Vote dan komen ya!
✈✈✈
Tira mengerjap dalam pejaman matanya terasa terang rupanya mentari pagi menembus dinding kelopak matanya menyebabkan terusiknya Tira dari tidur pulasnya. Tubuhnya serasa remuk, kepalanya masih terasa pening bahkan sendi di tubuhnya terasa kebas. Agaknya Tira seperti orang yang habis maraton saja. Bagaimana tidak? Kakinya gempor jalan jauh sekali sampai nyasar tengah malam pula. Belum saja kakinya kembaran sama talas bogor, ah untung saja kakinya tidak se-lebay itu.
Setelah meregangkan tubuhnya, menarik kaki dan tangannya secara berlawanan. Berganti matanya membuka luas mendapati tempat yang asing tapi suasananya enak sekali. Segar ya udara Spanyol. Eh iya, Tira ingat dia kan masih di Granada.
“Akhirnya kebonya bangun, saya kira kamu mati Ra”
“Loh kok bapak di sini?”
“Ini kan kamar saya”
“Terus kok saya bisa di sini pak?”
“Kemarin kamu ketiduran Ra”
“Hah? Kok saya ketiduran bukannya saya nyasar ya dan…”
“Dan kamu hampir jadi makanan tikus jalanan”
“Eh saya gak liat tikus kok kemarin pak, saya liatnya bule jahat”
“Kamu tuh kurang pengetahuan kata kiasan ya Ra?”
“Jangan sok tau pak, asal bapak tau nih nilai pelajaran bahasa Indonesia saya bahkan sembilan puluh pak”
“Tetep aja kamu sama bodohnya”
Mari kembali pada kenyataan. Kaenan tetaplah Kaenan. Anggap saja masa berbaik hati Kaenan sudah habis. Kembali pada sikap awal. Mengesalkan.
“Bapak gak macam-macamin saya kan?”
“Kamu hebat juga Ra”
“Loh maksudnya? Saya hebat apa? Emangnya saya kemarin ngapain pak?”
Aduh ini apa maksudnya? Tira hebat ngapain memangnya? Seingatnya dia kemarin menahan diri buat gak limbung saat para pria brengsek itu memacaminya. Mengingatnya hanya membuat Tira ingin meringis saja.
“Orang mabuk emang suka hilang akalnya Ra”
“Pak tolong ya jangan buat saya lebay ambigu”
Ya Tuhan Tira jadi cemas ini Kaenan jadi mencuri hati eh maksudnya mencurigakan. Masa iya ngadi-ngadi omongannya. Apa pria ini memacaminya kemarin. Seingat Tira dia mabuk kemarin dan Kaenan lah yang membopohnya pergi. Tapi Tira agak ragu sih bajunya sudah ganti dari yang terakhir pakai gaun yang robek akibat si brengsek kini dia pakai piyama satin sepertinya itu disediakan oleh hotel. Lalu siapa yang menggantikannya saat Tura tertidur?
Tira ingin terjun saja dari lantai atas hotel itu kalau sampai dia macam-macam dengan Kaenan. Uh ada sekelebat ingatannya tentang kejadian kemari malam. Yang mana dia sempat merancau begini omongannya.
“Pak saya mau mati ya”
“Ra gak lucu turun dari sana”
“Mereka jahat pak, aku benci kotor, mati aku perlu mati”
“Kamu turun dari sana atau saya-“
Belum sempat Kaenan rampungkan ucapannya, Tira sudah mau melompat tapi dengan sigap Kaenan raih tangan Tira menarik gadis itu hingga tubuhnya oleng dengan Tira menubruknya. Begini posisinya Kaenan terduduk di lantai balkon kamar sedang Tira berada di atasnya. Lebih tepatnya rebahan di dada bidang Kaenan.
Posisi yang begitu mengejutkan tapi gilanya Tira malah tidur selepasnya. Suara dengkuran halus terdengar berasal dari tidurnya Tira. Ah jangan lupa Tira juga memeluk Kaena erat hingga Kaenan membeku saja di sana. Benar-benar wanita yang penuh kejutan. Itu suara hati Kaenan saat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boss vs Pramugari
Romance"Dasar arogan!" "Kamu menghina saya?" Pramugari itu pelayan tapi dia juga punya hati. Jadi penumpang bukan berarti kamu rajanya ya bisa seenaknya. Bisa tidak hargai setiap profesi orang? published 3September2020
