"Sebenarnya Matematika itu seru, kalau lo bisa ngerti konsepnya."
— Angkasa Liskar
###
"Makasih, ya, udah antar gue pulang." Aryna menyerahkan helmnya kepada Nathan yang langsung diterima oleh pemiliknya.
Mereka berdua baru saja pulang dari kedai yang menjual berbagai jenis es krim. Entah karena cuacanya yang panas atau Aryna yang terlalu kecanduan dengan es krim, ia sampai menghabiskan satu cup es krim yang ukurannya paling besar sendirian.
Nathan takjub sendiri ketika melihatnya. Sementara Aryna hanya tersenyum bangga. Hei, ini belum semua kemampuannya yang ia tunjukkan!
Ralat, tidak boleh sombong. Nanti bisa kena azab sepeti sinetron yang ditayangkan di televisi.
"Aryna pulang."
"Habis dari mana kamu?"
Sesaat setelah Aryna masuk ke dalam rumah, hal pertama yang ia dengar adalah suara papanya.
Eh, tunggu dulu. Bukankah papanya harusnya sedang bekerja?
"Dari sekolah, Pa. Kok Papa ada di rumah?"
Papa Aryna berdeham, menetralkan nada bicaranya. "Ada urusan bentar tadi. Kamu ngapain pergi ke sekolah? Bukannya libur."
"Nemanin teman Aryna ekskul basket, Pa."
"Siapa? Cowok atau cewek?"
Aryna menggaruk bagian belakang kepalanya secara awkward. Ya, jujur saja sebenarnya tidak ada rasa gatal pada bagian itu. Hanya saja itu berguna untuk menyangkal rasa gugup.
"E–em, cowok sih, Pa. Kapan-kapan Aryna kenalin dia deh."
Mampus! Aryna salah bicara.
Aryna lupa jika papanya tidak mengizinkannya untuk berpacaran atau terlalu dekat dengan cowok sebelum lulus sekolah. Ya, maksudnya cowok selain dirinya.
"Tadi dia yang antarin kamu pulang?"
Aryna mengangguk. Membuat bibir papanya sedikit terangkat. Eh, masa ia sedang tersenyun sekarang?
"Dia pintar? Dalam pelajaran maksudnya."
Aryna berpikir sebentar, sepertinya Nathan jago dalam Matematika. Terbukti seberapa cepat ia memahami materinya. Selain itu, nilai Matematikanya juga selalu bagus. Baik itu berupa latihan atau kuis yang diadakan secara mendadak.
"Bagus, pertahankan. Besok-besok boleh bawa dia ke rumah." Sekarang, bibir papanya benar-benar membentuk seulas senyuman.
Bukannya senang, Aryna justru menjadi khawatir. Apa yang membuat kelakuan papanya menjadi berubah seperti ini?
Aryna hanya dapat berdoa jika Nathan akan selamat dari introgasi papanya.
"I–iya, Pa. Kalau dia sempat, Aryna ajak."
Papa Aryna manggut-manggut. Kemudian ia melangkah pergi, memasuki mobil dan dalam beberapa menit, mobil itu sudah hilang dari pandangan Aryna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rynathan [✔]
Teen Fiction"30 hari. Gue buktiin gue bisa bikin lo jatuh cinta sama gue." "Kalau lo ngga bisa?" "Gue janji gue bakalan bisa buat lo jatuh cinta sama gue." "Kalau lo ngga bisa?" "Gue bakal menjauh dari lo. Deal?" "Deal!" Aryna Athena Sharron. Perempuan yang...
![Rynathan [✔]](https://img.wattpad.com/cover/227223875-64-k575819.jpg)