💫19💫

75 5 0
                                        

Beberapa hari kemudian, Anisa yang sibuk mengurus si kembar dikejutkan oleh Yuna yang mengerang kesakitan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa hari kemudian, Anisa yang sibuk mengurus si kembar dikejutkan oleh Yuna yang mengerang kesakitan. Lantas, Anisa mendekat seraya bertanya, "Kenapa? Kontraksi? Masih kuat berjalan? Aku akan menghubungi Aurel dan Sekar. Tahan, ya."

Anisa dengan terburu-buru mengambil ponselnya di atas meja. Dibukanya layar ponselnya, jarinya dengan cepat mencari kontak kedua temannya. Begitu ditemukan, ia memencet panggilan lalu tersambung. Dengan intonasi bicara tegas, ia menjelaskan kondisi Yuna dan meminta tolong agar mereka secepatnya datang. Aurel dan Sekar mengiyakan lalu sambungan telepon terputus. Anisa beralih ke Yuna memintanya untuk rileks dan membantunya mengatur pernapasannya.

"Ayo, kubantu. Hati-hati. Syukurlah, belum pembukaan. Kamu yang tahan, ya," tutur Anisa sambil mengelus kepala Yuna menenangkannya. Anisa membantu Yuna duduk dengan perlahan lalu mengambil segelas air lalu diberikan kepada Yuna.

"Maaf, aku merepotkanmu. Padahal, kamu sudah sibuk dengan bayi kembarmu," ucap Yuna sambil menerima gelas berisi air. Ia meneguknya dengan pelan lalu diletakkan di atas meja.

"Tidak masalah. Mereka juga lagi asyik bermain," jawab Anisa. Diliriknya kedua bayi yang bermain di crib bayi yang berukuran lebih kecil dibeli Arfan seminggu lalu. 

Terdengar suara ketukan pintu, Anisa dengan langkah lebar menuju pintu pun membukanya. Sekar dan Aurel datang dengan penuh keringat. Anisa mempersilakan mereka masuk. Keduanya masuk lalu menemukan Yun duduk di sofa. Raut wajahnya memutih pucat dengan bibir dipaksa naik— seulas senyuman sebagai sapaan.

"Ayo, kami bawa ke rumah sakit sekarang. Belum ada pembukaan, kan? Kontraksi tadi emang bisa saja palsu, tapi tidak ada salahnya waspada." Aurel membantu Yuna berdiri lalu membopongnya bersama Sekar keluar rumah.

"Nis, kamu hubungi Yichen. Suruh bersiap-siap. Kami duluan, tidak apa kamu di sini sendirian?" Sekar menoleh seraya bertanya. Anisa menjawab tidak masalah.

"Lagian, ada si kembar. Bergegaslah, aku akan menyusul."

Sekar mengangguk paham. Ketiganya pergi meninggalkan Anisa, sedangkan Anisa segera bersiap-siap. Tak lupa ponselnya, ia langsung menghubungi Yichen. Begitu tersambung, Anisa dengan lantang berkata, "Tinggalkan pekerjaan sekarang! Yuna akan melahirkan! Pulanglah, aku dan Arfan akan membantumu mempersiapkan perlengkapan Yuna dan bayimu."

"Apa? Demi apa? Yang benar? Yuna—"

"Iya! Udah pulang saja, tidak usah banyak tanya!" Habis sudah kesabaran Anisa dengan Yichen yang mendadak labil. Anisa memmutuskan sambungan telepon dengan kesal membatin, Dia masih Yichen ku kenal, sih.

***
Beberapa jam kemudian, mobil melaju dengan kecepatan normal. Arfan fokus menyetir, Anisa duduk di kursi bagian belakang sibuk mengurus si kembar, dan Yichen dengan wajah berkerut terus komat-kamit. Arfan yang duduk disampingnya merasa terganggu pun berdecak kesal.

"Chen, berhentilah bersikap begitu. Dimas dan Dion kan sudah menyusul tadi. Lagian, bersyukurlah kamu karena red blood tidak mengejarmu jadi Yuna aman. Tidak seperti kami yang berakhir tragis, untung gak sampai mati," ujar Arfan.

Yichen mendelik tajam. Ia tahu maksud Arfan mencoba menenangkan dirinya, tetapi malah mulutnya itu memang lebih cocok bertutur kata dengan frontal daripada ucapan manis. Yichen tak menjawab. Lebih baik, diam daripada adu mulut sama bapak-bapak bermulut pedas.

Tak lama kemudian, rumah sakit mulai terlihat. Arfan berbelok ke kiri memasuki area parkiran rumah sakit. Setelah memakirkan mobil, ia turun lalu berjalan ke belakang mengeluarkan perlengkapan di bagasi.

"Woi! Bantuin napa! Kamu pikir ini gak banyak dan berat?" Arfan dengan sarkas berkata kepada Yichen.

"Iya-iya, bawel. Kamu sejak nikah jadi bawel, ya. Apa ini karena ketularan Anisa?" Yichen mengejek Arfan, tak lupa melirik Anisa yang keluar sambil menggendong bayi kembarnya.

Arfan sudah mengeluarkan kereta bayi pun membantu Anisa meletakkan kedua bayi tersebut ke kereta bayi. Setelah semuanya sudah selesai, mereka memasuki rumah sakit dan ke ruang ruang persalinan karena mendapat informasi Yuna sudah ada di sana.

***
"Ah, itu mereka. Di sini!" seru Dion sambil melambaikan tangan.

"Di mana Yuna?" tanya Yichen dengan wajah berkerut.

"Sampai berkerut tuh wajah. Rileks saja, dia di dalam sudah nungguin kamu. Sana masuk temanin, kami nunggu di sini. Selamat, ya, Bro. Sudah kayak Arfan jadi bapak-bapak sebentar lagi," jawab Dimas sambil menepuk pundak Yichen dengan pelan.

Yichen tak ingin berdebat pun hanya mengiyakan lalu memasuki ruangan bersalin. Di dalam para suster dan dokter serta Yuna menunggu. Dengan hati gugup dan jantung berdetak cepat tak karuan, Yichen berdiri disamping Yuna sambil berpegang tangan. Dalam hitungan, Yuna bekerja keras. Rasa sakit tak tertahankan dan pelu keringat membasahi pelipisnya. Dengan dorongan sekuat tenaga, perlahan dokter dan suster membantu persalinan. Tak lama, suara tangisan bayi memenuhi ruangan.

"Selamat, ya, bayinya sehat dan laki-laki." Suster berkata demikian sambil meletakkan bayi yang sudah dibalut kain berbahan lembut disamping Yuna.

Tanpa sadar, Yuna dan Yichen menitikkan air mata melihat bayi laki-laki yang sudah dinanti mereka. Namun, satu hal yang terpikirkan oleh Yichen. Tanggapan keluarganya soal Yuna dan anaknya. Ia sudah siap jika nasibnya berakhir seperti Arfan, tetapi orang tuanya bukanlah orang yang menyimpulkan begitu saja tanpa penjelasan darinya.

"Yichen, kamu mikir apa?" tanya Yuna sambil menatap Yichen dengan kebingungan.

"Bukan apa-apa. Jadi, kamu sudah memikirkan namanya?" Yichen dengan cepat mengganti topik lalu beralih bertanya nama anak mereka.

"Belum, bagaimana denganmu? Sudah terpikirkan?" tanya Yuna balik.

"Bagaimana dengan Ran Sheng? seseorang yang bangkit perlahan dari masa lalu kelam," jawab Yichen. Tatapannya menjadi lembut, Yuna yang melihat ketulusan dan makna nama tersebut pun mengiyakannya.

"Baik! Kita pakai nama itu. Selamat datang ke dunia, anakku, Han Ran Sheng. Kami akan menaburkan kasih sayang dan membukakan jalan serta menuntunmu, Nak."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Our BabyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang