Terjerat pernikahan di usia muda karena hamil?! Anisa dijebak oleh orang asing bahkan karena malam bergairah yang ia habiskan bersama putra Mahesa, Arfan dalam semalam nasib Anisa kacau. Keluarga Anisa yang mengetahui fakta tersebut mengurungnya dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anisa masih menghindari Arfan, tetapi Arfan juga tidak memaksa Anisa untuk mendekatinya. Lelaki itu tahu Anisa butuh waktu menerima ini semua dan saat ini hal patut dilakukan adalah saling memberikan ruang untuk diri sendiri sampai tiba waktu mereka berdua menerima satu sama lain dan melangkah maju.
Arfan tidak lupa malam pertama mereka setelah pernikahan yang diadakan secara sederhana dan hanya diwakilkan oleh wali karena tidak ada wali orang tua. Mau bagaimanapun, Anisa memang masih terlalu polos dan kekanak-kanakkan. Dirinya seperti itu menjadi seorang ibu di usianya muda belum siap mental. Arfan pun demikian. Namun, didikan orang tuanya yang keras dan mengajarkan dirinya harus menjadi orang yang bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia lakukan mau sengaja ataupun tidak. Arfan Mahesa dibesarkan sepert itulah sebagai pewaris Mahesa Group.
"Padahal, awalnya, aku bukanlah salah satu kandidat pewaris melainkan kakak. Sayangnya, kakak sudah tiada. Ayah hanya memiliki 3 anak, tapi kakak perempuanku itu tidak ingin mewarisi perusahaan dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Jadi, aku terpaksa menanggung harapan dan ego para orang tua yang ingin perusahaan tetap berjalan dan diwariskan," pikir Arfan sambil beristirahat setelah bekerja sejak pagi.
"Ar, ada yang mau ketemuan tuh," ucap Dimas.
"Siapa?" Arfan menaikkan satu alisnya.
"Dia tuan muda dari keluarga Han," jawab Dimas.
"Han? Keluarga yang berasal dari China itu? Mau apa dia menemuiku?" Arfan langsung bergegas keluar, berniat menemui tuan muda yang dimaksud tersebut.
"Hai, Tuan Arfan. Sudah lama kita tidak berjumpa. Aku kesulitan mencarimu, tapi aku berhasil menemukanmu. Tenang saja, aku datang mau bekerja sama denganmu dan berjanji tidak akan membocorkan tentang keberadaammu kepada keluargamu. Jadi, bagaimana kalau kita berbincang sambil memimum sesuatu? Ah, aku penasaran kue di toko ini jadi aku datang ke sini, tapi ternyata kamu pemiliknya." Seorang lelaki dengan mata sipit tersenyum tipis menyapa Arfan, sedangkan Arfan tidak banyak ekspresi ditunjukkan— hanya wajah datar dan tatapan tajam ditunjukkan.
"Bagaimana kalau kamu dengar dulu? Aku akan menjadi rekan pertamamu dalan bisnis dan kita bisa mengembangkan projek yang sudah kita rencanakan? tanyanya sambil memakan kue yang disajikan. "Kita bisa ke bisnis lain dan menyebarluaskan bisnis kue ini," lanjutnya.
"Han Yichen, katakan apa sebenarnya kau inginkan?" Arfan bertanya dengan nada penuh penegasan.
"Tidak ada, kamu pasti mikir untuk bekerja sama perlu terjalin kontrak yang saling menguntungkan kedua pihak. Namun, aku tidak meminta itu karena hanya aku paling mengenalmu. Kerja sama ini akan menguntungkanmu dalam perekonomian apalagi kamu butuh biaya buat pengobatan putramu, kan? Tidak ada salahnya mencoba dan bukankah kita sudah berjanji akan melakukan ini? Inilah saatnya. Kamu tidak perlu khawatirkan lainnya, orang tuaku tidak tahu tentangmu dan aku datang sendiri ke sini lagian posisi kita sama kok. Red blood sedang mengejarku dan aku hidup dalam pelarian. Orang tuaku sedang tidak ada di rumah utama saat ini, jadi, orang-orang itu menaruh obat di minumanku dan aku juga berakhir sepertimu. Perempuan asing dimasukkan ke kamarku dan semuanya terjadi. Anakku sebentar lagi lahir dan aku yakin anak-anak kita bisa berteman baik kedepannya," jelas Yichen menjelaskan situasinya saat ini kepada Arfan.
Tampak Arfan diam tak bergeming memberikan jawaban pun tidak. Yichen tidak tahu apa yang dipikirkan Arfan saat ini, tetapi harapan terakhirnya hanyalah Arfan. Ia tidak memiliki banyak waktu dan tidak bisa kembali ke rumah. "Aku mohon kamu satu-satunya yang dapat membantuku. Aku tidak bisa pulang lagi ke rumah karena orang-orang dari red blood mengepung rumah itu, aku berhasil kabur membawa perempuan itu bersamaku." Yichen memohon kepada Arfan agar menerimanya, di benar-benar sudah putus asa.
Arfan mengembuskan napas. "Baiklah, aku akan bantu, tapi kamu tetap harus memikirkan keuntungan untukmu. Aku tidak ingin kerja sama ini terjalin tanpa adanya keuntungan ke pihak lainnya. Jadi, pikirkanlah dulu dan bawa wanita itu ke rumahku. Biar dia aman bersama Anisa lagian yang membantuku kabur juga adalah anggota light noir."
Yichen membungkukkan badan seraya berkata, "Terima kasih, Arfan. Aku akan memikirkannya dengan baik dan memberitahumu jika sudah kuputuskan."
Arfan mengulum senyum. "Baik, mari kita mulai. Omong-omong, aku sudah memiliki perusahaan kubangun sendiri. Toko kue ini hanya salah satu bisnisku karena bisnis lainnya adalah butik yang dikelola Anisa."
"Ya? Apa?" Yichen tak bisa berkata-kata. "Perusahaan apa? Jangan bilang—"
"Iya, Lumiviora Corporation."
"Eh? Apa?! Perusahan itu milikmu?"
"Iya."
Yichen tidak habis pikir dengan lelaki disampingnya ini. "Dia benar-benar ditakdirkan sebagai rajanya bisnis padahal sudah diusir dari rumah, tapi masih bisa berbisnis. Dia adalah orang paling bahaya, keputusan tepat datang sebagai rekan dan tak menjadikannya musuh bisa mati aku," monolog Yichen.
"Ayo, kita lakukan bisnis yang pernah kita rencanakan dan menemui rekan kerja lain," ajak Arfan.
"Iya!"
*** "Hai, senang bertemu Anda, Nyonya Mahesa. Saya adalah Yuna, salam kenal."
"Ah, iya, silakan masuk."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.