"LU BENER-BENER BIKIN KEPUTUSAN YANG SALAH BESAR! LU BENER-BENER COWOK BRENGSEK DAN EGOIS! LU COWOK YANG BAHKAN GA PUNYA HATI BUAT NGERTIIN ISTRI LU SENDIRI!!!" maki Amara.
Amara apa-apaan sih! Datang dan langsung menamparku. Memangnya aku salah apa? Seumur hidup, tidak ada wanita yang berani menamparku! Mereka menghargai yang disebut wajah tampan. Tapi beraninya Amara....?!
Tarik nafas dalam. Tidak mungkin aku melawan wanita dengan kekerasan. Kepalaku harus dingin dan tidak melibatkan emosi. That's who I am, right?
"Wow wow... easy! Lu dateng-dateng nampar gue dan maki gue brengsek? Gue egois? Gue ga punya hati? Woi.. apa salah gue!"
"Lu masih tanya salah lu?!"
"Ya, gue nanya apa salah gue!"
"Hei, gue udah ngasih lu kesempatan buat beresin hubungan lu sama Anika! Gue udah berlutut dan mohon-mohon agar dia mau pulang ke Indonesia. Dan lu ..." dengan tidak sopannya, Amara mengacungkan jari telu juknya di depan wajahku.
"LU MALAH BIKIN DIA PULANG KE RUMAH DENGAN SIA-SIA!" Teriak Amara.
Syukur saja cafe ini tidak terlalu ramai. Walau begitu, semua pasang mata yang ada di sini menatap kami. Ck!
Tapi aku tidak peduli. Lebih tepatnya, aku tidak terima! Aku tidak meminta Amara untuk membawa Anika pulang. Aku tidak memintanya melakukan semua itu! Dia sendiri dengan kepintaran dan kesoktahuannya yang melakukan semua itu. Lagipula, dia hanya orang luar dalam masalah ini!
"Lu ga tau apa-apa!" Balasku tajam.
"Lu yang ga tau apa-apa!"
Apa?! Hei, aku yang menjalani semua ini! Mana mungkin aku tidak tahu apa-apa!?
"Apa yang gue ga tau, hah?! APA YANG GUE GA TAU HAH??! Gue bahkan tau Anika punya pa-..."
"Pacar dan Anika tidur sama pacarnya?!" Potong Amara.
Bagaimana dia bisa tau?
"What the hell! Lu bener-bener idiot Nicholas Hadinata! Anika ga mungkin tidur dan ngelakuin apa yang lu pikirin! Dia Anika! Dia bukan lu! Dia bukan cewek murahan! Dan yang perlu lu ketahui dengan jelas.... Dia ga mungkin bisa ngelakuin itu!"
Aku mengerutkan dahiku bingung. Melirik Leo yang masih duduk di tempatnya. Dia hanya diam dan seperti orang kaget yang menyadari sesuatu. Tapi ada yang membuat aku bingung... Kenapa Leo dan Amara yakin sekali Anika tidak melakukan hal-hal yang seperti aku pikirkan?
"Mana mungkin dia ga ngelakuin itu, huh? Kenapa ga bisa?? Dia tetep manusia! Dia bisa ngelakuin sama cowok manapun yang dia suk-..."
"DIA KENA KANKER SERVIKS! DIA GA MUNGKIN NGELAKUIN ITU KARENA HANYA BIKIN DIA KESAKITAN, BRENGSEK!"
What?
"Itu Cuma alasan biar lu ga muasin nafsu birahi lu! Nafsu binatang lu! You jerk! Dan itu alasan biar lu... BIAR LU TETEP GA TAU SELAMA LIMA TAHUN INI DIA KEMANA!"
What... Aku... Aku tidak mengerti. Maksudnya ... Maksudnya apa???
Amara menangis, bahkan semakin menjadi-jadi. Ello pun berinisiatif membantu Amara duduk di bangku kosong. Berhadapan dengan Leo yang masih diam dan tidak berani angkat bicara.
Aku pun hanya bisa ikut duduk. Kepalaku terasa kosong. Rasanya ini.... Oh God.
Kanker???
Anika kena kanker?!
"Awalnya itu Cuma sel-sel abnormal. Udah ada sejak dia hamil atau malah sebelum hamil Nicky. Lalu berubah menjadi ... Yah, you know. Kanker. Dan ternyata itu sebabnya kenapa dulu dia ga pernah ngijinin lu masuk setiap kali dia melakukan pemeriksaan kandungan."
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love Her 3 : Nicholas
RomanceTrilogi 'I Love Her' Mengisahkan tiga orang dokter muda, tampan, dan pujaan di rumah sakit. Leonardo, Marcello, dan Nicholas. Mereka tidak mengenal cinta, sampai suatu kali cinta datang menyapa. Mengetuk pintu hati mereka dan meminta ijin untuk mas...
