Terjerat pernikahan di usia muda karena hamil?! Anisa dijebak oleh orang asing bahkan karena malam bergairah yang ia habiskan bersama putra Mahesa, Arfan dalam semalam nasib Anisa kacau. Keluarga Anisa yang mengetahui fakta tersebut mengurungnya dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anisa yang sedang beristirahat sambil menonton televisi usai membersihkan rumah tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Perhatian Anisa teralihkan ke pintu rumahnya, ia bangkit dari sofa, melangkah menuju pintu rumah. Tangannya memegang ganggang pintu lalu membukanya. "Iya, dengan siapa?" tanya Anisa.
Begitu pintu terbuka, sosok perempuan yang terlihat usianya tidak terlalu jauh dari Anisa memberikan senyuman sebagai salam. "Hai, senang bertemu Anda, Nyonya Mahesa. Saya adalah Yuna, salam kenal."
"Yuna? Kamu datang ke sini kenapa? Eh?" Anisa terdiam melihat perut Yuna membesar. "Kamu hamil? Mau lahiran?" Anisa dengan panik bertanya, ia tidak bisa berpikir jernih karena baru kali ini menghadapi situasi saat ini.
"Tidak, Nyonya. Saya datang karena suami saya bilang saya aman di sini untuk saat ini. Ah, tidak, kami belum resmi menikah juga. Bisa dibilang nasib kita sama, Nyonya Mahesa," tutur Yuna dengan santun.
"Siapa kali ini? Red blood sebenarnya mau apa, sih? Tidak cukup menghancurkan satu perempuan, sekarang melibatkan perempuan lain? Keluarga mana lelaki dari ayahmu?" tanya Anisa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Keluarga Han."
Jawaban Yuna membungkam mulut Anisa. Ia tidak habis pikir dengan organisasi mafia red blood yang sudah menyentuh konglomerat China, keluarga Han yang terkemuka dalam global. Keturunan salah satu bangsawan Tiongkok yang sudah tua dan sudah ada dari era dinasti Han. Yang Anisa ketahui, keluarga Han saat ini hanya satu di Indonesia dan memiliki satu-satunya pewaris, yakni Yichen Han.
"A- Anda berkata kasar?! Bukannya Anda terkenal menjaga tata krama dan santun kata?" Yuna syok mendengar satu kata yang diucapkan Anisa. Setahu Yuna, Anisa Rahman adalah nona muda panutan karena kesempurnaannya. Caranya bertutur kata, senyuman, keanggunan, dan sikapnya yang dewasa sebagai nona muda yang paling dihormati.
"Ah, kamu pasti kaget. Yang kamu kenal dari diriku hanya di depan publik, tapi tidak saat dibelakang layar. Lalu, aku juga sudah tertular kegilaan Arfan dan efek mengasuh anak kembar. Aku frustasi dan bertengkar dengan Arfan karena masalah sepele," jelas Anisa dengan tersenyum kikuk.
"Begitu, ya. Eh, tadi Anda bilang kalau sering bertengkar dengan tuan muda?" tanya Yuna memastikannya kembali.
"Iya, kurang lebih begitu. Mungkin kamu akan begitu dengan Yichen di awal pernikahan apalagi setelah anak kalian lahir. Jangan terlalu dipikirkan, semuanya akan baik-baik saja selama kalian bersama. Omong-omong, usia kandunganmu sudah masuk keberapa?" Anisa dengan cepat mengganti topik sambil mengelus perut Yuna.
"9 bulan. Perkiraan bulan ini lahir, tinggal hitung hari saja, Nyonya," jawab Yuna.
"Apa? Perlengkapan bayi dan kamu punya sudah disiapkan? Biaya rumah sakit? Kalau tinggal hitung hari harusnya Yichen menemanimu. Walau kalian belum resmi menikah, tapi tetap saja tanggung jawab tetap dijalankan. Haduh, dasar lelaki. Ayo, masuk dulu. Maaf sudah membuatmu lama berdiri." Anisa mendumel perkara Yichen yang tidak bertanggung jawab dan malah menyuruh Yuna datang ke rumahnya.
"Kamu duduk dulu. Aku ambilkan makanan dan susu untuk ibu hamil. Untung saja, aku masih ada stoknya. Nih, kukasih ke kamu dan jangan memanggilku nyonya atau anda. Itu terlalu formal, panggil Anisa saja. Tidak ada penolakan!" Anisa mempersiapkan semuanya walau sambil mendumel tiada henti.
Yuna hanya tersenyum menanggapi Anisa. Ia berubah total sejak menikah, ternyata benar perempuan akan menjadi galak dan cerewet setelah menikah dan melahirkan. Apakah aku pun akan menjadi demikian? batin Yuna.
"Jadi, jenis kelaminnya sudah ketahuan? Cewek atau cowok?" Anisa dengan antusias bertanya seribu pertanyaan.
Yuna hanya tersenyum menanggapinya. Beliau sudah seperti ibu-ibu yang suka bergosip, batin Yuna.
"Cowok. Anak ini juga sudah kupikirkan namanya," jawab Yuna sambil mengelus perutnya dengan pelan dan hati-hati.
"Semoga ia bisa berteman baik dengan si kembar," ucap Anisa dengan girang.
"Benar."
Akhirnya, keduanya melanjutkan obrolan dengan hal-hal kehidupan pernikahan dan seorang ibu. Anisa mendadak menjadi mentor yang mengajari Yuna. Tanpa mereka sadari, kedua lelaki sedang menatap mereka.
"Asyik, ya. Sampai suami pulang awal gak disambut? Bagus, padahal tadi pagi kamu yang merengek bilang ke aku bolos kerja saja."
Anisa terdiam seketika. Keduanya menoleh ke sumber suara. Dua lelaki berdiri bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan di depan dada menatap mereka berdua. Anisa bersikap acuh tak acuh, sedangkan Yuna berkeringat begitu matanya bersitatap dengan Yichen.
"Jangan takut, ingat yang kuajarkan tadi. Kita perempuan kuat. Kita sudahi obrolan ini, aku akan mempersiapkan kamar tamunya. Maaf, ya, rumah ini hanya memiliki 3 kamar saja," kata Anisa sambil bangkit dari sofa lalu tangannya dengan telaten membersihkan sisa makanan lalu dibawa ke dapur piring kotor.
"Nis, biar aku bantu juga." Yuna bergegas menyusul Anisa yang sedang mencuci piring.
"Tidak apa, biar aku saja— eh?" Anisa terkejut melihat Yuna langsung memakai celemek.
"Biar aku bantu. Ini bukan apa-apa. Toh, kerja kecil-kecil tidak akan membuatku pingsan," ucap Yuna dengan percaya diri.
"Baiklah." Anisa pun menerima bantuan Yuna dan mereka bercanda tawa bersama sambil membersihkan rumah.
"Jadi, kami tinggal di sini?" tanya Yichen yang tatapannya tak lepas dari Yuna.
"Untuk saat ini, iya. Ingat kukatakan di kafe tadi hanya sampai kita berhasil dengan projek itu dan kita akan pindah rumah. Kamu juga belilah rumah sendiri dan belajar hidup mandiri demi istri dan anakmu kelak. Hidup dalam pelarian dari red blood tidaklah mudah sampai kita memiliki kekuatan untuk bisa kembali dan membalas mereka berkali-kali lipat," jelas Arfan. Yichen bisa melihat dengan jelas sorot mata Arfan yang tajam menandakan amarah yang ia tahan selama ini.
"Aku Yichen Han, akan membantu, Anda, Tuan Muda Mahesa. Ini demi menyelesaikan permasalahan yang dilakukan generasi sebelum-sebelumnya," ucap Yichen.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.