18. Perpustakaan

46 5 3
                                        

Bel istirahat pertama telah berbunyi. Hampir semua penghuni kelas 11 Ipa 2 pergi ke kantin. Tetapi tidak dengan Fela yang masih diam di bangkunya bersama Nadya yang sedang membujuk Fela agar ikut ke kantin bersamanya.

"Ayok ih ke kantin Fel! Daripada disini kelaparan," ucap Nadya menarik lengan Fela dengan paksa.

"Uang saku gue ketinggalan," bisik Fela agar tidak terdengar oleh telingan orang lain.

"Gunanya gue jadi sahabat lo apa hah?!" kesal Nadya.

"Gue yang bayar ayok cepet!" lanjut Nadya lalu berusaha menarik Fela untuk keluar dari kelas. Tapi, Fela dengan sekuat tenaga menepis lengan Nadya membuat Nadya menatap Fela tajam.

"Gue gak mau ke kantin, ya?" ucap Fela memohon. Sejujurnya Fela tidak mau membuat Nadya repot karenanya, jadi lebih baik dia tidak ke kantin saja.

"Yauda Kalo gitu." Nadya keluar dari kelas dengan wajah yang di tekuk.

Fela memilih untuk kembali duduk di tempatnya. Dia membaca kembali novel fiksi yang tadi sempat ia baca. Di tengah membacanya, Fela merasakan perutnya keroncongan. Sekarang dia lapar. Tapi bagaimana Fela akan makan? Uang saja Fela tidak bawa.

Semalam Rian dan Clara sudah pulang dari acara perusahaan itu. Fela berusaha untuk memijat kaki Rian agar tidak pegal. Tapi, Rian malah menendangnya. Dan tadi di pagi hari, biasanya uang saku Fela sudah ada di meja belajar. Tapi kali ini, Rian tidak memberikan uang saku untuknya.

"Ck, perutnya berisik banget sih," ucap Fela mencebik.

Lalu dia melangkahkan kakinya keluar kelas. Tujuan utamanya kali ini adalah perpustakaan. Mungkin disana dia dapat mengalihkan rasa laparnya dengan membaca berbagai buku dengan genre yang berbeda.

Tanpa sepengatahuan Fela, Azka dari tadi memerhatikannya di luar kelas sampai Fela pergi menuju perpustakaan. Dengan santainya, dia berjalan menuju kantin untuk membeli beberapa makanan.

"Sok kuat banget sih lo Fel," decak Azka dengan tidak sadar.

*****

Sampainya Fela di depan pintu perpustakaan, Fela menemukan Aril yang sedang tertidur dengan pulas di kursi panjang. Dasar Aril ini, dihukum sama guru kok malah enak-enakan tidur.

"Ril, Ril." Fela menepuk pelan pipi Aril. Membuat Aril menggeliat dari tidurnya.

"Astaghfirulloh, kunti!" teriak Aril lalu duduk dengan tegap.

"Mana ada kunti secantik gue," ucap Fela mencebik.

"Eh Fela," ucap Aril menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Ngapain lo malah tidur disini? Bukannya lagi di hukum?" tanya Fela.

"Males. Mending juga tidur," balas Aril terkekeh.

"Gue bilangin ah," ucap Fela mengerjai.

"Anjir jangan-jangan!" Aril menyetop Fela yang akan berlari entah kemana. "Gue makan dulu nanti langsung ngerjain hukumannya suer," ucap Aril memohon.

"Yaudan sana," balas Fela cuek.

Setelah mendengarkan balasan dari Fela, Aril berlarian kecil menuju ke arah kantin.

Fela memasuki perpustakaan lalu duduk lesehan di karpet berwarna hijau tua. Tidak lupa dia membuka sepatunya terlebih dahulu, agar karpetnya tidak kotor. Tidak lama dari itu, seseorang datang mendekati Fela. Fela mengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang menghampirinya. Itu, Azka.

Azka melemparkan roti yang lumayan besar beserta susu putih itu ke pangkuan Fela.

"Kenapa tadi gak ikut aja sama Nadya ke kantin? Laparkan lo? Makannya jangan sok kuat!" Azka berucap tajam membuat Fela diam.

THIS IS METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang