Terjerat pernikahan di usia muda karena hamil?! Anisa dijebak oleh orang asing bahkan karena malam bergairah yang ia habiskan bersama putra Mahesa, Arfan dalam semalam nasib Anisa kacau. Keluarga Anisa yang mengetahui fakta tersebut mengurungnya dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab ini mengandung adegan dewasa.
Dua tahun kemudian, tepatnya di Tokyo. Tiga anak berlarian dengan riang saling kejar-mengejar. Menyambut musim semi dengan bunga sakura mekar indah.
"Anak-anak, sudah dulu mainnya. Makan siang dulu!" teriak perempuan memanggil ketiga anak-anak tersebut.
"Yey, mam!" Mereka berlarian masuk ke rumah dengan wajah ceria. Mereka makan dengan lahap.
"Bun, Eyna ingin ayam." Anak perempuan itu menunjuk sepiring ayam besar utuh.
Anisa tersenyum menanggapi putri kecilnya. Tangannya mengambil pisau lalu memotong ayam berukuran sedang lalu diberikan ke piring Reyna.
"Nis, lesu nampak. Kenapa?" Yuna datang dengan dua gelas es.
"Pake nanya lagi. Ini gara-gara Mas Arfan!" kilah Anisa sambil mengembungkan pipinya. Teringat semalam dirinya tidak dibiarkan tidur oleh suaminya perkara jatah.
"Kalau soal begituan mah aku pun. Si Yichen sama aja," sungut Yuna dengan malas.
"Tahu dasar lakik. Paginya langsung pergi kerja," kata Anisa seraya memutar bola matanya dengan malas.
"Nis," panggil Yuna.
"Kenapa?" sahut Anisa sambil mengambil kue bolu buatannya.
"Apa kamu masih mimpi buruk dengan kejadian 2 tahun lalu? Aku masih terbayang-bayang soalnya."
Ucapan Yuna menghentikan aktifitas Anisa. Hening sesaat. Mata Anisa melirik anak-anak yang masih lahap makan.
"Masih. Mas Arfan sudah perkiraan kejadian itu, tapi tetap gak bisa dihindari. Untung saja, kita gak ada di rumah. Walau aset di rumah itu juga habis dibakar api," jawab Anisa teringat kejadian ketika itu mereka baru sampai rumah, tetapi rumah tersebut terbakar tak tersisa. Yang selamat hanya satu ruangan rahasia milik Arfan.
"Entah apa yang sudah diperbuat suamimu pada ruangan yang merupakan gudang itu sampai tidak tersentuh api. Paling pintu saja yang gosong," ucap Yuna sambil mengunyah makanannya.
"Bun, Tante Yuna, bahas apa?" Pertanyaan anak laki-laki Anisa membuayarkan lamunan kedua perempuan itu.
"Eh, Nak, tidak kok. Kami hanya bahas keseharian kita apa aja ya hari ini," kilah Yuna dengan cepat agar anak itu tidak menyadari yang sebenarnya.
"Jangan boong, aku tidak bodoh," ucapnya. Yuna tidak bisa berkilah lagi pun menatap Anisa dengan putus asa.
"Tante Yuna benar. Ryan, kamu gak perlu memikirkan hal lain selain bermain. Tumbuhlah dengan baik, itu saja harapan Bunda," ucap Anisa dengan lembut.
Ryan mengangguk paham lalu melanjutkan makannya. Melihat anaknya tidak bertanya lagi, Anisa sedikit khawatir. Aku harus membicarakannya lagi dengan Mas Arfan, batin Anisa.
*** Malamnya, Anisa menunggu Arfan di kamar. Dirinya sedari tadi mondar-mandir dengan pakaian minim.
"Apa yang harus kulakukan? Lama kelamaan ketajaman dan kepekaan Ryan bisa membuat anak itu mengetahui masalah keluarga." Anisa berpikir keras upaya agar Ryan tidak tumbuh seperti ayahnya. "Mau dipikir bagaimanapun ini benar-benar memusingkan banget!" Anisa dengan frustasi mengacak-acak rambutnya.
Pintu terbuka, pemandangan pertama dilihat Arfan setelah pulang kerja ialah istrinya berpakaian minim dan bertingkah seperti orang gila.
"Ternyata aku menikahi orang gila." Arfan menutup pintu lalu menguncinya, dilempar tas kerjanya lalu dilepas dasinya.
"Mas, udah pulang?" Anisa membeku di tempat dan bibirnya dengan spontan bertanya demikian.
"Terus, yang kamu lihat di depanmu apa? Hantu?" Arfan mendengus sambil membuka kancing kemejanya. "Oh, ya, omset penjualan toko meningkat. Mungkin setelah ini aku bisa mengajakmu dengan anak-anak jalan-jalan ke tempat kalian sukai," lanjutnya sambil membuka lemari mengambil baju biasanya.
"Ah, ada yang mau ku bahas."
"Soal apa?"
"Ryan semakin lama semakin peka. Dia mirip siapa, sih?" tanya Anisa.
"Mirip aku."
Ucapan Arfan terkesan angkuh membuat Anisa mencibir, tetapi memang benar adanya. Anisa pun memalingkan wajah sambil memayunkan bibirnya.
"Lalu, kenapa kamu memakai baju itu? Mau ku serang lagi?" Arfan meneliti Anisa dari atas kepala hingga kaki dengan mata elangnya.
"Panas," jawab Anisa sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Alasan," kata Arfan, "satu lagi, permintaanmu buat balik ke Jakarta belum waktunya. Aku melihat red blood akhir-akhir ini. Mereka belum menyadari posisi kita jadi jalanin saja hidup seperti biasa. Keselamatan anak-anak lebih utama, aku memang menyesal tentang kedua anak kita lainnya, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan jika ingin selamat."
"Aku tahu." Anisa menundukkan kepala dengan lesu.
Arfan berlutut di depan Anisa sambil memegang pipinya dengan lembut seraya berkata, "Bersabarlah. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Ryan juga masih harus rutin ke rumah sakit. Keuangan kita stabil, tapi hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Kamu bisa, kan?"
"Iya, Mas."
Keduanya saling menatap satu sama lain. Dengan sentuhan perlahan, bibir saling menempel dan semakin dalam sentuhan diberikan Arfan. Anisa semakin jatuh ke dalam lautan gelora Arfan hingga melupakan sosok yang pernah ia cintai dulu.
Aku kalah dan tenggelam dalam rayuan pria tak beremosi ini, batin Anisa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.