Fela fitri fawnia.Gadis cantik memiliki ribuan luka yang di tutupi dengan senyuman manis nya. Perlakuan keluarga yang tidak adil terhadap diri nya. Bahkan dia tidak pernah di perlakukan manis seperti sang kakak.
Terimakasih yang sudah mau membaca ka...
Hari yang begitu di takutkan oleh para murid kini tiba. Hari dimana PAS berlangsung. Setelah semalaman mereka belajar kebut, kini paginya sampai di sekolah langsung di suguhi dengan soal-soal yang lumayan panjang.
Keadaan ruangan 04 sangat sepi. Tidak ada yang berani berkutik sedikitpun, kecuali seseorang yang duduk di bangku paling depan. Dia adalah pengawas, yang terkenal akan ketegasannya. Matanya yang tajam membuat siapa saja langsung menunduk jika sudah berpapasan.
Fela kini tengah berkutat dengan lembar jawaban dan soal didepannya. Lengannya dengan lihai menari diatas lembar jawaban yang baru terisi beberapa nomor.
Tujuh puluh menit sudah berlalu, itu berarti waktu mengerjakan soal tinggal dua puluh menit lagi. Fela merasakan ada yang menendang kursinya dari arah belakang, itu membuat Fela tidak nyaman duduk. Fela sedikit menolehkan kepalanya kebalakang. Disana ada Azka, Azka dan Fela memang di pertemukan dalam satu ruangan.
Fela menatap Azka bingung. Sedangkan Azka sudah menggerakan bibirnya tanpa suara. Fela bisa menebak apa yang Azka butuhkan.
"Oh pinjem tipe-x," gumam Fela lalu membawa tipe-x yang berada di kotak pensilnya.
Karena terburu-buru, Fela sampai tidak sengaja menendang kaki meja Azka yang menyebabkan suara bising. Pengawas yang sedari tadi tampak sedikit mengantuk, langsung menajamkan penglihatannya ke arah Fela. Sedangkan Fela, dia sudah komat kamit tidak jelas.
Semua pasang mata melihat ke arah pengawas yang sedang berjalan menghampiri Fela. Raut-raut tegang muncul di setiap meja.
"Sedang apa kamu?" tanya bu Neni-guru pengawas dengan nada tegas.
Fela memejamkan mata rapat-rapat, lalu mulai menjawab pertanyaan bu Neni. "Tadi, Azka pinjem tipe-x bu, makannya saya pinjemin," ucap Fela mendongak kemudian menunduk lagi saat melihat raut wajah bu Neni yang menurutnya menakutkan.
"Ulangan kamu, sudah?" bu Neni melirik lembar jawaban Fela yang tertindih lengan Fela.
"Su-sudah bu," ucap Fela merasa gugup.
"Jika sudah, silahkan keluar. Lembar jawaban kamu simpan disini tapi di balikan, sedangkan lembar soal kamu bisa simpan di meja depan." setelah mengatakan itu, bu Neni melanjutkan langkahnya untuk mengecek satu persatu meja peserta ulangan.
"Gara-gara lo nih," ucap Fela berbisik kepada Azka.
Azka tidak menanggapi ucapan Fela, dia memilih untuk menyoret-nyoret lembar jawabannya.
*****
Azka baru keluar dari ruangan 04. Dia adalah murid yang paling terakhir mengerjakan ulangannya. Langkah kakinya menuju kearah ruang 03 yang ada di sebelahnya. Disana ada Samuel yang masih mengerjakan soalnya, padahal didepannya sudah ada pak Dadan yang menunggu Samuel dengan sabar.
"Kamu ini lama banget ngerjainnya. Bel istirahat sudah berbunyi!" setelah berhasil merebut lembar jawaban Samuel, pak Dadan langsung pergi dari ruangan tersebut.
"Yaampun yang essay nya belum. Duh, gimana ini mana yang menjodohkannya baru separo," ucap Samuel bingung sendiri.
"Woyy! Bengong bae, ngopi ngapa ngopi!" Azka dengan entengnya melemparkan kaleng soda bekas ke arah kepala Samuel.
"Kampret lari lagi!" desis Samuel lalu menyusul Azka yang sudah ngacir entah kemana.
Fela kini sedang menikmati sayur lontongnya yang baru ia beli di bi Emis. Aroma khas sayur lontongnya benar-benar membuat Fela semakin lahap memakannya. Kuah yang berwarna kuning kemerahan, di taburi dengan bawang goreng yang begitu lezat dan jangan lupakan kerupuk kakap sebagai pelengkapnya.
Sedang nikmat-nikmatnya Fela makan. Tiba-tiba kursi disebelahnya ada yang menduduki secara tidak santai.
"Tadi lo di marahin sama bu Neni? Kenapa? Ko bisa? Haha kok gue ngakak ya?" Nadya dengan tampang watadosnya ngakak di depan Fela yang tangannya menggatung di udara karena akan memasukan sayur lontong.
"Berisik!" ucap Fela setelah berhasil memasukan sayur lontong kedalam mulut.
"Yamaap," ucap Nadya setelah berhasil meredakan tawanya.
"Gak mungkin lah. Secara nih, lo kan belajar mati-matian dari sebelum jauh-jauh hari PAS," ucap Nadya optimis.
"Tetep aja. Dikelas kan banyak saingannya, termasuk lo! Lo juga pinter," ucap Fela memutarkan bola matanya.
"Aih si Fela bisa saja," ucap Nadya dengan raut muka di buat malu-malu.
"Gila! Dah ah, gue mau belajar lagi. Mumpung masih ada waktu," ucap Fela pamit.
"Yoi, semangat ya. Jangan khawatir sama nilai gue, gue gak belajar juga pasti bakal bagus kok nilainya." Nadya malah cekikikan melihat raut wajah Fela yang menahan kesal kepadanya.
Saat di depan pintu kantin, Fela tidak sengaja berpapasan dengan Azka dan Samuel. Dengan wajah tengilnya Azka meledeki Fela.
"Mampus kena gerebek bu Neni," ucap Azka memelankan volume suaranya.
Fela tetap berjalan. Dia berusaha menulikan pendengarannya.
"JANGAN MARAH FEL! NANTI PULANG SEKOLAH AKU TUNGGU YA DI PARKIRAN!" dengan tidak tahu malunya Azka berteriak, membuat semua orang disana menatap Azka heran.
"Buset pake teriak- teriak segala lo," gumam Samuel meninggalkan Azka.
SarafnihsiAzka.
Fela terus-terusan menggerutu akibat ulah Azka yang tiada henti-hentinya.