💫20💫

77 5 0
                                        

Padatnya kota di hari begitu terik menyinari Kota Jakarta— bangunan-bangunan tinggi saling berdempetan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Padatnya kota di hari begitu terik menyinari Kota Jakarta— bangunan-bangunan tinggi saling berdempetan. Di salah satu gedung tersebut bertuliskan Mahesa group ricuh dengan kedatangan dua insan yang jarang melakukan hubungan lain diluar hubungan bisnis.

"Kalian datang pada kami meminta bantuan mencari putra kaliann yang menghilang? Kenapa tidak cari sendiri? Dengan kekuatan keluarga Han itu tidaklah sulit." Dhika berkata dengan tatapan dingin, satu kakinya disilangkan di atas kaki satunya.

"Aku tahu itu, tapi sangat sulit dan semua usaha kami sia-sia saja. Kami berpikir Yichen menghilang karena kasus serupa dengan Arfan. Coba kamu pikirkan lagi baik-baik, anak yang selama ini tidak menuntut banyak hal memilih kabur dari rumah. Aneh, kan? Mereka takkan melakukannya jika tidak ada bahaya mengancam nyawa mereka ... alasan inilah juga yang membuat kita selama beberapa bulan terakhir belum menemukan mereka. Ini sudah hampir satu tahun setelah Arfan menghilang dan Yichen ternyata menghilang tak lama setelah itu," jelas seorang pria dengan warna mata abu-abu.

"Xiao, aku paham perasaanmu." Dhika memijit kepalanya, dirinya sudah pusing karena masih belum menemukan Arfan. Sekarang malah keluarga Han juga putra semata wayangnya menghilang.

"Aku benar-benar menyesal karena pergi untuk berbisnis dalam waktu lama meninggalkan anak itu. Jika tahu akan seperti ini aku takkan pergi ke luar negeri buat bekerja." Seorang wanita menundukkan kepala sambil memainkan jari-jemarinya.

"Aku pun heran kenapa bisa kalian pergi meninggalkan kediaman disaat bersamaan? Mana pekerjaan yang kalian ambil itu memakan waktu hampir 9 bulan ... aku sungguh tak habis pikir. Memangnya penjagaan rumah kalian bagaimana?" Dhika berdecak kesal karena sahabatnya satu ini tidak biasanya melakukan kesalahan kecil seperti ini.

"Lantas, sekarang bagaimana? Aku sudah mencari ke seluruh kota Jakarta, tapi hasilnya nihil," ucap Xiao dengan wajah berkerut.

"Mas Dhika, apa kita sudah memperluas pencarian? Kita sudah mencari seisi Jakarta, tapi tidak ada, kan? Kalau begitu, mereka kabur ke luar kota."

Ucapan Vivian sesaat membungkam Dhika dan Xiao. "Benar, kita belum menelusuri luar kota. Apa tidak ada kabar dari keluarga Zyaen?"

"Tidak ada, mereka pasti akan mengabari kalau melihat Arfan ataupun Anisa. Hanya saja, tadi pagi Valeria menghubungiku, tapi aku belum bangun jadi aku belum menghubunginya balik. Tadi sudah kucoba hubungi, tapi sepertinya dia sibuk," jawab Vivian.

"Coba hubungi lagi sekarang. Harusnya jadwalnya sudah tidak terlalu padat," kata Dhika. Vivian pun mengangguk lalu mengeluarkan ponsel, ia mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu ditempelkan pada kupingnya.

Sambungan telepon pun tersambung. Dari seberang terdengar suara Valeria menyapa lalu Vivian menyapa balik. Keduanya saling basa-basi menanyakan kabar lalu Vivian pun masuk ke obrolan serius.

"Ah, Ria, aku mau tanya sesuatu," ucap Vivian.

"Sayang, mode speaker." Dhika melirik tajam istrinya. Vivian berdecak kesal, tetapi tetap melakukannya.

"Aku tahu Kakak mau tanya soal kenapa aku nelpon, kan? Ini terkait Arfan. Jadi, dengarkan baik-baik."

Hening. Ruangan itu berubah atmosfer hanya dengan perkataan Valeria dari ponsel. Semuanya menanti kelanjutan cerita.

"Arfan 10 bulan lalu dari Jakarra melarikan diri dari Jakarta ke Bandung, tapi sepertinya ada kejadian buruk setelah kelahiran anak mereka. Aku juga mendengar Yichen Han bersama Arfan selama pelarian, mereka seperti dikejar-kejar oleh sekelompok berjubah hitam. Ah, iya, beritahu ini pada keluarga Han bahwa Yichen Han telah menikah dengan seorang perempuan dan memiliki seorang putra. Ini hanya asumsiku, tapi setelah kuminta tolong pada Viktor untuk menyelidiki siapa yang mengejar mereka memang benar tebakanku."

"Siapa yang mengejar mereka?" tanya Dhika sambil merebut ponsel Vivian dari tangannya.

"Kakak ipar! Itu organisasi yang sama yang sudah mencoba membunuh Viktor 8 tahun lalu, red blood! Pasti karena mereka juga Arfan dan Yichen terjebak permainan yang mereka siapkan di hotel untuk menjatuhkan martabat mereka dan keluarga ... red blood sengaja melalukan ini supaya kalian mengusir anak-anak karena sudah menjadi aib keluarga. Ah, Viktor—"

"Itu sebabnya, Kak Dhika dari awal seharusnya kamu mendengarkan penjelasan Arfan. Aku sudah menyelidiki rumah sakit tempat Anisa melahirkan. Benar-benar miris." Viktor merebut ponsel Valeria lalu berbicara lewat telepon dengan nada dingin.

"Ada apa?"

"Anak itu lahir prematur. Usia kandungan Anisa masih 7 bulan, tapi mereka berdua mengalami kecelakaan beruntun akibat mencoba melarikan diri dari kejaran red blood," ucap Viktor, "lalu, anak itu anak kembar. Dua bayi tidak selamat setelah dilahirkan dan dua lainnya berhasil bertahan hidup."

Penjelasan Viktor menjadi pukulan telak bagi Dhika dan Vivian. Xiao dan istrinya— Nana tak dapat berkata apa pun.

"Setelah kelahiran putra Yichen dengan selamat, beberapa hari kemudian orang-orang itu membakar rumah yang ditinggali Arfan dan Anisa. Tidak ada yang tahu mereka ke mana setelah kejadian itu ... jasad tidak ditemukan. Yang pasti mereka masih hidup di suatu tempat dan ada kemungkinan mereka pindah. Aku sudah ke rumah itu akan kukirimkan barang-barang yang masih tersisa dari rumah itu, Kak. Aku juga mendapat bantuan dari keluarga Jaya. Cobalah tanyakan pada mereka karena beberapa hari sebelum kejadian itu kembaran Chris berada di Jogjakarta."

"Baiklah, terima kasih, Vik. Aku tunggu barang yang kamu kirim." Dhika pun memutuskan sambungan telepon lalu memberikan ponsel kepada Vivian.

"Ini tidak akan mudah. Kuharap kita bisa secepatnya menemukan mereka," gumam Dhika.

 Kuharap kita bisa secepatnya menemukan mereka," gumam Dhika

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Our BabyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang