Cahaya matahari tepat menusuk kelopak mataku. Ugh... Padahal tidak langsung menyentuh permukaan mataku, tapi rasanya silau sekali! Seharusnya aku menutup tirai sebelum tidur.
Tunggu... Hari apa ini?
SENIN!
Astaga... Aku harus segera bangun. Ini sudah pagi dan aku harus bekerja. Jam berapa sekarang? Aaaaarrgghhh... Mataku masih sulit untuk terbuka.
Setelah mengumpulkan semua nyawaku, akhirnya aku paksa membuka mata. Silau sekali, tapi mataku berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya itu. Sampai beberapa menit akhirnya aku benar-benar sudah tersadar.
Aku bermaksud untuk bangun untuk bersiap menjalani hari Senin menyebalkan ini, tapi saat itu aku baru menyadari sebelah lenganku tertimpa sesuatu. Terasa berat dan sulit ku gerakkan.
Tidak mungkin lumpuh mendadak kan?
Dengan segera, aku menoleh dan mendapati Anika di sana. Masih memejamkan matanya dan kepalanya tergeletak di atas lenganku.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku kira semua kejadian kemarin itu hanya mimpi belaka. Mimpi Anika kembali dan petir menyambar.
Jadi... Kemarin itu nyata?
Dan.... Kami tidur bersama? Dalam keadaan berpelukan?
Wow...
Sebenarnya semalam apa yang terjadi? Aku hanya ingat petir menyambar dan berlari ke kamar untuk menemui Anika yang berteriak ketakutan.
Ck.
Rasanya aku seperti orang mabuk yang tidak ingat apa yang terjadi semalam dan terbangun, mendapati seorang wanita tidur di sampingku. Syukurnya, aku tahu siapa wanita ini dan statusnya masih istriku!
Kalau tidak, mungkin aku lah yang akan berteriak nyaring seperti orang yang diperkosa! Jujur saja, kalau itu benar terjadi, aku tidak akan punya muka lagi di dunia ini. Hanya satu wanita yang ada di hatiku dan wanita itu masih terlelap di pelukanku...
Aku memandanginya. Melihat wajah tidurnya yang sudah lama kurindukan. Lama sekali aku menikmati memandang wajahnya, sampai aku teringat kenapa dulu aku mencintainya.
Karena dia adalah Anika. Anika-ku...
Ah, ternyata memang aku tidak akan pernah bisa menghentikan perasaan ini. Sekalipun banyak sakitnya, tapi aku mencintainya...
Aku mencintainya...
Tapi kesadaranku mengambil alih penuh diriku. Matahari semakin tinggi, Dan aku tidak ingin Anika berteriak saat bangun nanti. Aku tidak ingin dia mengira yang tidak-tidak.
Aku baru saja ingin memindahkan lenganku, tapi tangan Anika yang melingkar di pinggangku malah semakin erat memelukku. Mataku membesar kaget.
Anika sudah bangun???
"Please... jangan bangun dulu. Aku Cuma mau nikmatin ini sebentar lagi..." kata Anika dengan suara serak baru bangun tidur.
Aku hanya bisa tersenyum. Aku pun sama. Aku masih ingin menikmati ini sebentar lagi, melupakan hari Senin yang seharusnya membuatku kelabakan karena terlambat ke rumah sakit.
Ah, bukankah Amara bilang aku harus menikmati waktuku? Aku libur kan??
Yah, aku akan libur. Mungkin hari ini saja. Besok aku akan kembali bekerja. Aku masih butuh uang untuk sesuap nasi kan?
Lagipula... Aku mencintai wanita di hadapanku ini. Bahkan merindukannya... Jadi boleh kan untuk sebentar saja?
"Boleh aku peluk?" Tanyaku sama seraknya.
Anika tidak menjawab tapi semakin mengeratkan pelukannya. Aku anggap itu sebagai ya.
Tanpa membuang waktu, aku memeluknya.
Aku memeluknya dan mendekapnya... menumpahkan semua rasa rindu yang aku rasakan semalam. Semua rasa berkumpul menjadi satu dan aku tidak bisa menahan apapun lagi.
Aku mendekap Anika dalam pelukanku... mendekap istriku...
"Nic..." Panggilnya.
"Ya?"
"Aku kangen kamu..."
Jantungku seperti berhenti berdetak. Hanya satu kalimat itu, dan mampu membuatku meneteskan air mata. Aku tidak menyangka... Sungguh, rasanya seperti mimpi. Tapi tidak... Aku tahu ini bukan mimpi. Anika benar-benar mengatakan kalau dia merindukanku kan?
Itu artinya bukan hanya aku yang merindukannya selama enam tahun ini bukan?
"Aku kangen kamu Nic... aku kangen Nicholas Hadinata, suamiku... Aku kangen kamu.."
Pelukan erat itu semakin erat. Menghapus jarak yang ada dan melepas semua yang kami tutupi selama imi. Rasanya dengan cara itulah kami bisa menghilangkan semua kerinduan kami.
Hanya dengan cara itu kami bisa saling mendengar...
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love Her 3 : Nicholas
RomansaTrilogi 'I Love Her' Mengisahkan tiga orang dokter muda, tampan, dan pujaan di rumah sakit. Leonardo, Marcello, dan Nicholas. Mereka tidak mengenal cinta, sampai suatu kali cinta datang menyapa. Mengetuk pintu hati mereka dan meminta ijin untuk mas...
