NICO - delapanbelas

10.5K 653 4
                                        

Flashback

Aku dan Anika baru menikah setengah tahun, dan baru memulai semua dari awal. Tapi semua berjalan dengan sangat membahagiakan. Aku mencintai istriku, dan aku pun merasa dicintai olehnya.

Setiap masalah datang, kami mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin. Atau aku akan mengalah demi menghindari teriakan dan pecahan piring yang mengancam diriku. Bukannya aku takut, tapi masa laluku melihat kedua orang tuaku bertengkar hebat, memberikanku pengalaman yang berarti. Dan tentu saja, aku tidak ingin mengulangi kesalahan orang tua.

Semua terasa indah. Aku sibuk dengan kuliah spesialisku, dan Anika sibuk dengan kuliah desainnya. Tapi kami tidak pernah melewatkan malam dengan sia-sia. Selalu saja kami akan menyempatkan waktu untuk mengobrol, atau melepas rindu di atas ranjang. Yah, kami suami-istri yang sangat suka ber-'olahraga'.

Perlu diketahui, bahwa bukan karena nafsu saja aku menikahi Anika. Kalau nafsu, lebih baik aku mencari wanita di club saja. Lebih mudah tanpa terikat komitmen kan? Tapi aku menikahi Anika karena lebih dari sekedar keinginan... Aku mencintai Anika, dan itu adalah hasratku memilikinya dalam hidupku.

Hari ini, langit sangat gelap. Anika di rumah sendirian, dan firasatku buruk. Aku memacu mobilku cepat dan sampai di rumah dengan segera. Tak ku sangka, aku menemukan Anika menangis di lantai ruang tamu.

Anika... Menangis histeris...

Aku segera memeluknya. Mencoba menenangkannya. Sungguh, aku bingung kenapa Anika sampai menangis. Petir belum menyambar, dan hujan belum turun. Lampu di rumahku juga masih menyala terang. Lalu istriku kenapa?

"Anika... ada apa sayang?" Tanyaku sambil terus mengusap punggungnya.

"Aku... aku... Nic...."

"Iya ada apa? Apa ada orang jahat yang menemui kamu? Ada apa? Bilang sama aku.."

Jika benar ada, aku tidak akan memberi ampun! Sungguh, aku ini bukan orang yang baik hati jika ada yang menyakiti orang yang aku sayang. Tapi bukannya menjawab, Anika menangis lebih keras. Aku benar-benar tidak bisa menduga apa yang terjadi!

Tidak mungkin kan ada seorang wanita yang datang dan mengaku hamil anakku?? Atau punya anak balita dengan DNA ku??! Sungguh, aku memang nananina ke sana kemari, tapi tidak satupun dari mereka yang bakal hamil! Aku bermain aman!

Anika terus menangis, dan aku pun tidak tahan menduga-duga yang tidak karuan. Please... Jangan seperti ini!

"Anikaaa... Jangan begini. Ayo bicara!"

"Nic... aku..."

Dengan sabar aku menunggu. Dengan sabar, sampai akhirnya Anika mendongak dan menatapku dengan mata penuh linangan air mata.

"Aku hamil!"

Deg.

Dua kata ... Dua kata yang sukses membuat lega sekaligus mencengkram jantungku erat. Anika hamil? Tapi ... Bagaimana mungkin! Kami memang melakukan hubungan suami-istri. Tentu saja tanpa pengaman. Tapi... Kami melakukannya dengan penuh perhitungan!

Aku dokter yang sedang residensi menjadi dokter kandungan. Masa iya aku salah mempraktekkan ilmuku?!

Oh astagaaa...

Sebelum menikah, aku dan Anika sudah sepakat untuk menunda mempunyai anak. Menunda bukan berarti kami tidak mau punya anak. Tentu kami mau! Tapi belum saatnya. Kami sama-sama masih muda dan masih mengejar impian kami. Memiliki anak dalam waktu dekat seperti sekarang hanya akan membuat kami menelantarkan salah satunya!

I Love Her 3 : NicholasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang