18

139 14 0
                                        

Ezra terus menunggu Letta yang belum juga membuka matanya.Ezra duduk di kursi samping Branker istrinya. Ezra mengecup punggung telapak tangan Letta berkali-kali. Ezra bersyukur karena sang maha pencipta begitu baik memberikan titipan di usianya yang masih muda rasa bahagia membuncah di hati Ezra. Tapi, Ezra juga khawatir akan kah Letta menerima jika dirinya sedang 'hamil' saat ini. Untuk saat ini itu lah yang Ezra fikirkan, Ezra berdoa dalam hati semoga Letta menerimanya. Pasalnya, Letta baru berumur 18 tahun masih sangat muda jika dirinya harus mengandung di usia seperti itu. Semoga saja Letta menerima semua takdir yang Sang Pencipta berikan.

Bau obat-obatan menyeruak di indra penciuman Letta. Letta mulai mengerjapkan matanya. Seingat Letta ia pingsan saat menahan rasa sakit perut nya di rumah tadi. Tapi, sekarang dimana dia? Letta menoleh ke arah samping, terdapat Ezra yang sedang mengecup tangannya berkali-kali.

"K-kak Zaza... Haus..." lirih Letta dengan suara yang amat pelan. Ezra yang mendengar suara Letta mendongakkan kepalanya.

Ezra memastikan jika benar Letta sudah sadar. Akhirnya Letta sadar juga. Ezra mengalihkan tangannya untuk mengambil air putih yang tersedi dia meja samping Branker. Membantu Letta untuk duduk dan meminumkannya pada Letta.

Letta segera meminum air yang di berikan Ezra, karena tenggorokannya sangat kering sekali.

"Pelan-pelan sayang." tegur Ezra lembut, karena istrinya minum terburu-buru. Kerena sudah cukup Ezra menaruh kembali gelas tersebut.

"Tata dimana Kak?" tanya Letta lirih. Sekilas Ezra mengecup kening Letta.

"Kamu di rumah sakit sayang" jawab Ezra sambil mengelus pucuk kepala Letta.

"Maaf" kata maaf terlontar dari bibir Ezra.

"Maaf? Maaf untuk apa kak?" tanya Letta menyerengitkan pelipis nya.

"K-kamu ha-m-il! Seharusnya waktu itu aku ga melakukannya." sesal Ezra menundukkan kepalanya.

Letta mencerna ucapan Ezra barusan. 'Hamil' tandanya sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ibu. Sungguh, Letta sangat bahagia. Tetapi, kenapa Ezra malah meminta maaf padanya?

"Kak Zaza gak perlu minta maaf!" ujar letta mengambil alih telapak tangan Ezra. "Letta seneng kok bakal jadi Ibu." ucap Letta senang meletakkan tangan Ezra ke perut rata milik nya.

Ezra yang mendengarkan penuturan istrinya mendongakkan wajahnya. Menatap lekat wajah milik Letta.  Ternyata dugaan Ezra salah, ia kira Letta akan marah padanya. Syukurlah jika Letta menerima kehadiran calon bayi nya.

"Kamu gak marah sama aku Ta?" tanya Ezra. Letta terkekeh melihat wajah memelas suaminya.

"Kenapa Tata harus marah! Tata malah seneng bakal punya baby yang lucu." kekeh Letta.

Ezra langsung berhambur kedalam pelukan Letta. Mengecup kening istrinya berulang kali. Sekarang gadis kecil nya sudah dewasa! "Makasih dear, love you."

"Too dear."

🍁🍁🍁

Semenjak Letta pulang dari rumah sakit Ezra semakin over protektif  pada Letta. Sementara Letta, ia tidak suka jika Ezra melarangnya. Seperti sekarang Letta sedang memasak dan menyajikan makanan untuk makan malam.

"Apa sih Kak! Aku cuma masak dong kok!" ketus Letta pada Ezra.

"Udah deh, kamu diam aja! Aku bisa siapin makan sendiri Tata! Aku gak mau ya kamu kecapean." jelas Ezra menarika pingga Letta, mendudukkan Letta di kursi makan.

"Tapi Kak--" kata Lette terputus, karena ucapan Ezra.

"Gak! Pokoknya kamu diam situ."  kata Ezra tidak menerima penolakan. Letta yang mendapatkan perlakuan seperti itu menjadi geram.

Dasar suami menyebalkan! Rasanya Letta ingin menjambak rambut Ezra hingga rontok. Kenapa harus se over protektif  ini sih! Kerena kesel dengan Ezra yang terus melarangnya. Letta meninggal Ezra menuju kamarnya.

Mendengar ucapan Ezra yang terus melarangnya membuat kepala Lett menjadi pusing, lebih baik Letta ke kamar untuk merebahkan tubuhnya. Biarkan saja inti nya Letta marah pada Ezra! Letta melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Menutup pintu dengan kencang agar suaminya sadar jika dirinya tengah merajuk.

Brakk!!

Ezra yang mendengar suara gebrakan pintu hanya mengusap dada nya sabar, mengerti akan sifat merajuk Letta. Hormon Ibu hamil Letta membuatnya kewalahan untuk menghadapi Letta. Memang salah jika ia over protektif ? Menurutnya tidak.

'Sabar, sabar untung istri.' batin Ezra dalan hati.

Ezra segera melangkahkan kakinya menuju kamar. Menyusul Letta, kali ini ia akan membujuk istrinya. Ezra perlahan membuka knop pintu, masuk kedalam kamar. Ezra menghampiri Letta yang tengah duduk di bibir ranjang. Ezra memegang punggung Letta. Tetapi, langsung ditepis oleh istrinya.

Letta menepis tangan Ezra. "Gak usah pegang-pegang deh!" ketus Letta. Jika sudah seperti ini Ezra hanya pasrah.

"Jangan marah dong Ta! Oke deh aku minta maaf." ujar Ezra tulus.

Letta yang mendengar ucap tulus dari Ezra menjadi tidak tega. Padahal, Letta ingin mendiamkan Ezra untuk hari ini. Seketika rencana Letta gagal.

"Iya, aku maafiin."

Ezra yang mendapatkan maaf dari Letta langsung menghamburkan kedalam pelukkan Letta. Mengecup setiap inci wajah istrinya. Dari mulai pipi, hidung, mata, kening hingga bibir mungil milik Letta.

"Makan ya! Biar aku bawain makananya kesini."

Letta hanya mengangguk, ia hanya menetralkan detak jantungnya yang tak karuan. Padahal, Ezra sudah sering memperlakukannya seperti itu tetapi Letta masih saja grogi.

🍁🍁🍁

"Kak Zaza! Badan Tata kok gendut sih." kesal Letta saat melihat dirinya di cermin.

Entah sudah keberapa kalinya Letta mengucapkan hal yang sama pada Ezra. Ezra sampai di buat pusing oleh Lett, bagi Ezra si wajar saja karena Letta sedang mengandung.

Sore ini mereka memang berencana untuk pergi ke mall. Dikarenakan Letta yang meminta jadilah Ezra menuruti kemauan istrinya.

"Kalo kamu ngaca terus gitu! kita kapan berangkatnya Ta!" ketus Ezra jengah. Rasanya Ezra ingin menampar mulutnya sendiri, berucap ketus pada istrinya yang sensitif belakangan ini.

Letta yang mendengar nada ketus dari Ezra rasanya ingin menangis. Memang salah Letta apa? Letta kan hanya bertanya pendapat tentang dirinya sekarang. Mata Letta berkaca-kaca.

"Maafin Tata ya, Kak Zaza jangan marah." lirih Letta, seketika air matanya tumpah membasahi pipi chubby nya.

Tuh kan seperti apa yang Ezra bilang tadi, pasti Letta akan menangis. Ezra menghampiri Letta, membawa Letta kedalam pelukannya.

"Udah ya Ta, aku gak marah sayang. So  beautiful" kata Ezra menenangkan Letta. Mengelus pucuk kepala Letta.

Letta menghentikan tangisnya, mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Ezra. "Beneran Kak Zaza gak marah?" tanya Letta memastikan.

"Enggak sayang, udah yuk berangkat! Nanti keburu malem lagi." ajak Ezra. Menggenggam tangan mungil milik Letta.

Letta menganggukkan kepalanya. Sementara Ezra bernapas lega karena  mood Letta kembali membaik. Dua sejoli itu segera menuju parkiran apartemen.







Hii gaiss....
Bertemu lagi kita. Gimana asik gak chapter kali ini? Thanks ya yang masih setia dengan karya ku. Jangan lupa tulis pendapat kalian di kolam komentar and jangan lupa kasih bintang nya, biar aku tambah semangat bikin chapter selanjutnya.

My Friend Is My HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang