dua puluh lima

655 42 16
                                        


Pernahkah kalian dengar bahwasannya cinta tidak pernah salah? Pernahkah kalian pernah dengar bahwasannya cinta itu suci, fitrah dari sang maha kuasa.

Lantas kenapa aku tersakiti oleh cinta ini? Apakah aku yang salah karena telah memberikan cinta pada hati yang salah?

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
* jangan lupa vote nya
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*dan juga komentar nya
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
* selamat membaca


Langit begitu mendung, menandakan hujan akan membasahi bumi. Namun langkah ku masih terkunci di sini, di balkon kamar Aprilia. Di dampingi oleh air mata yang terus membasahi pipiku.

Kenapa harus jatuh cinta jika akhirnya akan sesakit ini.

"Fa, udahan dong nangis nya" bujuk Aprilia.

Aku masih terdiam, teringat semua yang terjadi tadi pagi.

"Hai, Firdaus" wanita itu langsung melangkah ke arah mas Firdaus dan mencium pipi mas Firdaus.

Mata ku memanas melihat adegan singkat, namun menyakitkan hati. Ingin rasanya pergi dan menghilang dari sini, tapi entah kenapa rasanya langkah ku berat untuk beranjak. Hatiku semakin sakit takala ekspresi mas Firdaus biasa saja, seolah ia menerima kecupan itu.

Aku memilih pergi dari pada harus menahan air mata ku. Aku telah salah mencintainya, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Pada nyatanya aku memang sudah mencintainya, tidak tau sejak kapan cinta ini singgah di hatiku.

"Fa, mungkin kamu salah paham. Kenapa gak tanya dulu?" ucap Aprilia dengan memeluk tubuh ku.

"hiks, hiks, aku kenal semua temannya mas Firdaus, aku juga kenal keluarga besar mas Firdaus. Tapi wanita itu, aku sama sekali tidak mengenalnya" jawab ku.

"mungkin pak Firdaus belum sempat mengenalkan wanita itu dengan kamu, dan sekarang ia mau mengenalkan nya. Kamu memang belum dewasa dalam pernikahan ini, tapi setidaknya cobalah berpikir positif"

Aku menatap mata Aprilia, ucapannya betul juga. Terkadang aku heran dengan Aprilia, aku yang menikah tapi seolah ia yang paling berpengalaman. Dia yang tidak pernah berpacaran dan dekat dengan cowok, tapi dia yang lebih mengenal cinta.

Ia yang selalu menasehati ku tentang perasaan, cinta dan pernikahan ku. Ia juga yang menguatkan ku dan menyakinkan aku bahwasannya cinta itu akan hadir disaat yang tak terduga. Dan sekarang cinta ini telah hadir, namun kenapa ada wanita lain yang datang beriringan dengan cintaku.

Hujan membasahi bumi, air mata kembali menetes. Sedari tadi aku disini, tidak ada satu panggilan pun dari mas Firdaus. Jangankan untuk menelfonku, satupun pesan tidak masuk darinya. Hari mulai gelap aku bingung harus kemana, aku tidak mungkin pulang ke rumah bang Rizki. Aku malu karena tidak becus menjaga kekokohan rumah tangga ku, hanya disebabkan cinta ini datang terlambat.

Ku hapus air mata lalu kutatap mata Aprilia penuh harapan.

"Lia, boleh tidak aku nginap disini. Se,, setidaknya sampai aku berani pulang ke rumah bang Rizki"

Ia tersenyum "pintu rumah ku selalu terbuka untuk mu, kamu bebas mau tinggal berapa lama disini. Tapi, aku mohon sama kamu untuk beritahu ke suami mu, minta izin padanya bahwa kamu akan nginap disini"

"ingatlah, surga istri ada di suami. Kamu tidak lupa hal itu kan Fa" sambungnya lagi.

"aku tidak kuat Lia, sampai sekarang saja dia tidak mencari ku. Bahkan tidak menghubungi ku, untuk sekedar menanyakan keberadaan ku" air mata ku kembali membasahi pipiku.

Aprilia menunduk "aku tidak tau apa yang kamu rasakan, aku tidak akan memaksa kamu lagi. Tinggallah disini sampai kamu merasa lebih baik"

Aku langsung memeluknya, tidak mampu berkata-kata lagi. Aku sangat beruntung memilikinya, ia selalu menerima kekurangan ku. Aprilia kamu adalah anugerah terindah setelah bang Rizki.

Malam yang dingin dan panjang, aku masih terdiam disini. Aku selalu melihat setiap ada notifikasi dari handponeku, dan yang masuk hanya notifikasi dari instagram atau grup chat. Sedangkan notifikasi yang ku tunggu belum juga masuk, secepat inikah ia melupakan ku. Semenjak aku pergi sekalipun ia tidak menghubungi ku, bahkan sekedar menanyakan keberadaan ku. Katanya cinta tapi baru pergi sebentar udah lupa.

"Fa, kamu belum tidur?"

"sebentar lagi Lia, aku belum mengantuk" jawabku secara seraya menghapus air mata. Aku tidak ingin menangis, aku tidak ingin terlihat lemah, aku kuat, aku kuat. Tapi kenapa air mata ini terus menetes, kenapa dada ini terasa begitu sesak. Pikiran ku kacau.

lagi lagi Aprilia memelukku dan tangisan ku kembali pecah "sudahlah jangan nangis, besok kita jumpa pak Firdaus ya biar lebih jelas"

Aku langsung melepaskan pelukan kami dan aku melangkah menuju ke kasur. Mendudukan tubuhku, seraya berfikir apa aku masih sanggup untuk melihat dan bertemu dengan nya?.

Oh Allah, Engkau ciptakan hati untuk saling mencintai. Lantas kenapa saat aku jatuh cinta, justru membuat hatiku tersakiti.




Assalamualaikum semuanya, apa kabar? Kalian masih disinikan? Belum pada bubar. Aku minta maaf karena sudah membuat kalian menunggu, bukannya tidak niat buat nulis lagi. Tapi jadwal kuliah yang begitu padat ditambah dengan tugas yang gak pernah selesai. Tapi tenang aja, aku akan tetap nulis cerita ini sampai selesai!

Jangan lupa
• vote
•komen

My Teacher Is My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang