Chapt. 23 : Pengakuan Kai

652 73 21
                                        

Sebuah ungkapan mengatakan bahwa "Karma selalu datang tepat pada waktunya, Karma juga tidak pernah salah alamat ". Kai membenarkan ungkapan tersebut, karena saat ini Kai telah menerima karmanya. Saat ini ini adalah saat yang paling menyedihkan bagi Kai. Pasalnya kini anak yang dicintainya tengah berbahagia dengan lelaki lain yang dianggap sebagai ayahnya sendiri. Kai menyaksikan sendiri adegan dimana anaknya lebih akrab dan nyaman bersama lelaki lain, ditambah dengan istrinya yang kini ini turut berbahagia di tengah-tengah mereka seakan-akan keluarga bahagia. Kai mulai muak melihatnya, seharusnya Ia yang ada di sana, bukan lelaki itu.

Kai menghela nafasnya, melihat ke sekelilingnya, ternyata ada panggung yang kosong. Melihat hal tersebut, Kai beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri salah satu petugas Cafe di sana dan merencanakan sesuatu.

Krystall yang melihat hal tersebut keheranan, ada perlu apa sampai harus berbicara dengan salah satu petugas? Krystall menepis pemikirannya berusaha untuk tidak peduli dengan urusan Kai. Ia lebih memilih untuk melihat Jeno yang kini sedang tertawa dan bercanda dengan Minho. Krystall jadi berpikir mungkin sudah waktunya, ia membalas seluruh jasa Minho dan menjawab lamaran Minho.

Pikiran Krystall mendadak kosong begitu mendengar duara Kai yabg berasal dari atas panggung, ia terkejut bukan main melihat Kai sedang duduk di atas panggung dengan memegang gitar, tentunya di dampingi juga dengan pemain piano serta drum.

"UNCLE KAI!! SEMANGAT!!!" teriak Jeno dengan senang melihat Kai yang begitu keren dimatanya.

"Ma, kalo Jeno udah gede, Jeno boleh kaya uncle Kai?" tanya Jeno dengan mata yang berbinar.

"Pasti sayang, dia ayah kamu, kamu pasti mirip dengan dia. Seberapa besar mama menutupi itu dari kamu, suatu saat nanti kamu pasti tau" batin Krystall sambil tersenyum mengelus wajah putra semata wayangnya.

"Test test! Maaf mengganggu waktunya, saya harap suara saya yang pas-pas 'an ini dapat menghibur pengunjung disini. Sekaligus saya ingin menyampaikan isi hati saya kepada salah satu pengunjung di tempat ini" ucap Kai sambil menatap Krystall, hanya Krystall yang ada di pikirannya saat ini. Meskipun ia gugup, tetapi demi menyampaikan isi hatinya, ia akan berusaha keras.

Kai menarik napas kemudian, mulai memetik gitar "benar ya kata pepatah penyesalan itu selalu datang terlambat, penyesalan selalu datang ketika orang yang kamu cintai pergi, harusnya aku bisa jaga kamu dengan baik, harusnya aku bisa mengutamakan kamu, harusnya aku bisa memperlakukan kamu dengan baik, masih banyak kata 'harusnya' yang ada di kepala aku, semenjak kamu pergi. Aku begitu bodo, aku baru sadar ketika kamu pergi. Aku baru yakin dengan perasaanku ketika kamu sudah pergi. Aku disini cuman mau bilang kalo aku.."

".. aku"

"Aku menyesal"

🎶 Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia.
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.
Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya.
Harusnya yang kau pilih bukan dia.🎶

Krystall terpaku mendengar pengakuan Kai dan jika, ia tidak salah lihat, mata Kai terlihat berkaca-kaca kemudian, Kai menunduk.

🎶Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya.
Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya.
Aku terluka, melihat kau bermesraan dengannya.
'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia.🎶

"Buat kalian lelaki diluar sana yang sudah memiliki perempuan hebat dihidupnya, hargai sebelum kehilangan, jaga sebelum kehilangan, karena jika sudah hilang, ia akan sulit untuk kembali. Meski ada seribu alasan untuk bertahan, jika sudah terluka, perempuan akan memilih pergi mencari kebahagiaannya yang tentunya tidak ada kalian di dalamnya"

🎶Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia.
Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.
Harusnya kau tahu bahwa cintaku lebih darinya.
Harusnya yang kau pilih bukan dia.

