[Zakira Andelin]
"Maaf."
Gue menoleh ke samping, ke arah Regal yang masih dengan ekspresi sama.
"Gue rasa, gak ada gunanya minta maaf. Karena, gue tahu itu gak bakal ngerubah apa pun. Gue baru sadar sekarang. Dari awal nih, posisinya kita emang bukan siapa-siapa. Gue adalah orang yang mencoba menghentikan kesenangan lo. Udah gitu, gue maksa pula. Terus karena pertemuan gak sengaja beberapa hari lalu, gue langsung salah menilai lo dan mulai nganggep kita temen. Padahal gue tau itu aturan yang gak boleh gue langgar. Hehe." Gue memasang cengiran, "Sekarang gue sadar, kalau gue ini siapa banget sih? Dalam waktu beberapa hari bisa bikin anak orang sadar. Gue baru inget, gak ada yang semudah itu di dunia. Masak iya dalam waktu beberapa hari gue bisa ngerubah anak-anak bandel yang guru aja angkat tangan. Gue baru sadar betapa gak logisnya itu. Jadi ...." Gue berhenti, kemudian menoleh pada Regal dan dia pun ikut berhenti. Gue menepuk-nepuk bahunya. "Gak pa-pa. Lo masih boleh ngelakuin hal yang dulu sering lo lakuin. Gue bakal balik kayak di awal. Kita bukan temen, jadi lo gak usah ragu. Lo boleh cabut-cabutan, dan gue bakal dateng ngehajar kalian sampe kapok. Oke," dan gue berjalan meninggalkan cowok itu setelah memasang satu senyuman.
Kalau gue fikir-fikir ulang, kayak yang gue bilang, mana ada yang semudah itu di dunia. Apalagi manusia. Gak ada manusia yang langsung berubah. Apalagi gara-gara ketemu manusia lain yang notabenenya kayak benalu penghalang buat mereka, kan? Gue kenapa baru inget itu sekarang? Mana di kontrak itu tertulis jelas gue gak boleh terlibat hubungan apa pun dengan klien. Huftt. Perjuangan gue belum berakhir, dan gue masih butuh banyak masalah lagi.
"Enggak!"
Gue langsung rem mendadak dan menggeserkan tubuh ke belakang. Regal berdiri di depan sambil merentangkan tangan dan menatap gue tajam. Gue berusaha berfikir keras kira-kira ini anak kenapa? Gue kira setelah gue ngomong kayak tadi dia bakal pergi, tau-taunya malah lari terus ngehadang gue gini. Gue menaikkan alis.
"Tadi lo bilang udah nganggep gue temen, berarti kita masih tetap jadi temen sekarang," katanya.
"Gue gak temenan sama target gue."
"Tapi tadi lo bilang kita temenan."
"Ya tadi juga gue bilang kita udah enggak."
"Mana bisa gitu."
Gue menyipitkan mata menatap cowok di depan gue ini.
"Kenapa lo tiba-tiba pengen jadi temen gue? Biar gak gue hajar kalau keciduk mau cabut-cabutan atau buat onar lagi?"
Regal meluruskan tangannya. Kemudian tersenyum tipis, tipis banget. "Enggak, sih."
"Sih? Sih lo bilang? Itu tandanya iya kan." Gue mendecak dan menatap Regal tajam. "Tapi sorry, gue gak temenan sama berandal."
Gue berjalan lagi, mengambil jalan ke samping cowok itu dengan ekspresi kesal.
"Hei." Dia tiba-tiba mencekal tangan gue, mau gak mau membuat gue berhenti dan berbalik lagi menatap dia. "Emang gue ngapain tadi? Apa gue manjat pagar tadi? Apa gue ngerokok? Apa gue ngerencanain buat tawuran?"
Gue berfikir sesaat. Kalau diinget-inget tadi Regal cuma diam sambil melamun. Menatap kosong ke depan kayak orang stres.
"Enggak kan? Jadi kenapa lo langsung nyimpulin gitu aja? Hari ini gue gak ada niat buat ngelakuin semua itu. Mungkin Saga sama Arzan ada tapi gue enggak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gabut [Completed]
JugendliteraturZakira Andelin, cewek gabut kekurangan beban hidup. Merasa kosong dengan hidupnya, Delin memutuskan untuk menjadi freelancer yang menawarkan jasa tidak biasa. Mulai dari jasa jadi pacar bohongan, dukun gadungan, maling rambutan, pawang murid berand...
![Gabut [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234285897-64-k40060.jpg)