💕15💕

112 14 46
                                        

"Mas, istirahatlah dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Mas, istirahatlah dulu. Kamu sudah lembur beberapa hari ini padahal kamu masih masa pemulihan," ucap Anisa dengan alis yang saling bertaut.

Arfan memijit kepalanya lalu melirik istrinya yang sedang menimang Reyna dalam gendongannya. Arfan memerhatikan Anisa dari ujung rambut sampai ujung kakinya, tampak berantakan dan tak terurus.

Arfan menghela napas berat sembari melepas kacamatanya. "Kamu menasihatiku, tapi lihatlah dirimu sendiri juga sama saja. Kamu begitu kurus dan tidak terawat karena fokus ke anak-anak."

Anisa mendelik tak terima dengan ucapan Arfan. "Apa? Kamu mau bilang aku jelek sekarang? Gitu?" Anisa meninggikan nada suaranya.

Arfan mengembuskan napas dengan gusar sembari menyibak rambutnya dengan kasar, ia pun bangkit dari kursinya lalu menatap tajam Anisa. "Bukan itu maksudku! Aku khawatir kesehatanmu karena tidak memerhatikan dirimu sendiri! Kamu tahu aku menikahimu bukan sekadar tanggung jawab karena telah merebut masa depanmu, tapi untuk menafkahimu seumur hidup! Itulah pernikahan, Anisa Rahman!"

Anisa bungkam. Ucapan Arfan tidaklah salah, tetapi ia berpikir tidak seharusnya dirinya bersama lelaki ini. Kakinya perlahan mundur, tetapi Arfan lebih sigap langsung memegang tangan Anisa.

"Mau ke mana? Jangan pancing emosiku, Anisa!" teriak Arfan yang mengejutkan Reyna yang masih dalam gendongan Anisa. Bayi perempuan yang lucu nan manis itu sedari tadi diam dengan anteng meminum susunya, hanya saja karena teriakan Arfan, Reyna menangis dengan keras sampai membangunkan Ryan yang tidur di dalam kamar.

Baik Arfan dan Anisa hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu. Anisa melepas genggaman Arfan lalu berbalik ke kamar untuk menenangkan Ryan. Arfan hanya bisa merenung di sofa sambil menatap laptopnya. Pekerjaannya tidak ada yang selesai walaupun ia bekerja sekeras apa pun. "Kehidupan mana pun sama saja, menjadi pewaris ataupun perintis sama melelahkan. Tekanannya sama ...." Arfan terhenti, ia melirik pintu kamar. Dua bayi kembar mereka belum berhenti menangis, hal itu membuat Anisa kesulitan mengurus keduanya.

Arfan menghela napas dengan berat, ia melangkah memasuki kamar. "Nis, biar aku saja urus Reyna. Ryan sama kamu saja karena dia lagi sakit. Reyna tidak boleh dekat dengan kembarannya untuk sementara." Arfan dengan pelan mengambil Reyna yang berada dalam gendongan Anisa lalu lelaki itu keluar kamar meninggalkan Anisa.

Anisa yang kebingungan pun menghentikan langkah Arfan seraya bertanya, "Kenapa kamu berbuat sejauh ini? Kamu kan butuh istirahat karena terus lembur."

Arfan melirik Anisa sekilas lalu mencium kening Anisa dengan lembut. "Aku ayah mereka, jadi, mereka juga tanggung jawabku. Terlepas mau selelah apa pun diriku, tapi namanya tanggung jawab tetap harus dilaksanakan. Aku tahu kamu tidak menyukaiku sampai saat ini sebab itu, kamu berusaha kabur dariku. Akan tetapi, kamu perlu tahu satu hal dalam pernikahan masalah apa pun harus diselesaikan bersama. Pernikahan kita memang bukan didasari namanya cinta, tapi tanggung jawab. Kita masih muda untuk menjalani ini. Oleh karena itu, penting membangun kepercayaan dan komunikasi antara kita dan ini baik untuk kita dan anak-anak. Aku tahu tadi aku salah dan aku minta maaf atas itu ... aku pun tidak pernah memaksamu mencintaiku. Jadi, Anisa, aku Arfan Mahesa memohon kepadamu jangan menilaiku dengan terlalu buruk hanya karena diriku yang tegas dan tak berbelas kasih kepada musuh. Aku tidak sekejam itu apalagi kepada keluargaku sendiri. Hanya itu yang ingin kukatakan," jelas Arfan dengan panjang lebar lalu benar-benar pergi dengan Reyna yang dalam gendongannya.

Anisa terdiam. Suara tangisan Ryan membuyarkan lamunannya, ia langsung mengendong putranya dengan hati-hati. Selama Anisa menimang Ryan, ia terus terpikirkan penjelasan Arfan. "Mas, benar. Aku juga salah padahal mas sudah memperlakukanku dengan baik bahkan saat malam pertama setelah pernikahan, Arfan tidak memaksaku untuk tidur bersama dan memberikanku yang terbaik."

***
Sejak kejadian itu, Anisa menghindari Arfan. Tiap kali Arfan muncul, Anisa langsung bersembunyi. Hal itu sampai membuat teman-temannya terheran-heran dengan duo sejoli itu. Ada saja tingkah laku yang bikin geleng-geleng kepala.

"Fan, kamu gamau samperin Anisa?" tanya Dion sambil menyiapkan pesanan pelanggan.

"Tidak perlu, jika dia menghindariku aku pun tidak mengejarnya lagian dia takkan kabur. Biarkan saja," jawab Arfan yang fokus menghitung pemasukan penjualannya bulan ini.

"Apa kalian habis bertengkar lagi? Kami tahu kami tidak pantas ikut campur masalah rumah tangga kalian, tapi jika kalian seperti ini terus anak-anak kalian jadi korban. Mereka masih bayi jadi pikirkanlah masa depan mereka. Kalian adalah orang tua dan sudah tugas kalian membesarkan mereka dengan kasih sayang. Kamu juga kan yang mengatakan tidak ingin anak-anakmu mengalami hal serupa demganmu. Kamu kan ingin mengakhiri mimpi buruk ini. Jadi, saranku nih kamu harus berbaikan dengan Anisa bagaimanapun caranya bukan dengan menghindar dan saling diam saja. Bangunlah komunikasi ... itu saja," jelas Dimas yang baru selesai memanggang kue.

Arfan terhanyut dalam pikirannya. Matanya sesekali melirik ke Anisa yang sedang menjaga anak-anaknya bermain. Memang benar, saat ini, hanya ada dirinya sebagai penopang hidup Anisa. Keluarga? Orang-orang itu bahkan tak bisa disebut keluarga lagi karena mereka juga yang mengusirnya. "Apalagi, keluargaku. Orang tuaku bahkan enggan mendengar penjelasanku hari itu. Andai saja, aku memiliki kekuatan untuk melindungi Anisa pasti aku tidak akan kehilangan kedua anakku saat dilahirkan," pikir Arfan sambil mengepalkan tangannya. Kesal? Iya. Menyesal? Tentunya. Namun, apa daya sekarang? Semuanya sudah terlambat tuk disesali. Yang harus ia lakukan hanyalah fokus dengan saat ini dan mempersiapkan masa depan untuk keluarga kecilnya.

 Yang harus ia lakukan hanyalah fokus dengan saat ini dan mempersiapkan masa depan untuk keluarga kecilnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Our BabyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang