Dirgahayu Republik Indonesia ke-75❤
Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya❤!
*****
"Lo adiknya Clara kan?" tanya Azka tiba-tiba.
"Hah?"
"Budeg ni anak," gumam Azka yang masih dapat di dengar Fela. Mata Fela melotot saat mendengar gumaman tersebut, apa katanya? Dirinya budeg?
"Masnya kalo ngomong di filter dulu ya, mulutnya," ucap Fela ketus dan kembali melanjutkan makan buburnya.
"Dih ngambekan lo," ucap Azka yang kembali melanjutkan makannya.
Setelah memakan bubur hingga tandas, Fela memutuskan untuk segera pergi dan kembali melanjutkan joggingnya.
"Pak, makasih ya, ini uangnya," ucap Fela menghampiri tukang bubu tersebut yang sedang mencuci mangkok.
"Oke, makasih ya neng."
"Mau kemana lo?" bukan, itu bukan suara tukang bubur. Melainkan suara Azka yang sedang menatap Fela.
"Kepo najis," ketus Fela lalu segera pergi.
"Udah makan masa langsung jogging sih?" Fela bermonolog.
"Bisa-bisa sakit perut gue."
Fela melihat-lihat sekelilingnya. Tatapannya terhenti saat melihat kursi yang mengelilingi tanaman hias. Felapun memutuskan untuk duduk disitu terlebih dahulu.
Drtt drtt
Suara getaran handpone berasal dari saku hoodie yang di pakai Fela. Dengan cepat Fela mengambil handpone nya, dan tertera lah nama yang menelponnya. Nadya.
"Apa Nad?" ucap Fela setelah mengangkat telepon.
"Jogging yok. Gabut gue."
"Gue dari tadi juga udah jogging Nad."
"Ish, ko gak bilang-bilang?!"
"Yamana gue tau, kalo lo mau ikut."
"Lagian lo ngapain juga pagi-pagi banget joggingnya."
"Serah gue lah."
"Dih, dimana lo sekarang?"
"Taman deket komplek."
"Oke, beb melun-"
Tanpa menunggu lagi jawaban dari Nadya, Fela sudah memutuskan teleponnya secara sepihak.
Bacot lo Nad.
"Tunggu sini, atau jalan-jalan aja ya?" ucap Fela tampak berpikir.
Belum hendak Fela bermonolog lagi, tiba-tiba suara khas laki-laki terdengar di telinganya.
"Ternyata selain budeg, lo juga suka ngomong sendiri ya," cibir laki-laki tersebut lalu dengan seenaknya duduk di sebelah Fela.
"Dasar manusia kurang kerjaan! Ngintilin gue mulu lo! Pergi sana jauh-jauh Azka!" yap. Lelaki tersebut adalah Azka yang entah kenapa selalu saja bertemu dengan Fela.
"Gue kagak ngintilin lo!" tukas Azka.
Fela tidak mendengarkan ucapan Azka, dia lebih baik memerhatikan rerumputan yang sesekali bergoyang karena tertiup angin.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," ucap Azka dingin.
"Pertanyaan apa?"
"Ck. Lo itu adiknya Clara kan?" ucap Azka kesal.
"Gak penting juga buat lo," balas Fela cuek.
"Tinggal jawab aja susah," sewot Azka.
"Bacot. Iya gue adiknya Clara, kenapa emang?" balas Fela.
"Gapapa, cuma Clara gak pernah nyerita kalo dia punya adik perempuan," balas Azka.
"Lo, pacarnya Clara?" Fela bertanya.
Azka menggelengkan kepalanya, "bukan, dia bukan pacar gue. Tapi, mantan."
"Ha? Lo udah putus sama Clara?" tanya Fela yang terlihat begitu antusias.
"Kepo lo!" ketus Azka.
"Anjir. Gantianlah giliran gue yang nanya." paksa Fela.
"Lo putus kapan? Kenapa putus?" tanya Fela.
"Waktu pulang jalan-jalan hari senin, gue males ngehadepin sikap dia yang egois dan seenaknya," papar Azka.
"Buset. Pacar macam apa lo, kakak gue itu. Seharusnya lo itu jadi pacar harus bisa nerima Clara apa adanya, kalo lo gak suka sama sifat Clara ya harus bisa lo ubah dong. Terbukti dari sini ni, kalo lo itu emang gak bener-bener cinta sama Clara," cerocos Fela panjang lebar.
"Si neng, mulutnya kagak bisa di rem apa? Nyiprat tu ludah ke muka gue," ucap Azka bercanda.
"Mana ada anjir!" Fela menukul lengan Azka kencang.
Azka hanya tertawa melihat raut kesal dari Fela.
Fela melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul delapan, tetapi kemana Nadya? Kenapa dia belum sampai juga.
Fela memutuskan untuk menelpon Nadya.
"Mana yang mau jogging? Lama bener," cibir Fela.
"Hehe. Sorry Fel gue gak jadi jogging, tapi nanti gue jemput lo deh. Kita main di rumah gue gimana?" suara Nadya di sebrang telepon.
"Iya-iya," balas Fela lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Fel, sorry kalo omongan gue kali ini gak enak. Gue sempet denger Clara nyeritain nama lo, dia bilang lo itu anak pembawa sial di keluarga lo, dan dia sama sekali gak ngomong kalo lo itu adiknya. Em ... Sebenernya lo ada masalah apa sama keluarga lo?" ucap Azka hati-hati.
Fela diam tidak berkutik sama sekali, mulutnya terkatup rapat tidak dapat menjelaskan semuanya begitu saja kepada Azka.
"Bukan urusan lo," ketus Fela lalu mengalihkan pandangannya dari Azka. Entahlah menurutnya pembahasan ini terlalu sensitif baginya.
"Maaf Fel," ucap Azka merasa bersalah.
"Lo gak perlu minta maaf, dan sebaiknya lo jangan sampe ketemu sama gue lagi ya? Lo tau kan apa yang Clara bilang, kalo gue ini anak pembawa sial ka," ucap Fela lirih. Setelah mengatakan itu Fela pergi meninggalkan Azka dan menghampiri Nadya yang sudah menunggunya.
"Salah nih gue, terlalu kepo sih," gerutu Azka. Dalam hatinya ia sedang mengumpati dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia bertanya tentang itu terhadap Fela, padahal dia saja baru kenal beberapa hari.
Terimakasih yang udah mau baca karya saya, semoga kalian selalu suka sama karya saya.
See you next chapter:)
KAMU SEDANG MEMBACA
THIS IS ME
Novela JuvenilFela fitri fawnia.Gadis cantik memiliki ribuan luka yang di tutupi dengan senyuman manis nya. Perlakuan keluarga yang tidak adil terhadap diri nya. Bahkan dia tidak pernah di perlakukan manis seperti sang kakak. Terimakasih yang sudah mau membaca ka...
