Terjerat pernikahan di usia muda karena hamil?! Anisa dijebak oleh orang asing bahkan karena malam bergairah yang ia habiskan bersama putra Mahesa, Arfan dalam semalam nasib Anisa kacau. Keluarga Anisa yang mengetahui fakta tersebut mengurungnya dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepulang dari rumah sakit, Arfan mulai mempersiapkan diri untuk pindah lagi. Anisa ingin membantu, tetapi Arfan melarangnya dan menyuruhnya fokus ke si kembar. Walaupun begitu, Anisa merasa tidak enak karena Arfan mengurus semuanya padahal ia bisa saja mengemasi barang-barangnya sendiri. Namun, Arfan sudah mengemasinya bersama barang-barang si kembar.
"Tidakkah kita kembali ke Jakarta saja?" Anisa memberanikan diri bertanya kembali tentang masalah kembali ke rumah orang tua mereka.
Pertanyaan Anisa menghentikan aktivitas Arfan. Lelaki itu membalikkan badannya lalu menatap Anisa begitu lekat seraya menjawab, "Kamu tahu jawabanku apa. Jadi, berhenti bertanya!"
Hening sesaat. Keduanya terdiam sambil menatap satu sama lain. Anisa menggertakkan giginya, ia sudah tidak tahan lagi akhirnya mengeluarkan semua perasaan yang ia pendam selama ini.
"Kenapa? Jawab aku kenapa kita tidak bisa kembali? Kondisi kita sudah seperti ini, tapi kamu masih marah soal orang tua kita yang tidak mendengarkan kita, hah?! Arfan Mahesa, jawab aku!" teriak Anisa hingga suaranya terdengar serak parau.
Arfan menghela napas sambil memijit kepalanya. Sungguh ia tidak ingin berdebat dengan Anisa, tetapi perempuan itu memancingnya untuk berdebat. Arfan mendelik ke arah Anisa.
"Kamu mau tahu jawabanku kenapa menolak? Oke, dengarkan baik-baik! Aku ... tidak mau mengambil risiko lebih berbahaya untukmu dan anak-anak kita. Kamu lihat sendiri saat kamu mencoba kembali saja, pembunuh bayaran mengejarmu, kan? Iya, kan? Aku menghindari itu! Belum saatnya kita kembali! Lagian jika dari awal kamu cerita ke papamu soal kejadian hari itu dan katakan saja ayah anak yang kamu kandung itu anakkku ... masalah ini takkan sampai seperti ini. Aku sudah bilang dari awal kan, tapi kamu lebih memilih ingin melupakannya. Sejak malam itu kamu sudah tidak bisa lepas dariku, Anisa!" Arfan dengan lantang mengatakan kebenaran yang ia sembunyikan untuk melindungi dan tidak menyakiti Anisa. Sayangnya, Anisa sangat keras kepala sampai membuat Arfan tersulut emosi.
Mendengar penuturan Arfan membuat Anisa berpikir kembali. Ucapan Arfan tidak salah, tetapi harusnya ia menjelaskanmya dengan jelas. Bukan menjauh saat ditanya. Ia paham betul sejak malam itu hidupnya telah berubah. Anisa tidak bisa kembali ke kehidupan normalnya jika sudah terjerat masalah dengan Arfan. Akan tetapi, ia tidak menyangka Arfan menganggap remeh komunikasi dalam pernikahan. Ini menjadi pertengkaran pertama mereka di rumah tangga yang mereka jalani.
Pertengkaran mereka juga membangunkan Ryan dan Reyna di kamar. Tangisan bayi berusia 5 bulan memekikkan telinga. Segera Anisa berlari kecil memasuki kamar lalu menenangkan anak-anaknya. Sewaktu di rumah sakit selama Arfan pemulihan, Anisa diajari mengasuh bayi. Arfan kala itu juga diam-diam memerhatikan cara merawat bayi karena bagaimanapun mereka menjadi orang tua di usia 22 tahun, usia terlalu muda.
Arfan mengembuskan napas dengan gusar, ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil menatap langit-langit rumah. Ia menyadari beratnya menjalani hidup tanpa orang tua, tetapi tanggung jawab keluarga kecilnya berada di tangannya. Arfan juga harus memberikan asupan dan lingkungan yang bersih dan baik untuk anak laki-lakinya, Ryan. Anemia yang di deritanya disebabkan genetik yang diturunkan darinya.
"Hanya ada satu cara transfusi darah. Jika transplantasi tulang sumsum belum ada kemungkinan sembuh juga, aku dulu juga begitu gagal dan hampir mati. Kali ini, aku tidak akan membiarkan istri dan anak-anakku kekurangan apa pun. Tidak akan!" Arfan mengepalkan tangannya sebagai tanda tekadnya sudah bulat untuk bekerja lebih keras lagi.
Anisa diam-diam menguping. Ia hanya bisa menatap nanar suaminya itu di balik pintu kamar. "Padahal kamu baru sembuh begitu, masa mau bekerja keras kayak orang gila? Sebelum kecelakaan saja kamu sudah kayak orang gila kerja, Mas," gumam Anisa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi~ udah lama gak update nih. Mumpung ada waktu dan ide sekalian saja. Jangan lupa vote, komen, ya.