Leo POV
Sungguh... Sangat miris melihat keadaan Nico.
Aku sungguh tidak menyangka kepergian Anika yang kedua kalinya akan berdampak sangat sangat sangaaaaat luar biasa. Bahkan Ello sampai turun tangan merawatnya dengan segala macam terapi! Nico benar-benar menjadi gila!
Perlu ku akui, di antara kami bertiga, memang Nico yang mempunyai cobaan paling berat. Yah... Walau aku juga berat harus terus menunggu tanpa kepastian.
Alena...
Sudah lebih dari setahun dia terus tertidur. Kadang rasanya aku ingin berteriak seperti orang gila agar dia bangun, tapi apa daya. Alena tetap memilih untuk tidur. Bahkan seperti saat ini. Dia masih tertidur. Tidak membiarkan aku melihat matanya yang indah itu lagi.
Huff...
"Len... Sampai kapan kamu mau terus begini? Aku capek... Capek nunggu kamu seperti ini terus! Aku mohon... Bangun!"
Tidak ada jawaban.
Jika saja Alena membuka mata dan membisu seperti dulu, mungkin diamnya akan ku anggap jawaban iya. Tapi sekarang???
"Aku mohon Len... Aku mohon!"
Entah sudah berapa kali aku menangisi semua kesepian ini. Menunggu bukanlah hal yang aku sukai! Sama sekali bukan! Aku benci menunggu!!! Dan aku benci menjadi pria cengeng dan melankolis seperti ini!
Ku mohon...
"Aku cinta sama kamu Len... Aku mohon, bangun! Aku capek... Aku capek nunggu begini! Aku mohon Len... Bangun! Aku akan kasih apapun yang kamu mau kalau kamu bangun! Please... Bangun!"
Sama. Tetap sama.
Alena diam. Masih terbaring, bahkan tidak bergerak sedikitpun!
"Le... Sejak kapan lu jadi cengeng gitu?!"
Aku langsung menoleh ke arah pintu. Amara?! Untuk apa dia malam-malam kemari?! Memang sih tadi siang dia yang menemani Amara di sini, tapi untuk apa lagi dia datang kemari? Bukankah dia sudah pamit tadi?
"Ngapain lu balik malem-malem ke sini lagi?! Ga dianter sama Ello, heh?" Sindirku balik.
"Gue juga mau pulang kok. Cuma ya itu... Temen lu nyuruh gue nunggu. Gue nunggu sampe jamuran di kantin, ehhh dia ga muncul-muncul. Mau dia apa sih?! Coba kalau gue bawa mobil, gue udah langsung pulang! Supir gue juga lagi pulang kampung" omel Amara.
"Taksi?" Tanyaku memberi solusi.
"Satpam di depan disogok Ello buat ga manggilin gue taksi! Kalaupun ada, gue ga boleh naik! Keki kan?" Amara melipat tangannya di depan dada dan cemberut.
Aku hanya bisa terkekeh geli. Dasar Ello, jadi ini cara yang dia gunakan untuk membuat Amara kembali padanya?
Ternyata memang ya, walau kami bertiga suka main wanita, tapi skill kami untuk menakhlukkan hati wanita nol besar! Mungkin ada baiknya kami masuk kuliah merayu dulu. Ck!
"Mau gue kasih cara biar Alena bangun?" Kata Amara tiba-tiba.
Aku langsung menaikkan sebelah alisku. Aku dan Amara itu sama-sama dokter, dan sudah jelas keadaan Alena itu koma! Tahu arti koma kan? Kalau ada cara agar Alena bangun, sudah dari setahun lalu dokter-dokter di rumah sakit ini menggunakannya! Bahkan aku sendiri yang akan langsung mengaplikasikannya pada Alena!
"Jihhhh... Mau ga sih kekasih lu bangun? Gue serius malah dikira bercanda! Sebel ah! Keki sama lu! Jangan nangis kalau nanti Alena ga bangun-bangun gara-gara lu ga nurutin cara gue!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love Her 3 : Nicholas
RomanceTrilogi 'I Love Her' Mengisahkan tiga orang dokter muda, tampan, dan pujaan di rumah sakit. Leonardo, Marcello, dan Nicholas. Mereka tidak mengenal cinta, sampai suatu kali cinta datang menyapa. Mengetuk pintu hati mereka dan meminta ijin untuk mas...
