5. Di Luar Dugaan

251 48 5
                                        

[Zakira Andelin]

Gue gak pernah menyangka, kalau akhirnya gue bakal mengalah sama sesuatu yang awalnya gue gak suka. Ternyata, sedikit kebenaran yang diungkapkan Rasi kemaren membuat ketidaksukaan gue goyah dan bahkan sedikit demi sedikit luruh.

Dan di sinilah gue sekarang, di kafe kecil pinggiran Jakarta, dengan seorang laki-laki yang awalnya gue gak mau berurusan sama sekali tapi sekarang gue tertarik untuk ada urusan sama dia. Hanya karena beberapa masalah yang bakal gue dapat. Sebenarnya, gue ini waras gak sih?

"Jadi ... kontraknya mulai jalan hari ini ya?" gue menyeruput jus mangga di gelas gue, kemudian setelah meletakkannya kembali ke meja, gue meraih tas gue dan mengeluarkan sebuah map. "Lo harus tanda tangan kontraknya dulu baru gue bisa bantu."

Zavin di depan gue, yang sejak tadi entah kenapa tak ada suara itu tersenyum. Heran, sejak tadi yang dia lakukan hanya bergumam, "Oh. Oke. Iya. Siap." Lalu tersenyum.

Gue berdecak, malas menanggapi. Biarkan saja toh. Kemudian, gue mengeluarkan kertas selembar dari dalam map cokelat itu, mengulurkannya ke depan Zavin bersama sebuah pulpen. "Lo boleh baca dulu sebelum tanda tangan," kata gue.

Zavin merunduk. "Bacain tolong," ujarnya kemudian memasang senyum aneh lagi.

Gue mendelik, menatapnya jengkel. Namun, gue akhirnya memilih mengalah. Gue langsung inget kata-kata Rasi, gak usah mempersulit klien. Dengan keras gue tarik kertas perjanjian itu. "Langsung gue bacain poin-poinnya aja deh ya?"

Zavin bersedekap kemudian bersandar ke kursinya sambil menatap gue, kemudian mengangguk.

Nyebelin.

"Perjanjian kerja sama. Pertama, klien dilarang membocorkan identitas partner apabila kerjasama telah berakhir. Kedua, kedua belah pihak dilarang membocorkan kerja sama ini kepada pihak mana pun dan akan terus menjadi rahasia yang bersangkutan. Ketiga, apabila kerjasama yang dilakukan bersifat sementara, setelah kontrak berakhir kedua belah pihak kembali menjadi orang asing. Keempat, masing-masing pihak dilarang terbawa perasaan pribadi. Jika pihak klien menandatangi perjanjian ini, maka klien setuju dengan persyaratan yang diberikan," gue menghela nafas, "udah. Jadi ... gimana? Syaratnya mudah kan?"

Zavin tampak menimbang-nimbang kemudian sambil menerawang, dia menyedot pipet jus jeruk di depannya. Akhirnya setelah sekian lama dia minum juga, rencananya kalau dia gak kunjung minum, es jeruknya bakal gue sikat aja, kan mubazir kalau cuma diliatin. Ehek. Tapi---apa perasaan gue aja ya? Kayaknya Zavin agak keberatan sama syarat-syaratnya. Tapi itu emang persyaratan yang gue susun sama Rasi, dan buat klien lain juga pake persyaratan itu juga, kok.

"Hoi!" gue menjentikkan jari di depan wajah dia, "jadi gimana?"

Dia menghela nafas berat. "Oke," katanya kemudian mengambil pena dan mulai menandatangi.

"Jadi, di mana aja, kapan aja, di depan siapa aja gue harus pura-pura jadi pacar lo?"

"Di semua tempat, di setiap waktu, di depan siapa aja."

"WHAT?!" Gue terperanjat kemudian menepuk meja dan refleks berdiri. Mata gue kayaknya nyaris keluar. "Gak bisa gitu dong! Lo bilang cuma buat nunjukin di depan temen-temen lo doang!" bentak gue gak terima.

Dia mengangguk-ngangguk santai. "Iya emang. Tapi kalau tau temen gue, pasti beritanya bakal kesebar, soalnya temen gue mulut ember semua. Jadi ... mau gak mau ya harus mau," katanya santai. Sesantai itu dalam memaksa.

"Wah, parah lo. Kenapa gak bilang dari tadi kampret! Kalau gini gue gak bakal punya me time, dong. Wah---parah."

"Nanti kan me time-nya bisa sama aku."

Gabut [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang