Ceritanya panjang

6.7K 699 38
                                        

Naruto terpana untuk sesaat karena dia tahu bahwa dialah yang dipanggil 'ayah'. "Menma?" Ia mengulurkan tangan ke arah anak tersebut, bisa terlihat bahwa sentuhannya diharapkan, Naruto pun membelai lembut rambut hitam anak yang terbaring. "Ba-bagaimana badanmu?" Ia bertanya canggung sebab tak tahu harus bicara apa. Tak pernah ada ajaran 'cara berbicara dengan anakmu yang datang dari masa depan sementara kau masih hamil anak itu' 'kan?

Ternyata, 'Menma' menikmati sentuhannya. Nampak dari kedua matanya yang berbeda, jelas melembut bagaikan anak-anak yang tengah bersama orangtua atau orang kepeercayaan mereka. Bahkan, ia menggesekkan kepala manja ke tangan Naruto. "Sudah mendingan, Ayah," jawabnya pelan. "Cakraku sudah kembali," ia menengadah menatap Naruto namun ia melihat Sasuke di belakang Pirang Uzumaki. Mata mereka bertemu. Sasuke tak memperlihatkan emosi apapun di wajah. Ia tak banyak berbeda dari Naruto dalam hal 'bersikap di depan anakmu yang datang dari masa depan'.

Naruto bertanya ke Menma, "Apa kau ingat bagaimana kau—" terhenti, ia sadar perhatian telah dicuri oleh Sasuke. Naruto menaikkan satu alis menyaksikan perang tatapan antara Sasuke dan 'Menma'. Amat sangat canggung. "Eeem—"

WUSH!

Ada pergerakan cepat di saat bersamaan Naruto, Madara dan Tobirama merasakan peningkatan cakra 'Menma' yang muncul di belakang Sasuke dengan tinju mengudara.

"Sasuke!" Teriak Naruto.

Akan tetapi Sasuke sudah menghindar. Seolah telah memprediksi itu, Menma menyerang ke perut Sasuke. Melompat menjauh, Sasuke terus menghindari serangan Menma. Keduanya mengaktifkan Sharingan sebelum bertarung dengan tangan kosong. Yang lain berdiri dengan waspada. Nampak sangat jelas bahwa Sasuke hanya bertahan dan tak bermaksud melukai anak tersebut. Sementara, tujuan Menma adalah memukulnya sekuat tenaga jika kebencian di mata Sharingan dan Rinnegan-nya memancarkan kebenaran. "Masalah ayah-anak?" Hashirama mencoba bercanda. Naruto biasanya akan merespons kalau bukan terlalu sibuk melihat Sasuke dan 'Menma'. Ia sangat khawatir.

Dari gerakan 'Menma', jelas dia bukan tingkat Genin. Kecepatan dan gerakan penuh perhitungan merupakan bukti dari pengalaman yang terlihat di tingkat Chunin atau diatasnya. Terlepas dari kenyataan bahwa dia target, Sasuke terkesan dengan kemampuan 'Menma' sejauh ini. Akan tetapi, tipe bertarungnya sangat mirip dengan kakaknya, Itachi walaupun beberapa gerakan milik Naruto juga terlihat beberapa kali. Seolah 'Menma' diajari oleh Itachi dan Naruto dalam ilmu bertarung tapi bagaimana bisa begitu di masa depan karena Itachi sudah meninggal? Bahkan sebelum Perang Dunia Ninja ke-4 terjadi. Kenapa tak ada sedikitpun gerakan khas Sasuke mewarnai gerakan anak ini? Seolah Sasuke tak pernah mengajarinya apapun. Sasuke mengerutkan alis dalam. Bagaimana bisa terjadi jika 'Menma' benar-benar putranya dan Naruto? Tak masuk akal, pikir Sasuke.

Ketika ia melihat Susanoo berwarna toska mulai terbentuk di sekitar badan anak itu, Sasuke hampir mengeluarkan Susanoo Ungu tapi tak jadi karena Naruto berteriak, "MENMA!"

Semua mata terarah ke Naruto yang sudah memasuki Kurama Chakra Mode 2, menatap dengan alis bertaut ke 'Menma' yang terkesiap. "Berhenti menyerang Sasuke," Naruto memarahi anak itu.

"Tapi, Ayah—!"

"Menma," Naruto menekankan nadanya bahwa dia tak main-main.

Merengut, mata 'Menma' kembali jadi biru di sebelah kiri dan duduk di tatami (tikar Jepang) seketika itu juga. Sasuke menegakkan punggung, menatap ke Naruto sebelum berkata, "Aku bisa menanganinya sendiri, Naruto." Walaupun tak lagi bersinar kekuningan seperti tadi, pelototannya memiliki intensitas yang sama. "Tidak, kau tidak akan berhenti. Kau tadi juga hampir menggunakan Susanoo 'kan? Kau menikmati bertarung dengannya dan berharap melanjutkannya, 'kan?" Sasuke memalingkan muka tanpa membantah. Naruto mendengus menang.

Kesempurnaan WaktuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang