[Zakira Andelin]
Setelah gue mengambil tas dan ponsel gue, tentu saja beberapa lembar uang, gue turun ke bawah.
Sebelum itu Rasi nanya, "Eh, Del, mau ke mana? Kenapa tiba-tiba pergi?"
Gue jawab apa adanya, "Gue kerja, Zavin ngajak gue keluar, katanya mau ngajak gue ketemu temen-temennya."
Kalian tahu apa reaksi Rasi?
Gadis itu membelalak, melempar kacamatanya ke sudut kasur kemudian melompat turun dan menyeret gue masuk ke kamar lagi, bahkan keripik kentang yang belum hancur di mulutnya saja nyampe menyembur ke mana-mana karena histeris sendiri. "YAAMPUN DELIIIN! BISA-BISANYA LU KETEMU COGAN PAKE DANDANAN GEMBEL GINI! YANG FENININ DOOOONG!" katanya tepat di telinga gue. Bikin telinga gue sengau.
Mungkin suara Rasi saking kerasnya sampe ke dengeran ke bawah. Karena pas gue turun---setelah didandanin Rasi---Zavin kayak mengulum-ngulum bibir.
"Apa lo! Mau ketawa ya ketawa aja." Gue memelototi Zavin. "Kayak badut ya gue? Is, punya temen ribet amat," gerutu gue masih kesal.
Rasi memaksa gue mengganti baju dengan dress selutut berwarna krem, kemudian dilapisi jaket lepis biru di luarnya. Rambut gue dikasih bandanya yang dililit terus berbentuk pita di atasnya. Terus gue dikasih make up. Untuk yang satu ini, gue langsung wanti-wanti kalau Rasi makein gue make up menor tante-tante. Untungnya enggak, cuma make up tipis dengan lip gloss merah muda. Ini gue udah berasa kayak anak TK banget tau gak? Didandanin pake bandana-bandana gini. Gue hampir aja ngebuang itu bandana kalau aja Rasi gak melototin gue terus ngancam dia bakal menghapus gue dari daftar sahabatnya. Is. Kejaaaaam. Tega banget itu Bi Asih sama gue.
Zavin tertawa kecil, mengulum bibirnya sambil menatap gue. Kemudian tersenyum. "Enggak kok. Cantik malahan. Banget," katanya.
Gue langsung memasang pose muntah. Ewh, geli banget anjir. "Alay lo ah!" ucap gue kemudian memakai sepatu sket putih gue. "Buruan oy! Kita mau ke mana sih? Naik apa? Angkot?" cerocos gue kemudian jalan mendahului Zavin.
"Gue bawa mobil," jawab Zavin di belakang.
Gue menoleh sebentar, "Oh," kemudian kembali berjalan. Gue kira naik angkot. Gue sih oke-oke aja.
***
[Zakira Andelin]
Ternyata Zavin ngajak gue ke sebuah pusat perbelanjaan. Katanya dia janjian sama temennya mau ketemu di sini.
"Sebenernya gue males banget ke tempat kayak gini," ucap gue asal ketika keluar dari mobil dan berdiri di sana, "tapi karena harus profesional ... yah, sudahlah."
Zavin yang juga baru keluar setelah mengunci mobilnya menatap gue sambil menaikkan alis, "Kenapa?" tanyanya.
Gue menoleh ke arah dia. "Apa?" tanya gue balik.
"Kenapa kamu gak suka ke tempat kayak gini?"
"Oh," jawab gue. Gue kira dia gak dengar tadi. Kemudian gue mengendikkan bahu. "Gak pa-pa, sih. Cuma males aja. Rame banget di dalam kan? Bising pula." Gue menghela nafas, "Tapi ... karena kita udah di sini, ayo masuk," ajak gue.
Zavin yang tampak memikirkan sesuatu kemudian mengangguk. Kami berjalan bersisian memasuki pusat perbelanjaan itu.
Kata Zavin dia ada janji bertemu teman-temannya itu di sebuah kafe di dalam. Gue sih iyain aja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gabut [Completed]
Teen FictionZakira Andelin, cewek gabut kekurangan beban hidup. Merasa kosong dengan hidupnya, Delin memutuskan untuk menjadi freelancer yang menawarkan jasa tidak biasa. Mulai dari jasa jadi pacar bohongan, dukun gadungan, maling rambutan, pawang murid berand...
![Gabut [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234285897-64-k40060.jpg)