🌸18🌸

78 5 0
                                        

Beberapa hari kemudian, Arfan dan Yichen memulai kerja sama bisnis dengan projek baru

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa hari kemudian, Arfan dan Yichen memulai kerja sama bisnis dengan projek baru. Keduanya merencanakan semuanya dari target pasar, bahan bisnis, dan modal. Ketekunan dan ketelitian yang signifikan antara mereka berdua menciptakan atmosfer dingin.

"Kedua tuan muda itu benar-benar jiwa pembisnis," timpal Dimas.

"Benar sekali."

Tidak ada yang menganggu mereka. Semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga jam pulang kerja keduanya masih serius membahas projek kerja.

"Kalian berdua lebih baik pulang. Wanita kalian sudah menunggu, loh," ucap Dimas.

"Betul sekali. Gak baik meninggalkan istri yang sedang mengurus anak kembar dan sedang hamil besar," timpal Dion.

Arfan dan Yichen membeku. Keduanya saling memandang satu sama lain lalu mengangguk. Keduanya berdiri sambil membereskan sisa pekerjaan dan melanjutkan esok hari.

***
Sesampainya di rumah, lampu rumah sudah dimatikan. Mereka memasuki rumah dengan langkah pelan agar tidak membangunkan yang lain.

"Mas, sudah pulang?"

"Anisa? Maaf, aku membangunkanmu," ucap Arfan yang sesaat terlonjak kaget melihat Anisa menunggunya di ruang keluarga atau tamu.

"Kenapa gak tidur di kamar?" tanya Arfan mendekati Anisa. Tangannya bergerak memegang wajah Anisa dengan raut wajah khawatir.

"Kami menunggu kalian pulang. Pasti belum makan, kan? Aku dan Yuna tadi memasak. Pergilah makan lalu mandi. Kalian harus istirahat juga. Oh, ya, Yuna nih tidur disampingku. Kamu bawalah dia ke kamar," jelas Anisa sambil mengucek matanya dan mulutnya menguap.

"Ah, iya." Yichen paham maksud Anisa pun membuka sedikit selimut di samping Anisa. Yuna, perempuan itu tertidur pulas yang membuat Yichen tanpa sadar tersenyum. Segera ia menggendongnya dan memindahkannya ke kamar tempat mereka tidur bersama.

Begitu kedua orang itu masuk kamar, Arfan memandangi Anisa. Hal itu membuat Anisa memandanginya balik sambil mengerutkan dahi.

"Ke kamarlah. Aku akan makan dengan Yichen. Pasti kamu lelah mengurus si kembar," ucap Arfan sambil mengusap kepala Anisa.

"Baiklah, kamu juga bergegaslah ke kamar setelah mandi dan jangan memaksakan diri bekerja. Tubuhmu tidak seperti dulu setelah pasca kecelakaan. Aku hanya berharap Yichen dan Yuna tak berakhir kayak kita menjelang kelahiran anak mereka."  Setelah mengatakan semuanya, Anisa memasuki kamar. Arfan terdiam di tempat sambil memikirkan sesuatu.

"Entah kenapa firasatku tidak enak. Aku juga mengharapkan itu, tapi red blood pasti akan melalukan sesuatu apa pun terjadi untuk melenyapkan semua keluarga konglomerat. Seperti kehancuran beberapa keluarga semasa aku sekolah dulu. Untungnya, keluarga Yahya, Jaya, Kusuma, Zyaen berhasil diselamatkan dari cengkraman red blood. Apalagi, keluarga Jaya saat ini memiliki pewaris unggul. Bocah itu saat kali pertama bertemu denganku umurnya masih 5 tahun, tapi tidak ada takut-takutnya denganku. Apa kabar, anak itu? Siapa dulu namanya? Ah, Raden Baskara Jaya."

Our BabyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang