[Zakira Andelin]
Gue terbahak menyaksikan Rasi yang tersungkur mencium lantai karena kakinya tersandung kakinya sendiri.
"Mata kaki lo buta ya, Sih? Nabrak-nabrak sendiri?"
Rasi bangkit lalu bersimpuh. Wajahnya membentuk rengutan dengan tangan kiri terus mengusapi jidat. "Emang gak punya hati lo. Temen jatuh bukan ditolongin, malah diketawain."
"Habis lucu. Apa iya gue harus nangis-nangis?"
Rasi melemparkan tas selempangnya ke arah gue di atas tempat tidur.
Hari ini Minggu, dan sesuai kontrak, hari ini adalah hari keenam gue jadi pacar kontrak Zavin dan besok adalah hari terakhir. Dan sesuai kesepakatan yang kami buat malam tadi, Zavin akan memenuhi taruhan dengan temannya hari ini.
Rasi langsung berteriak antusias ketika gue menelfon dan membicarakan hal ini tadi pagi. Alhasil dia langsung ke sini dengan alasan "gue butuh disulap".
"Masih jam 12 ini, Sih. Ngapain sibuk sekarang. Lagian gue cuma pergi nongkrong doang, enggak ke kondangan."
"Diem! Lo gak bakal tau apa itu yang dinamakan imej." Rasi mengacungkan hanger yang digantungi satu dress. "Yang ini cocok kali ya?" ujarnya mengangkat dres itu ke samping telinga. Dres selutut berwarna merah dengan banyak rumbai-rumbai.
"Gue mau nongkrong, Rasi! Bukan ke acara award."
"Ya udah kalau gitu yang ini." Lalau mengeluarkan jumpsuits krem dengan dalaman kaus putih. "Tapi ini biasa banget. Gak ada wownya," lalu mengetuk-ngetuk dagu sendiri.
"Ya udah gue pakai itu aja. Bagusan mana gue pakai itu apa pakai kaus oblong terus hotpans?"
Tiba-tiba Rasi langsung melemparkan setelan jumpsuits tadi. "Palelo kaos oblong!"
***
[Zakira Andelin]
Matahari masih agak panas di atas sana, namun semua orang seperti tidak peduli. Tetap berjalan santai dan bercengkrama seperti biasa.
Gue mengikuti Zavin memasuki kafe kecil bergaya klasik dengan plang "Believe Me" di atasnya. Nuansanya memang klasik dengan ukiran-ukiran dan lampu-lampu bergaya retro namun mewah secara bersamaan.
Hal pertama yang gue temui di dalam adalah bau kopi yang mendominasi. Baunya pekat namun tidak membuat muak, malahan membuat gue jadi ingin menghirupnya terus-menerus.
"Heiii." Seseorang memanggil sambil melambaikan tangan dari meja di seberang kami. Di sana berkumpul sekitar 3 anak laki-laki yang gue duga temen-temennya Zavin itu.
Zavin pun balas melambaikan tangan, kemudian menoleh ke arah gue. Tanpa bicara dia menggandeng tangan gue dan menyeret gue ke tempat teman-temannya.
"Lama amat lo," ucap seorang cowok dengan kaca mata sambil menyeruput kopi lattenya. Namun dia tetap tersenyum ramah alih-alih merengut.
"Macet," jawab Zavin seadanya.
"Oh ya, kenalin ini Delin." Zavin kemudian memperkenalkan gue. "Pacar gue," tambahnya di akhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gabut [Completed]
Fiksi RemajaZakira Andelin, cewek gabut kekurangan beban hidup. Merasa kosong dengan hidupnya, Delin memutuskan untuk menjadi freelancer yang menawarkan jasa tidak biasa. Mulai dari jasa jadi pacar bohongan, dukun gadungan, maling rambutan, pawang murid berand...
![Gabut [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234285897-64-k40060.jpg)