22. BERBEDA 180°

1.8K 124 4
                                        

"Jadi orang nggak enakan itu nggak enak banget, gampang dimanfaatin."

— Anonim.

###

"Hasil ulangan Matematikamu yang kemarin mana, Aryna?"

Bukannya disambut oleh salam atau pelukan, justru Aryna disambut oleh pertanyaan dari Papanya yang sedang duduk di depan teras.

Terlihat sekali jika Papanya itu sedang menunggu kepulangan dirinya.

"Maksudnya, Pa?" tanya Aryna balik.

Tentu saja Aryna tidak sebodoh itu, ia tahu persis tentang hasil ulangan Matematika yang Papanya tanyakan itu. Bagaimana tidak? Hanya kertas miliknya yang berisikan penuh tanda merah dari Bu Ninda.

"Aryna Athena Sharron." Andrew menjeda ucapannya. "Keluarkan dan berikan ke Papa hasil ulangan Matematika kamu. SE-KA-RANG!"

Selesai sudah riwayatnya. Jika Papanya sudah mulai menyebutkan nama lengkapnya, mau tidak mau Aryna harus menuruti permintaan lelaki itu.

Dengan pelan, Aryna merogoh kertas yang berada di dalam map di tasnya. Lalu, ia sodorkan kepada Andrew.

"Aryna Athena Sharron, kelas 11 IPS 2, pelajaran Matematika Wajib dapat nilai 26 dan tambahan huruf R di sampingnya."

Aryna hanya mampu menyimak dan mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Papanya saja. Karena kalau salah kata, pasti ia akan semakin dimarahi.

"Puas sama hasilnya?"

"Nggak, Pa."

"Harusnya kamu sangat tidak puas dengan hasilnya. Papa nggak mau tahu, besok kamu Papa daftarkan ke bimbel Matematika."

"Ta--tapi, Pa."

"Nggak ada tapi-tapian. Mendingan kamu susah sekarang daripada susah belakangan. Mau kamu kalau nggak naik kelas?"

Aryna menggeleng. "Nggak, Pa."

"Ya sudah, ikut saja keputusan Papa. Kamu bakal Papa daftarkan ke bimbel yang sama dengan Aileen. Aileen aja bisa, masa kamu nggak bisa kan."

Dari jurusan aja, Kak Aileen jurusan IPA. Ditambah dia genius. Masa yang kayak gitu dibandingin sama gue?

Sayangnya, kata-kata itu hanya dapat Aryna katakan dalam hatinya saja.

"Tapi, Pa, sekolah juga udah ngasih Aryna les Matematika. Gratis pula."

Andrew menatap Aryna dengan serius. "Siapa tutornya? Kalau nggak berpengelaman dan bagus, sama aja bohong."

"Itu si Nathan, yang pernah antar aku pulang, Pa," jawab Aryna.

"Oh, kalau gitu, kamu les aja sama dia. Lumayan hemat uang, udah sana masuk, belajar yang benar. Oh iya, jadwal les kamu kapan aja sama dia?"

Hah, langsung beda ngomongnya?

Wah, Aryna benar-benar kagum dengan sosok Nathan. Dengan mudah, ia dapat meluluhkan perasaan emosi Papanya.

Rynathan [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang