Cerita baru, yang mungkin bakal rutin update kalau After Met You udah end. Selama membaca ❤️
Jangan lupa vote dan komen🌻
Maaf kalau ada alur, pov, atau lainnnya yang engga sinkron. Karena cerita ini aku edit POV-nya 😁
***
SASHI
Mataku menangkap satu bangku kosong yang ada di bagian pojok kelas saat sedang berkeliling, mengawasi siswa siswi yang sedang ku beri tugas. Saat ini, memang jadwalku mengajar di kelas XII A, sebagai wali kelas, sudah menjadi kewajiban bagiku untuk selalu memantau anak didik dalam berbagai aspek, baik akademik dan non-akademik.
Aku melihat satu tas ransel berwarna hitam yang berada di atas meja dan seingatku, tempat itu biasa menjadi tempat duduk Yura saat kegiatan pembelajaran. Anak itu selalu memilih duduk seorang diri, dan terlihat enggan bersosialisasi dengan teman-temannya yang lain. Dan lagi, aku baru ingat bahwa aku belum melakukan presensi kepada siswa-siswi ku pagi ini. Menandai siapa saja yang hadir dan tidak hadir hari ini.
Kakiku berjalan kembali menuju meja guru yang ada di sebelah kiri whiteboard, ku ambil buku presensi lalu memanggil nama siswa satu per satu hingg akhirnya, absensi itu sampai pada nama Yura.
"Yura Dita Wiratmadja?" Sekali lagi, aku memanggil nama itu.
"Maaf bu, sepertinya Yura gak ada di kelas." jawab salah seorang siswa yang tempat duduknya berada di depan tempat duduk Yura.
"Kemana anaknya? Kok tasnya ada di situ?" Tanyaku memastikan.
"Tadi pagi dia datang ke kelas kok bu, tapi setelah pelajaran pak Heri selesai dia keluar kelas." Jawab Sofia, si ketua kelas.
"Kemana ya kira-kira, Yura? Apa dia lupa setelah jam pak Heri adalah jam saya?"
Sofia menggelengkan kepala,"Maaf bu, Sashi. Saya juga kurang tahu."
Aku menghela nafas pelan. Kemana lagi anak itu? Bagaimana bisa Yura merasa santai seolah tak memiliki beban dan tanggung jawabnya ketika bersekolah? Bukan hal baik sebenarnya, ketika aku mulai berprasangka buruk terhadap anak didikku sendiri. Tapi melihat track record Yura yang cukup "wow" bagiku, aku pun menjadi suudzon sendiri.
Pantas saja, ibu selalu memberikan nasihat supaya aku lebih meningkatkan rasa sabar dan selalu belajar memahami setiap karakter siswa yang berbeda-beda, saat aku mengumumkan pada kedua orangtuaku bahwa aku ditunjuk untuk menjadi wali kelas. Ternyata, memang begini kenyataannya. Menghadapi empat puluh kepala dengan empat puluh macam kepribadian siswa yang berbeda-beda bukanlah hal mudah. Apalagi, ada yang bermasalah seperti ini.
"Kalau begitu, nanti kalau Yura kembali ke kelas bilang ya suruh menghadap ke ibu di kantor." Kataku kepada semua anak didik yang mengangguk patuh.
"Iya bu," jawab mereka serempak.
Usai mengajar, aku langsung keluar dari kelas XII A. Langkah kakiku berbelok ke samping kiri, menuju tangga yang mengarah ke lantai satu. Namun aku mendadak menghentikan langkah, ketika melihat seorang siswa sedang duduk menyandar pada tembok di sela bangunan antara kamar mandi guru dengan lorong yang biasa digunakan untuk mengisi tinta. Aku mencoba memfokuskan pandangan, sampai akhirnya mataku berhasil mengenali siapa sosok siswi yang duduk itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Above The Time
Tiểu Thuyết Chung[ON GOING] Setelah menjalani LDR (Long Distance Relationship) selama dua tahun, Sashikirana, harus menelan pil pahit atas penantiannya selama ini. Kepulangan sang kekasih ke tanah air, bukanlah untuk kembali menemuinya dan mengajaknya untuk menaikka...
