Setelah seharian ia habiskan bersama sahabat-sahabatnya, bercanda tawa, melupakan semua keganjalan di keluarganya, melupakan semua kecemasan nya, namun ketika ia kembali kerumahnya, ia kembali berada di situasi yang sangat ia benci, kecemasan akan ditinggalkan.
Bagaimana ia tidak benci! Dia baru saja mendapatkan kebahagian yang selama ini dia impikan, 10 tahun ia harus melewati hidup penuh dengan perjuangan, di usia yang masih dini dia diharuskan mengerti kerasnya hidup, mengerti sakitnya ditinggalkan.
Wajar saja jika kini dia amat sangat menjaga keluarganya, menjaga cintanya agar selalu utuh, agar selalu melengkapi hidupnya.
Seperti biasa pulang sekolah Betrand langsung mencari keberadaan Bunda nya, entah untuk memastikan bahwa Bunda di rumah atau memang dia sudah lapar.
"Bunda.."
Betrand berjalan masuk, menaiki anak tangga dengan satu persatu.
"Bun..?"
Sembari mencari keberadaan Bunda nya, yang dari tadi ia panggil tidak ada sahut an.
"Bunda, Onyo pulang." Ucapnya lagi di tengah-tengah keheningan.
Betrand mencoba berpikir positif, mungkin Bunda sedang mengantar adiknya les balet. Betrand memutuskan masuk ke kamarnya, mengganti pakaiannya.
"Kok kamu gitu!! Kamu harus mau dong!!"
"Ya aku gak mau."
Di saat Betrand sedang di dalam kamarnya, samar-samar dia mendengar teriakan Ayahnya yang di sahut oleh Bundanya.
Betrand langsung memghentikan langkahnya tepat di belakang pintu kamarnya, ada apa? Ayah marah? Kenapa? Kok Bunda? Semua pertanyaan-pertanyaan berputar-putar di kepala bocah manis itu.
"Aku kepala keluarga disini! Kenapa kamu gak nurut!!"
"Kita udah bahas ini dari awal dan kamu setuju! Kenapa sekarang gak mau!!?"
Betrand semakin bingung, ia pikir Bunda nya pergi, dan Ayah belum pulang pastinya, tapi sekarang Ayah dan Bunda marah?
Bohong jika Betrand tidak berfikiran yang tidak-tidak, mencoba tenang, ia keluar dari kamar, berjalan ke kamar Ayah dan Bunda.
"Kamu juga harus ngerti perasaan aku."
"Ngerti apa! Orang dulu aja kamu setuju.!!"
"Bunda kenapa Bunda?" Tanya nya menghampiri Bunda yang ada di ruang make up.
"Gak pa-pa sayang." Jawab Bunda, lembut.
"Onyo tadi gak sengaja denger Ayah sama Bunda teriak-teriak.."
Bunda tidak menjawab pertanyaan putranya, ia masih menyibukkan dirinya bebenah di ruang make up. Betrand berjalan ke ruangan yang lain, di sana terlihat Ayahnya sedang terduduk di pinggir kasurnya.
"Ayah kenapa sih Ayah?"
"Onyo ngapain kesini? Keluar aja dulu Ayah mau ngomong sama Bunda."
"Kenapa?"
"Gak pa-pa."
"Nggak, kenapa Ayah?" Tanya Betrand lagi.
"Onyo keluar dulu, ini urusan Ayah sama Bunda."
"Nggak, Onyo denger Ayah marahin Bunda tadi."
"Iya."
"Kenapa?"
"Bunda nggak mau dengerin kata Ayah."
"Ya kan Bunda punya alasan pasti."
Ayah diam, sembari menyibukan dirinya, Betrand lalu berjalan menghampiri Bundanya, kalau memang Bunda salah apa tidak bisa Ayah bicarakan itu dengan baik tanpa perlu marah-marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
All About You [END]
Teen FictionDear Betrand, Apakah Tujuan Surga Kita Sama Setelah Kita 'MATI' Dulu aku berfikir aku yang akan ditinggalkan oleh semua orang yang aku sayang, termasuk kamu. Tapi, semua itu salah, ternyata aku yang meninggalkan kamu. Dear Ayla, Kamu Tau Aku Paling...
![All About You [END]](https://img.wattpad.com/cover/226433342-64-k328370.jpg)