia sontak bangun dan mengambur memeluk Boby erat.
"Abang!!" teriaknya kencang dan menangis sesegukan.
Boby balas memeluk, mengusap-usap pungungg dan mencium puncak kepala Gracia. Dia membiarkan sang adik melepaskan emosinya, menunggunya kembali tenang.
Setelah menunggu beberapa menit, tangis Gracia mulai reda dan perlahan keluar dari pelukan sang abang. Boby langsung menangkup wajah adiknya, mengusap aliran air mata dan sedikit keringat yang bercampur.
"Mimpi buruk?" tanya Boby pelan, menatap penuh kasih sayang. Hatinya perih melihat sang adik yang sangat disayang ini menangis.
Gracia tak langsung menjawab, menatap wajah abangnya lama, meneliti setiap inchi rupa rupawan lelaki ini. Dia ingin dipeluk lagi dan tentu saja Boby memberikannya. Kembali mengusap-usap sayang Gracia yang menyuruk di pelukannya.
"Abang jangan pergi. Jangan tinggalin Gre," gumamnya mengadu dengan suara yang serak.
"Abang gak kemana-mana kok. Gak akan tinggalin Gre. Kamu kenapa, hum?" tanya Boby yang penasaran tiba-tiba saja mendapati Gracia bermimpi buruk tentang dirinya.
Gelengan pelan Boby rasakan, " Gak tau. Tumben aja mimpi kalo Abang bakal pergi. Lagian Abang siihh pake pindah-pindah segala. Akunya ditinggal huhu.."
"Ya maap. Abang juga gak mau jadi mantu durhaka, gak nurutin keinginan orang tua yang pengen deket dan jagain anak mereka yang lagi hamil. Tapi 'kan, akhir-akhir ini Abang sama Kak Shania sering nginep di sini. Kamu juga seringnya nempel mulu sama Kak Shania. Eh, sini deh, liat Abang," Boby melepas kembali pelukan dan menangkup pipi chubby adiknya.
"Jangan lagi berpikiran kalau kamu bakal ditingal. Baik Abang, Kak Vino, maupun Mamah Yona, kami gak bakal ninggalin kamu, sayang. Akan terus selalu ada di samping kamu, menemanimu, menjagamu, karena kami keluarga kamu. Milikmu," ucap Boby penuh keseriusan dan pancaran kasih sayang untuk adik kecilnya.
Gracia tertegun mendengarnya. Sudah lama sekali rasanya. Kekhawatiran dan ketakutan itu pun perlahan menghilang, meringankan beban hati yang sempat membelenggu. Mereka tidak akan meninggalkannya, seharusnya Gracia paham dan mempercayainya. Tapi, entah kenapa, perasaan dulu, trauma yang dulu tiba-tiba muncul. Membuatnya sedih dan takut.
