[Zakira Andelin]
Empat anak cowok itu berhenti sejenak dari kegiatan manjat-memanjatnya. Satu orang yang kakinya baru lewat sebelah dari pagar terkejut melihat gue, begitupula yang di bawahnya yang lagi nunggu antrian memanjat.
"Mau ke mana?"
Gue bersandar di tembok dekat kursi yang mereka letakkan untuk memanjat sambil melipat tangan.
"Kenapa? Mau ikut?"
Cowok yang berdiri paling ujung dari gue menaikkan satu alis sambil sedikit menyeringai. Rambut acak-acakannya yang dicat putih kekuningan semakin semerawut ketika tangannya mengusak kepala. "Cewek cantik berani dateng ke sini. Sendiri lagi. Gak takut, Dek?"
Gue nyaris tersedak ketika kata "Dek" keluar dari mulut bau bangkai cowok bengal itu. Gue otomatis langsung tertawa keras sambil memegangi perut. Setelah beberapa menit, akhirnya tawa gue reda juga dan gue kembali masang mode sok cool tanpa memedulikan tatapan heran empat cowok di depan dan samping gue. "Dak-Dek, Dak-Dek pala lo gak bener. Sejak kapan gue jadi adek berandalan kayak lo."
Kayaknya cowok acak-acakan itu sedikit tersulut mendengar omongan gue.
"Lo!"
Tiba-tiba saja dia berjalan cepat terus mengungkung gue di antara dua lengannya sambil menatap gue tajam. Alamak, dikiranya gue bakal berdebar-debar abis itu klepek-klepek dan jatuh ke dalam pesona dia apa? Park Bogum yang gantengnya to the max aja gak berhasil bikin gue klepek-klepek(?).
Gue balas menatap sorotan mata cowok sok keren di depan gue ini tajam. Kemudian memasang mode anak lugu yang takut sama idola sekolah.
"Mukanya bisa dijauhin dikit? Mulut lo bau."
Aw. Mati gue. Ini mulut kalau ngomong suka bener aja.
Cowok itu terlihat semakin marah mendengar ucapan gue.
"Lo-" geramnya tertahan dan rahangnya menutup kuat sambil terdengar gertakan giginya yang kayak suara bajaj kehabisan bensin. Kretek. Kretek.
"Lo bilang apa ke gue?"
Gue memutar mata. "Budek ya lo? Gue bilang, pala lo jauhin dikit, mulut lo bau dosa."
Gue bisa denger temennya yang tadi sudah nyaris melewati pagar yang kini berdiri di kursi terkikik pelan. Terus dua temannya yang lain memalingkan muka sambil mengulum-ngulum bibir.
"Baru kali ini ada yang berani ngatain gue. Cewek di bawah standar kayak lo pula. Wah. Wah. Nyari mati?"
Idiih, gayanya.
Gue berdecak, kemudian menggeleng miris. "Enggak. Gue mau cari masalah," jawab gue seadanya.
"Lo salah nyari masalah sama kita," celetuk temannya yang pakai ikat kepala dari dasi.
"Bagus dong. Berarti masalahnya makin berat. Aw. Gak sabar."
Temennya yang dari tadi diam di bagian pojok pertemuan ujung pagar geleng-geleng kepala melihat ekspresi senang gue. "Cewek gila," katanya.
"Ngomong-ngomong kalian mau ke mana?" tanya gue pura-pura gak tau. Sebenernya memastikan aja sih.
"Mau tawuran," jawab yang di atas kursi.
"Kenapa lo kasih tau dia, Goblok!" temannya yang di samping cowok sok keren---yang masih ngurung gue dengan dua tangannya---itu menyaut dan menatap tajam temannya yang tadi menjawab pertanyaan gue.
Gue mengangguk-angguk. "Berarti emang kalian target gue."
"Maksud lo?" cowok di depan gue meninju tembok tepat di samping gue. Buset, dikiranya gue bakal kicep.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gabut [Completed]
JugendliteraturZakira Andelin, cewek gabut kekurangan beban hidup. Merasa kosong dengan hidupnya, Delin memutuskan untuk menjadi freelancer yang menawarkan jasa tidak biasa. Mulai dari jasa jadi pacar bohongan, dukun gadungan, maling rambutan, pawang murid berand...
![Gabut [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234285897-64-k40060.jpg)