Aku menelepon Amara berkali-kali.
Tapi terus saja direject!
Oh astagaaaaaa... Ini sudah hampir jam dua belas tengah malam, tapi bukannya mengantuk, mataku terus terbuka lebar. Bahkan seperti akan keluar dari tempatnya! Padahal hari ini aku lelah... Aku seharusnya istirahat. Tapi tidak bisa! Ini gara-gara pesan yang dikirimkan Amara.
Arrrgghhhhhh...!!!
Bagaimana mungkin Paris yang begitu luas, begitu padat, dan begitu .... Bagaimana mungkin Amara dan Nicky bertemu dengan istriku! Bagaimana bisa mereka bertemu dengan ibu dari anakku! Bagaimana caranya?!
Ini konyol! Ini benar-benar mustahil! Ini tidak masuk akal!
PARIS ITU BUKAN 'PASAR INPRES' YANG SEPETAK! Paris itu luas! Seluas Jakarta dan sepadat Jakarta! Banyak tempatnya!
Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu!?!
Tapi aku yakin Amara tidak sedang bercanda. Kenapa? Aku sama sekali tidak pernah memberitahu nama istriku. Tidak pernah! Tapi Amara mengetikkannya di pesan itu!
Dia MENEMUI Anika! Dia dan Nicky sedang bertemu dengan Anika!
DAMN!
"Nic.. duduk!" perintah Ello.
Aku mana mungkin bisa duduk! Bagaimana mungkin aku duduk?! Aku tidak bisa tenang dalam situasi seperti ini! Ini masalah serius! Aarrgghhhhh...
Aku terus coba menelepon berkali-kali. Aku terus mondar-mandir. Menghela nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Berulang-ulang. Memijit pelipisku. Semua aku lakukan agar kepalaku terasa lebih dingin... Lebih ringan!
Tapi tidak bisa! Tidak ada efeknya! Kepalaku tetap sakit, bahkan semakin sakit karena tidak satupun teleponku diangkat!
"Lu tau, kalau mereka bisa ketemu di peluang yang begitu kecil, berarti itu memang takdir yang dibuat Tuhan, Nic. Itu takdir dan itu semua di luar kekuasaan lu!"
Damn! Leo benar. Aku tahu Leo benar! Kemungkinan mereka bertemu itu satu banding jutaan! Sangat mustahil, tapi mereka bisa bertemu!
MEREKA BERTEMU!
"Nic... duduklah."
Sial! Kenapa tidak diangkat! Memangnya siapa Amara sampai tidak mau mengangkat teleponku, hah?! Masalahnya ini berhubungan dengan anakku. Ini tentang anakku. Nicky itu anakku!
"Dia itu cuma pergi dan bukan mati. Dia masih hidup dan dia pasti mau melihat Nicky juga. Lu tenang lah." Leo menepuk bahuku, tapi langsung aku singkirkan tangannya.
AKU TIDAK BISA TENANG! Mana mungkin aku tenang di saat aku tahu anakku bertemu dengan ibunya! Anakku bertemu dengan ibu yang sudah meninggalkan dia saat dia masih kemerahan!
"Duduk Nic..."
"Damn!" teriakku sambil melempar ponsel ke sofa. Tidak ada satupun panggilanku yang diangkat!
Oh God... Nicky itu anakku! Dia anakku!!!
Ingin sekali aku membenturkan kepalaku di tembok dan menjambak habis rambutku. Aku bisa gila kalau caranya seperti ini! Aku hanya ingin penjelasan! Aku ingin bicara! Aku ingin menanyakan keadaan anakku!
"Dia itu anak Anika juga, Nic..."
.........
Ya... Aku tahu...
Tapi rasanya, Nicky itu hanya anakku. Aku yang membesarkannya... Aku yang merawatnya... Aku yang mendidiknya... Semuanya aku... bahkan hanya aku yang menginginkannya!
"Nicky bakal baik-baik a-...."
"Dia ga mungkin baik-baik aja!" Potongku cepat sebelum Leo menyelesaikan kalimatnya.
Nicky tidak mungkin baik-baik saja. Dia pasti syok. Dia pasti kesal dan marah! Dan saat ini, aku tidak berada di dekatnya! Aku dipisahkan ribuan kilometer oleh samudera!
Bahkan teknologi yang bisa membuat semua terasa dekat pun tidak ada gunanya! Amara tidak membiarkanku menelepon anakku!
Aku menghempaskan tubuhku kasar ke sofa bed. Ponselku berdering. Tanda pesan masuk, tapi Ello lebih dulu meraihnya. Aku pasrah saja. Paling juga operator telepon.
"Pesan..."
Aku tahu!
"Dari Amara." Kata Ello lirih.
Aku menoleh.
Ya ya ya... Terserah dia mau sedih atau apa. Tapi aku butuh Ello membaca isi pesan itu, bukannya menatap ponselku seperti diam membatu!
"Isinya apa Lo?" Tanya Leo mendahuluiku.
"Dia bilang, jangan kuatir. Lu kerja yang bener aja, dan dia bakal jagain Nicky. Dia juga minta maaf karena harus matiin ponselnya dan bikin keputusan sendiri buat habisin sisa liburan bertiga. Dia capslock kata 'liburan'."
What?!
"Dia, Anika dan Nicky. Mereka mau liburan. Itu katanya..."
Double what!
Mereka?! Mana ada yang disebut MEREKA?! Yang ada hanya aku dan Nicky! Itu artinya kami, dan bukan mereka! Aku yang seharusnya menemani Nicky melihat salju dan berjalan-jalan di sepanjang sungai Seine! Aku yang seharusnya mengajak Nicky ke Eiffel Tower! Aku yang seharusnya mengajak Nicky keliling kota Paris!
Seharusnya kami yang ada di sana!
Kami!
Bukan mereka!
Tapi kenyataannya adalah mereka...
Bukan kami...
Huff... Aku sadar aku mendadak gila karena sudah lama tidak ingin tahu tentangnya. Sudah lama... Bahkan tidak pernah sekalipun aku menghubunginya. Leo lah yang sepertinya menamparku dengan keras.
Ya...
Anika masih hidup dan bukan mati. Dia hidup dan ada di dunia ini! Dia ada di Paris, dan aku tahu itu! Tapi aku malah menganggapnya seperti tidak ada dimana pun.
Bukankah aku mengatakan aku mencintainya?
Lalu apa yang aku cintai kalau keberadaannya di dunia ini saja seperti enggan aku akui!
Huff...
Anika...
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love Her 3 : Nicholas
RomanceTrilogi 'I Love Her' Mengisahkan tiga orang dokter muda, tampan, dan pujaan di rumah sakit. Leonardo, Marcello, dan Nicholas. Mereka tidak mengenal cinta, sampai suatu kali cinta datang menyapa. Mengetuk pintu hati mereka dan meminta ijin untuk mas...
