[Zakira Andelin]
Gue turun dari boncengan Regal di depan pagar rumah sembari menenteng sebuah kotak kue yang gue pilih untuk ulang tahun Mama.
Sekarang sudah pukul tujuh, dan dari luar rumah tampak seperti biasa, sepi. Hanya lampu yang menyala terang dari dalam dan teras---beberapa lampu pagar dan taman. Untunglah ada Bi Irin, orang yang selalu menjaga rumah. Kalau dia tidak ada, mungkin rumah udah bener-bener kayak sarang hantu kali ya. Udah gede, gelap, sepi pula. Udah cocoklah buat tempat acara uji nyali mencari setan.
"Makasih buat hari ini," kata gue setelah berdiri di depan pagar sambil memeluk kotak kuenya.
"Harusnya gue yang bilang makasih," balas Regal.
"Ah elu cong. Pergi lo sana, malah senyum-senyum. Cringe banget muka lo gitu." Gue mendelik ke arah Regal yang tersenyum ke arah gue. "Tawuran kek sana!" tambah gue.
Regal tertawa kemudian. "Giliran gue udah gak tawuran, malah lo suruh. Kemaren pas Saga ngajak gue tawuran, malah lo larang. Malahan mau dihajar."
Gue berdecak, menatap tajam. Sebenernya gak apa-apa sih. Cuma ya, tiba-tiba muka gue kenapa-napa kalau liat dia senyum atau ketawa. Tiba-tiba panas kayak banyak setannya. Kesiram cabe sekilo aja lewat.
Buset perumpamaannya.
"Ah, berisik lo! Udah pergi lo sana." Gue kemudian menggerakkan tangan, mengusir cowok itu lalu membuka pagar.
"Kenapa sih? Suruh gue masuk kek. Gue bisa bantuin lo buat ngasih kejutan ke tante, loh!"
"Apaan. Gak! Pergi lo sana. Cepet pergi! Sebelum gue lempar nih!" gue merunduk, bersiap mencopot sepatu gue kalau-kalau Regal masih bandel dan gak mau pergi juga.
"Buset. Nyai kejem banget. Yaudah deh, daripada gue pulang bonyok, mending gue pergi sekarang." Regal menghidupkan mesin motornya lagi. Sebelum dia menekan gas dan pergi, dia menoleh ke arah gue. "Err. Ada kunti megang kue!"
"Apa lo bilang?! Siapa yang lo bilang kunti?!" gue mengacung-ngacungkan sepatu gue---gak jadi gue lempar. "Awas lo! Moga-moga di jalan ketemu genderuwo, mampus!"
Dan, yah, Regal sudah pergi. Gue akhirnya terkekeh melihat tangan gue yang memegang sebelah sepatu, kemudian geleng-geleng kepala. "Yeah, gila lo," cicit gue, kemudian menaruh sepatu itu ke tanah lagi dan menyarungkannya asal ke kaki.
Gue masuk ke dalam, menyusun kuenya ke meja. Seperti yang gue bilang, hari ini Mama pasti pulang. Tapi gue gak tau kapan---atau mungkin gak pulang dan malah ke kantor. Tapi gue gak masalah, gue tetap menjalankan rencana gue. Menaruh kuenya di atas meja, memasang lilin, kemudian meletakkan pemantik di sampingnya dan duduk di kursi---menunggu Mama pulang.
***
[Regal Argara]
Gue melajukan motor cepat. Karena gue sendiri dan gak ada Delin di belakang, jadi gue bebas ngendarainnya suka-suka gue. Gue sesekali masih terkekeh memikirkan hal-hal yang gue lalui hari ini.
Semua yang terjadi hari ini entah kenapa terasa lebih berarti dari apa yang gue lewatin kemarin. Di mana selalu sepi dan gue sendirian. Sebelumnya gue gak peduli sama apa pun karena gue biasa sendiri. Tapi hari ini, satu hari yang gak bakal gue lupain. Masih terasa seperti mimpi, dan itu berkat Delin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gabut [Completed]
Fiksi RemajaZakira Andelin, cewek gabut kekurangan beban hidup. Merasa kosong dengan hidupnya, Delin memutuskan untuk menjadi freelancer yang menawarkan jasa tidak biasa. Mulai dari jasa jadi pacar bohongan, dukun gadungan, maling rambutan, pawang murid berand...
![Gabut [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234285897-64-k40060.jpg)