'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya.
'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia.🎶

Krystall berusaha menahan tangisnya melihat penampilan Kai. Kai sukses membuatnya teringat masa-masa dahulu. Ia harus pergi ke kamar mandi sebelum, ia menangis disini dan tentunya akan membuat Jeno bingung sedangkan Minho terluka.

"Jeno, mama ke toilet dulu ya! Mama sakit perut soalnya. Kamu baik-baik sama papa No ya! Jangan bandel!" Izin Krystall membuat Jeno menganggukan kepalanya.

"Kamu gapapa, Tall?" Tanya Minho dengan pandangan khawatir.

"I'm fine, No!" Jawab Krystall sambil tersenyum lembut kemudian, pergi ke arah toilet.

Dirasa toilet sepi, Krystall mulai masuk ke dalam salah satu toilet kemudian, menangis dengan pelan. Jujur Krystall tak paham dengan perasaannya sendiri, ia bingung. Ia membenci Kai, sangat karena Kai sudah menghianatinya dengan orang dari masa lalunya, dengan istri Dyo, istri dari sahabatnya sendiri. Kai juga tidak peduli dengan dirinya ketika sedang mengandung Jeno. Begitu banyak alasan yang mendukung Krystall untuk membenci Kai.

Tokk tokk tokk

Krystall terkejut bukan main ketika ada yang mengetuk pintu toiletnya, Krystall menghapus air matanya lalu, membuka pintu toilet.

Semakin terkejut ketika, melihat Kai dihadapannya tanpa membuang waktu, Kai menarik Krystall ke dalam pelukannya. Krystall tidak membalas pelukan Kai, ia hanya bisa menangis. Jujur ia rindu dengan pelukan Kai. Ia rindu dengan parfum Kai. Krystall tiba-tiba tersadar, ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak merindukan Kai sama sekali. Ia membencinya.

"LEPASIN AKU!" Krystall mendorong Kai sekuat tenaganya hingga pelukan Kai terlepas.

"Kenapa, Tall? Kamu nangis? Aku sayang sama kamu, Tall! Aku mohon kembali sama aku" lirih Kai sambil memegang tangan Krystall dan menciumnya.

Krystall kembali meneteskan air matanya "kamu itu luka buat aku, Kai. Semakin lama aku melihat kamu, aku semakin terbayang-bayang kejadian masa lalu. Aku gak bisa. Aku benci"

"Maaf, Tall. Maaf!"

Kai berlutut dihadapan Krystall, ia kehilangan akal untuk membujuk Krystall agar mau kembali dengannya.

"Kai bangun! Jangan gitu!" ucap Krystall sembari berusaha menarik Kai agar berdiri.

"Aku gak bisa lagi, Tall. Hidup tanpa kamu, tanpa Jeno. Aku gak bisa. Aku mau kita bangun kembali keluarga kecil kita. Aku mau mengembalikan yang dulu aku punya. Maaf, Tall!"

Krystall menguatkan hatinya agar tidak termakan tipu daya Kai. Baginya, Kai tetap sama, tidak akan berubah. Kesempatan kedua hanya omong kosong.

"Aku gak mau Kai! Aku benci kamu! Aku sangat membenci kamu, Jeno juga! Aku gak akan mau balik sama kamu!" Bentak Krystall membuat Kai menatap Krystall tak percaya.

"Kamu benci sama aku? atau benci sama diri kamu sendiri yang sampe saat ini bukannya benar-benar benci aku, malahan rindu aku?"

Ucapan Kai membuat Krystall bungkam. Kai benar. Ia benci dirinya sendiri yang tidak bisa menghadapi Kai dan menghukum Kai dengan sadis, bahkan membencipun tidak sanggup.

Krystall lemah.

Sungguh memalukan!







B E R S A M B U N G

HELLO GUYS! AKU KEMBALI~
Gimana kabar kalian? Baik" pasti kan ya.
Kira-kira kalian team mana nih??

KAI n KRYSTALL

OR

MINHO n KRYSTALL

Jangan lupa comment dan vote ya. Maaf kalo ada typo yaa. See you di next chapter!❣🤗

Je Vous AimeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang